Sunday, August 30, 2015

Book Review : The Book of Names by Jill Gregory & Karen Tintori

No comments
Dalam setiap generasi, ada tiga puluh enam jiwa-jiwa berbudi.
Nyawa mereka adalah kunci bagi takdir dunia.
Sekarang seseorang menginginkan mereka mati!

Sinopsis
Saat tragedi masa kecil kembali menghantui Prof David Sheperd, ia mendapati dirinya memiliki pengetahuan yang bisa mempertahankan dunia dalam keseimbangan yang rapuh. Dia menemukan Kitab Nama-Nama - sebuah teks kuno yang berasal dari Kitab Suci Adam, dan dianggap hilang untuk selamanya.

Kitab itu berisi nama-nama dari setiap generasi dari jiwa-jiwa yang berbudi, dan hanya dengan kebaikan mereka dunia ini tetap ada. Menurut legenda, jika 36 jiwa yang tersembunyi ini dihapus, dunia akan segera berakhir.

Ketika nama-nama yang tersembunyi ini mulai sekarat karena sebab-sebab yang tidak alamiah, dunia berubah menjadi tidak stabil, perang di Afganistan, banjir besar di New York, serangan teroris brutal di Melbourne dan ledakan tanker di Iran. David mendapati dirinya berperang melawan Gnoseos, sebuah sekte keagamaan rahasia yang tujuannya adalah merusak dunia dengan cara membinasakan jiwa-jiwa berbudi tersebut. Keterlibatan David menjadi pribadi saat ia menemukan nama putri tirinya adalah salah satu nama yang ada dalam bahaya.

Kini David berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang berbudi, putri tirinya, dan mungkin juga... dunia!


Identitas Buku
Judul : The Book of Names
Judul Terjemahan : Kitab Nama-Nama
Penulis : Jill Gregory & Karen Tintori
Penerjemah : Rosida Irshad
Kategori : Fiksi, Thriller, Misteri, Agama, Petualangan, Kriminal
Tebal : viii + 389 Halaman
ISBN : 979-16124-8-X
Penerbit : Onread-Books Publisher
Softcover, Cetakan Pertama, Maret 2008
Rate : 4/5

Review
Seorang arkeolog terkenal bernama Sir Rodney Davis, merasa sangat gembira ketika ia berhasil menemukan sebuah gulungan tua yang ternyata adalah perkamen lontar yang merupakan Kitab Nama-Nama yang diburu banyak orang. Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sekejap saja ia rasakan karena bersamaan dengan waktu ia menemukan gulungan perkamen itu, ia juga merasakan cekikan kuat dari kawat disekeliling lehernya, sampai akhirnya nafasnya terputus. Ia meninggal seketika itu juga. Dengan seringai licik, Raoul LaDouceur meninggalkan mayat Sir Rodney yang baru saja dibunuhnya. Raoul sendiri adalah asisten Sir Rodney Davis, selama belasan tahun terakhir. Sementara Sir Rodney Davis terbunuh di kota Saqqara, Mesir, di tanggal, bulan dan tahun yang sama yaitu 7 Januari 1986 di tempat yang berbeda, yaitu di Rumah Sakit, Connecticut, Dr. Harriet Gardner sedang bersantai ketika ia mendapat panggilan dari unit gawat darurat mengenai tiga pasien yang harus ia tangani segera. Ketiga pasien darurat itu adalah anak-anak yang masing-masing bernama Abby Lewis, Crispin Muller (putra dari Erik Muller, duta besar dari Swiss), dan David Shepherd (putra dari Senator Robert Shepherd dari Amerika). Mereka terluka parah. Setelah berjuang keras selama beberapa jam, akhirnya ketiganya dapat diselamatkan dari kematian. Meskipun selamat, namun Abby Lewis harus menderita cedera fisik yang bisa dipastikan akan bisa segera pulih, sementara itu, Crispin Muller mengalami koma, sedangkan David Shepherd yang sebelumnya dinyatakan meninggal, beberapa saat setelah dinyatakan demikian ia kembali menunjukkan bahwa jantungnya berfungsi kembali.

Di suatu hari tahun 2005 di Universitas Georgetown, Washington DC. Profesor David Shepherd sedang menyantap makan siangnya ketika tiba-tiba saja mengalami kejadian aneh, tanpa ia sadari ia menuliskan sebuah nama, Beverly Panagoupolos. Ia tidak tahu mengapa ia bisa menuliskan nama tersebut, ia juga tidak mengenal nama itu. Sebenarnya kejadian seperti itu bukanlah yang pertama baginya. Dalam perjalanan pulang, David mendengar lewat radio bahwa saudara perempuan Perdana Menteri Yunani bernama Beverly Panagoupolos ditemukan tewas terbunuh secara mengenaskan satu jam sebelumnya. Menurutnya, itu kira-kira terjadi tepat saat ia sedang makan siang tadi, ketika ia tanpa sengaja menuliskan nama tersebut.

Sesampainya dirumah, dengan sedikit ketakutan yang tidak ia pahami David membongkar lemari arsipnya dan mencari buku Jurnal miliknya, sebuah buku dengan tebal 145 halaman yang berisi nama-nama yang ia tulis sejak ia mengalami "bangkit" dari kematian setelah mengalami kecelakaan fatal di masa kecilnya. Dalam jurnalnya tersebut, nama Beverly Panagoupolos telah ia tulis pada tanggal 7 Oktober 1994. 

Kemudian David mengetikan nama-nama lain yang juga tertulis dalam jurnal tersebut dalam mesin pencarian di internet. Hasil pencarian tersebut menghasilkan informasi yang berisi bahwa orang-orang dengan nama-nama itu telah tewas dengan berbagai macam sebab.

Kepada sahabatnya, seorang Pendeta bernama Dillon McGrath yang juga pimpinan Departemen Teologia Universitas Georgetown, David bercerita tentang kondisinya yang pernah "meninggal" saat ia berusia 13. Lalu setelah ia melewati sebuah "terowongan cahaya" ia kemudian dinyatakan hidup kembali. Saat ia berusia 15 tahun, dua tahun setelah peristiwa tersebut, dimulailah pemunculan nama-nama di benaknya, yang kemudian ia tuliskan pada sebuah jurnal. Mendengar kondisi yang dialami sahabatnya, Pendeta Dillon McGrath yang nampak sangat memahami apa yang dirasakan oleh sahabatnya, kemudian menyarankan David agar berkonsultasi pada seorang ahli hipnoterapi kenalannya, Alex Dorset.

Mendengar saran dari sahabatnya, David menolaknya. Namun mendengar nasehat lebih lanjut dari sahabatnya, akhirnya David menemui Alex Dorset. Hasilnya cukup mengejutkan, dari pertemuan pertama nya saja dengan Alex Dorset, David dapat mengingat sesuatu saat ia merasa tengah melewati "Lorong Cahaya" tersebut. Saat itu, ia mendengar sebuah seruan berbunyi "Zakhor". Dengan Dillon yang selalu menemaninya, Dillon mengatakan bahwa kata tersebut memiliki arti "Ingat" dalam bahasa Ibrani. Ini berarti, menurut Dillon, David memang "diminta" untuk mengingat nama-nama yang muncul di pikirannya.

David semakin bingung dan khawatir ketika ia membaca-baca jurnalnya, disana ia juga menemukan nama putri tirinya, Stacy Lachman.

Dengan meminta bantuan Dillon, David ingin mencari tahu lebih dalam makna dari apa yang ia alami tersebut. Mengingat dalam beberapa bagian bahwa hal tersebut berkaitan dengan bahasa Ibrani, maka Dillon mengajak David untuk menemui Rabi Eliezer ben Moshe, seorang ahli Kabbalah (guru besar tradisi mistik Yahudi). Berbekal jurnal berisi nama-nama serta batu tua yang merupakan milik Crispin Mueller yang tertinggal saat terjadi kecelakaan yang pernah membuatnya koma, David menemui Rabi Eliezer ben Mose dikediamannya. Penjelasan yang diterimanya dalam pertemuan tersebut membuat David terkejut karena batu tua yang tampak biasa-biasa saja dan ia simpan selama ini, ternyata diyakini merupakan salah satu dari duabelas batu yang menghiasi baju penutup dada yang dikenal dengan sebutan 'Baju Pengadilan' milik Aaron, sang pendeta tinggi, saudara Nabi Musa. David semakin terkejut ketika ia mendapat penjelasan bahwa nama-nama yang ia tulis pada jurnalnya, juga tertulis pada papirus kuno yang ditemukan di Timur Tengah, suatu jurnal kuno yang dikenal sebagai Kitab Nama-Nama.

Kitab Nama-Nama tersebut dituliskan pertama kali oleh Adam yang kemudian diwariskan secara turun-temurun pada keturunan mereka bahkan pada Nabi Musa yang telah ditunjuk oleh Allah untuk membebaskan "anak-anak" keturunan Israel menuju Tanah Perjanjian.

Mendengar penjelasan demikian dari Rabi Eliezer ben Mose, dengan lantang, David menyatakan sama sekali tidak percaya dengan semua itu.

Dengan sabar, Rabi Eliezer ben Mose kemudian menjelaskan kembali dengan singkat tentang Kitab Nama-Nama. Selama bertahun-tahun, kitab tersebut berada di tangan Isaac, salah satu putra Abraham, dan disimpan di Kuil Valult di Yerusalem. Hingga pada sekitar 70SM, kitab itu dirampas oleh bangsa Romawi. Sejak itu kitab tersebut menghilang beserta peninggalan-peninggalan lain, termasuk "Baju Pengadilan" milik sang Pendeta Tinggi. Sampai akhirnya para arkeolog menemukan salinan naskah Kitab Nama-Nama milik Ishmael, yakni putra Abraham lainnya. Saat ini, papirus inilah yang sekarang sedang digali dan diteliti oleh para pengikut-Nya. Namun mereka harus berlomba dengan waktu untuk memperoleh kelengkapan artefak suci tersebut, dikarenakan keterlibatan pihak lain yang bertekad pula memperoleh Kitab Nama-Nama namun dengan tujuan yang berbeda. Adapun pihak lain itu dikenal dengan Kelompok Gnoseos, suatu komunitas rahasia masyarakat yang secara turun-temurun memeluk agama kepercayaan yang disebut Gnostik.

Mendengar itu semua David mulai sedikit percaya, meskipun ia tetap belum merasa benar-benar yakin. Ditengah pertemuan itu, datang Yael Harpaz, seorang arkeolog wanita yang tergabung dalam persekutuan yang bertugas melacak serta mengamankan peninggalan-peninggalan suci. Beberapa saat kemudian, apa yang baru saja dijelaskan oleh Rabi yang sangat diragukan oleh David terbukti secara nyata. Kediaman Rabi ben Moshe mendapat serangan mendadak dari sekelompok orang yang memiliki julukan "Malaikat Kegelapan", mereka adalah utusan Kelompok Gnoseos. Para "Malaikat Kegelapan" ini tidak segan-segan membunuh siapa pun yang dianggap menghalangi tugas mereka.

Dengan bantuan Yael, David berhasil menyelamatkan diri membawa serta jurnalnya namun mereka tidak berhasil menyelamatkan Rabi ben Moshe.

Kaget dan bingung dengan apa yang baru saja dialaminya, David menuntut penjelasan lebih lanjut pada Yael, terutama mengapa para pengikut Gnoseos memburu mereka. Penjelasan singkat yang diberikan Yael membuat David semakin kaget. Karena dari penjelasan Yael, nama-nama yang tercantum dalam papirus kuno, yang juga sama dengan nama-nama yang tertulis dalam jurnal David merupakan nama-nama orang-orang khusus dan jarang, dimana keberadaan mereka di dunia diperuntukkan untuk menjadi keseimbangan kehidupan di dunia.

Bersumber dari Kitab Talmud (kitab yang membahas komentar para nabi tentang Kitab Perjanjian Lama) disebutkan bahwa di setiap generasi dunia pasti terdapat 36 orang-orang budiman yang diberkahi oleh Shekhinah dan mereka ini disebut "LamedVovniks", yaitu orang-orang spesial dimana jiwa mereka telah mencapai tingkat spiritual tertinggi dan kebaikan hati mereka yang membuat Tuhan dapat menjaga keberadaan dunia.

Adapun tujuan para pengikut Gnoseos memburu dan membunuh setiap nama yang tercantum di dalamnya itu adalah untuk menimbulkan kekacauan besar di dunia hingga akhirnya mereka dapat mengalahkan kekuasaan Tuhan.

Dari penjelasan Yael, David mulai benar-benar percaya dengan semua penjelasan Rabi ben Moshe. Iapun sadar betapa serius serta besarnya bahaya yang mengancam dirinya juga keluarganya. Untuk melindungi orang-orang yang sangat ia sayang, dari kemungkinan serangan kelompok "Malaikat Kegelapan", David meminta bantuan temannya untuk menjemput mantan istri serta putrinya, Meredith serta Stacy untuk bersembunyi di tempat aman sambil menunggu kedatangan dirinya untuk menjemput mereka. Sayangnya, sebelum David berhasil menemui dan menjaga mereka, justru ketiga orang yang amat ia sayangi itu menghilang. Tidak hanya itu, musuh tersembunyi nya juga berhasil membuat David menjadi seorang tersangka pembunuhan.

Mengetahui bahwa dirinya berada dalam perangkap sebuah konspirasi, David bekerja membantu penelitian lebih lanjut tentang "LamedVovniks"sebagai satu-satunya jalan untuk melawan musuh, terutama demi menyelamatkan Stacy yang akhirnya jatuh ke tangan musuhnya.

Berangkatlah David menuju Yerusalem, dengan bantuan kelompok peneliti di kediaman Yael, David berusaha menemukan kunci yang dapat membantu penyelamatan sisa dari ke-36 nama yang masih hidup. Berburu dengan waktu, mereka semua tanpa istirahat bekerja membongkar misteri dari kode-kode rahasia pada salinan papirus.

Disaat David hampir menyerah, datanglah sebuah  "undangan" tak terduga suara dari kegelapan yang "mengundang" kedatangan David dalam pertemuan puncak Gnoseos sedunia di jantung kota London. Hingga akhirnya, tanpa disadari mereka semua terlibat dalam peperangan yang mengerikan, perang melawan orang-orang yang berniat menghancurkan dunia semata-mata demi kemuliaan kelompoknya sendiri.

Demi orang-orang yang dicintainya, David harus menjelajahi hampir seluruh pelosok dunia. Namun, apa yang dapat ia lakukan, saat ia harus berhadapan dengan konspirasi besar yang tak hanya telah dirancang untuknya tetapi juga konspirasi tersebut melibatkan pula para pemuka agama serta pejabat tinggi pemerintahan. Bahkan David tidak tahu harus mempercayai siapa saat orang-orang yang dianggap sahabat justru menjerumuskannya dalam masalah yang besar. Tidak hanya itu, sebagian besar masalah yang dihadapinya disebabkan oleh kenalan lamanya yang bangkit dari kematian. Dimana seseorang tersebut memiliki tekad yang begitu kuat telah ia rencanakan yaitu menghancurkan David Shepherd.

Ditengah segala bentuk kesulitan yang diciptakan untuknya, berhasilkah David menyelamatkan orang-orang yang dicintainya?

Dari sejak halaman pertama, bahkan dari sinopsis yang tertulis di bagian belakangnya saja, buku ini langsung sukses membuat saya terpikat. Dengan karakter tokoh-tokoh yang meyakinkan serta kombinasi plot cerita yang cepat dan penuh intrik, menjadikan buku ini sebagai sebuah thriller yang asyik untuk dibaca. Tidak hanya itu, dengan setting tempat yang ditulis dengan detail, The Book Of Names juga telah mengajak saya berkeliling berbagai benua dan negara. Khususnya bagi para pecinta thriller, saya sangat merekomendasikan buku ini dan umumnya bagi siapapunn yang ingin merasakan cengkeraman sebuah buku yang akan membuatmu tegang dan menggigil yang hanya akan melepaskanmu jika kamu sudah selesai membaca hingga halaman terakhirnya.

Two thumb up untuk karya hasil duet Jill Gregory & Karen Tintori.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

No comments :

Post a Comment