Book Review : The Eternity by Douglas Preston & Lincoln Child

Misteri Berusia Ratusan Tahun Kembali Terkuak, Puluhan Orang Tewas Mengenaskan Demi Obsesi Keabadian Untuk Memusnahkan Umat Manusia....

Misteri Berusia Ratusan Tahun Kembali Terkuak,
Puluhan Orang Tewas Mengenaskan
Demi Obsesi Keabadian
Untuk Memusnahkan Umat Manusia...

Sinopsis
Manhattan, New York, tahun 1870-1880. 36 pria dan wanita tewas dimutilasi. Mereka dibedah dalam keadaan hidup untuk diambil cauda equina-nya (kumpulan saraf di sumsum tulang belakang) pelakunya adalah seorang ilmuwan eksentrik, Enoch Leng, yang ingin menciptakan ramuan keabadiaan guna melancarkan misinya untuk memusnahkan umat manusia.

Di masa kini, tubuh ke-36 korban tersebut ditemukan disebuah terowongan kuno abad 19 di bawah fondasi sebuah gedung apartemen baru. Selagi penyelidikan dilakukan, serangkaian pembunuhan baru terjadi. Tiga orang ditemukan tewas. Tulang belakang mereka dibedah. Cudia Equina mereka hilang. Modus operandi dan ciri-ciri fisik pembunuh baru ini sama dengan Enoch Leng!

Agen FBI Pandergast dan arkeolog DR. Nora Kelly terlibat aksi kejar-mengejar dengan si pembunuh. Mereka harus segera menyingkap identitas si pembunuh ini, apakah orang yang sama dengan pelaku mutilasi ratusan tahun yang lalu, sebelum banyak orang menjadi korban untuk menyempurnakan ramuan keabadiannya...


Identitas Buku
Judul : The Eternity
Judul Asli : The Cabinet of Curiosities (Pendergast #3)
Penulis : Douglas Preston & Lincoln Child
Penerjemah : Syamsul Wardi
Kategori : Fiksi Ilmiah, Thriller, Horor, Suspense, Misteri, Adventure, Detekrif
Dimensi Buku : 624 halaman, 14x21 cm
ISBN : 9789793972381
Penerbit : Dastan Books
Softcover, Cetakan Pertama, Juli 2008
Harga Beli : Rp. 74.500 (Desember 2009)
Rate : 5/5
Review
Pertama-tama, mari saya kenalkan dahulu dengan para karakter utama dalam buku ini. Ada tiga karakter utama yaitu, Agen Khusus Pendergast, Dr. Nora Kelly dan William Smithback.

Agen khusus Pendergast yang menjadi tokoh utama dari buku ini, digambarkan sebagai seorang agen FBI yang terkenal cerdas dan juga kaya. Dengan penampilan yang selalu rapi, bersih, mewah dan berkelas seperti selalu mengenakan setelan jas mahal, makan di restoran kelas 1 dan menggunakan kendaraan mewah Rolls Royce besar lengkap dengan sopirnya, hal tersebut menjadi gabungan yang kurang umum dari seorang agen FBI.

Dua tokoh lainnya, yaitu Dr. Nora Kelly, digambarkan sebagai seorang ilmuwan cantik, seksi dan pintar. Namun sayangnya ia memiliki riwayat karier yang agak berantakan. Sedangkan William Smitback, Jr adalah kekasih Dr. Nora Kelly, ia berprofesi sebagai seorang reporter New York Times.

Cerita dimulai dengan adanya penemuan tak terduga di suatu area konstruksi bangunan yang dimiliki oleh Moegen-Fairhaven Group. Dari penemuan tersebut, ditemukan sebuah terowongan bawah tanah, dimana didalamnya terdapat tulang belulang tubuh manusia. Penemuan tersebut seharusnya tidak diketahui oleh khalayak umum, bahkan timbul kesan sengaja ditutupi demi kelangsungan proyek pembangunan apartemen milik Moegen-Fairhaven Group tersebut.

Pihak Moegen-Fairhaven Group berhasil mendapat dukungan dari pihak kepolisian untuk menutup penemuan tersebut, namun mereka dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang bernama Pendergast, seorang Agen Khusus FBI dari cabang New Orleans. Ia memiliki ketertarikan khusus akan latar belakang kasus itu dan mengusutnya hingga tuntas. Bahkan ia juga melibatkan Dr. Nora Kelly, seorang arkeolog dari Museum Sejarah Alam New York untuk membantu penelitian atas tulang belulang yang ditemukan.

Hasil penelitian Pendergast dan Dr. Nora Kelly beserta timnya menunjukkan bahwa tulang belulang tersebut merupakan peninggalan dari korban pembunuhan sadis dan aneh. Para korban tersebut, yang diketahui berjumlah sebanyak 36 orang, didalamnya ada pria dan juga wanita) menunjukkan bahwa mereka telah dimutilasi dan bagian cauda-equina, yang merupakan kumpulan saraf di sumsum tulang belakang telah diambil melalui pembedahan yang nampak dilakukan oleh ahli yang profesional. Dari hasil penelitian ini diketahui pula bahwa para korban besar kemungkinan berasal dari abad ke-19. Hal ini diketahui dari dari cara jenis pakaian yang masih tersisa disekitaran penemuan tulang belulang tersebut. Namun pengamatan di lokasi hanya dapat dilakukan sebentar, dikarenakan pengaruh kekuasaan Anthony Fairhaven pemilik dan pendiri Moegen-Fairhaven Group yang mampu menekan serta menyingkirkan penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Pendergast dan Dr. Nora Kelly.

Tidak hanya sisa-sisa pakaian, Dr. Nora Kelly juga pernah menemukan secarik kertas tua yang dijahitkan di dalam pakaian salah satu korban. Ia sangat tertarik mengambil dan menelitinya. Dibantu oleh kekasihnya William Smitback, Jr, ia berhasil mengambil pakaian yang sempat disembunyikan sebelum ia dan Pendergast diusir dari lokasi. Kertas tersebut bertuliskan : "Saya Mary Gree Ne umur 19 tahun No. 16 Watter Street"

Lagi-lagi, penemuan tersebut sangat mengejutkan Dr. Nora Kelly karena diketahui bahwa tulisan tersebut ditulis menggunakan darah manusia. Ia menduga, bahwa gadis ini merupakan salah satu korban pembunuhan berantai yang telah berlangsung sejak 150 tahun yang lalu.

Pendergast yang dikenal cerdas namun misterius itu ternyata mengetahui suatu fakta. Dari yang ia ketahui, terowongan bawah tanah tempat lokasi ke-36 korban ditemukan, dulunya merupakan terowongan batu bara untuk pemanas ruangan bangunan tiga lantai yang dikenal sebagai Shottum's Cabinet. Pendirinya adalah John Canaday Shottum yang pada tahun 1852 membuka secara resmi J.C. Shottum's Cabinet of Natural Productions & Curiosities yang menampilkan koleksi cabinet of curiosities (koleksi sejarah alam berupa kumpulan artefak-artefak sepanjang abad ke-18 dan ke-19) yang dimiliki oleh Alexander Marysas, pemuda kaya yang memburu dan melakukan ekspedisi ke penjuru dunia sejak tahun 1848 sampai ia meninggal dunia di Madagaskar. Pada tahun 1881, Shottum's Cabinet habis terbakar dan pendirinya, John Canaday Shottum sendiri tewas dalam peristiwa kebakaran itu. Pihak berwajib mencurigai bahwa kebakaran tersebut disengaja, namun hingga kini tidak ditemukan siapa pelakunya. Diduga kuat bahwa ke-36 korban tewas dalam periode waktu tersebut memiliki hubungan erat dengan Shottum's Cabinet, yang kini menyisakan bukti berupa tulang belulang dari para korban.

Penyelidikkan yang dilakukan Nora Kelly dan Pendergast terus mendapat banyak hambatan. Mulai dari Roger Brisbane III, Vice President Museum Sejarah Alam New York, salah satu orang yang tidak disukai Nora karena telah memotong dana bagi penelitiannya, hingga tekanan dari pihak Kepolisian yang menugaskan Sersan Patrick Murphy O'Shaughnessy guna mengawasi dan mengawal Agen Pendergast dalam penyelidikan. Yang tak diduga, bahkan oleh Kapten Custer Kepala Polisi yang memiliki ambisi tinggi adalah Sersan O'Shaughnessy justru bekerja sama dengan Pendergast dan Nora Kelly menyelidiki kasus tersebut.

Tekanan dan hambatan semakin bertambah karena ulah ceroboh Smithback yang tidak mampu menahan rahasia yang pernah diungkapkan oleh kekasihnya, Nora. Smithback memuat berita dengan topik yang menyudutkan Anthony Faihaven atas ditutupinya penemuan korban-korban di area situs konstruksinya. Akibat dari kehebohan berita itu membawa dampak bagi masing-masing pihak. Hingga Nora marah dan kemudian memutuskan hubungannya dengan Smithback, dimana ia terjepit akan rasa penasaran atas penyelidikan yang tengah berjalan, dan resiko kehilangan pekerjaan, apalagi saat Dr. Frederick Watson Collopy Direktur Museum turun tangan memberikan peringatan serta pilihan yang tak dapat ditolak oleh Dr. Nora Kelly demi kelangsungan masa depan karirnya.

Di sisi lain, penyelidikan mulai menunjukan arah yang lebih jelas berkat bantuan Reinhart Puck petugas Arsip Museum, yang memberikan bukti surat-menyurat antara J.C. Shottum dengan Tinburry McFadden (kurator Museum pada abad itu). Diantara isi surat-surat tersebut disinggung tentang seseorang yang bernama Dr. Enoch Leng. Beliau menyewa lantai tiga dari Shottum's Cabinet dan bertugas sebagai kurator sekaligus peneliti arsip bagi Shottum's Cabinet. Namun ditemukan pula surat-surat yang disembunyikan di tempat rahasia dari Shottum kepada McFadden, yang mengindikasikan bahwa Enoch Leng-lah yang bertanggung jawab atas ke-36 korban yang telah ditemukan. Bahkan diketahui bahwa korban-korban pembunuhan Dr. Enoch Leng jauh lebih banyak karena bertahun-tahun ia berusaha menyempurnakan penelitian akan kehidupan lebih lama bagi manusia melalui pengambilan cauda equina manusia lain yang diambil lewat pembedahan saat korban dalam keadaan masih hidup.

Dr. Nora Kelly menjadi sangat ketakutan dan tertekan saat terjadi pembunuhan dimana korbannya ditemukan tewas dengan cauda equina hilang lewat pembedahan yang nampak dilakukan dengan sangat ahli.

Apakah mungkin Dr. Enoch Leng masih hidup setelah sekian ratus tahun dan sekarang memburu korban baru? Ataukah ada "Dr Enoch Leng" yang lain tengah melakukan hal serupa yang seperti yang dilakukanDr. Enoch Leng di masa lalu?

Sementara itu, Pendergast nyaris tewas karena percobaan pembunuhan. Dr. Nora Kelly semakin merasa ketakutan dan khawatir, ia sadar bahwa ada yang juga sedang mengincar nyawanya saat ia juga nyaris tewas setelah menemukan tubuh Reinhart Puck tewas dalam keadaan mengenaskan.

Sedangkan Smithback pun demikian, demi obsesinya untuk mengungkapkan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Anthony Fairhaven, berusaha mengorek masa lalu sang penguasa tanpa menyadari nyawanya turut terancam.

Namun tak ada yang menduga akan tindakan Sersan O'Shaughnessy yang diam-diam penasaran dengan percobaan pembunuhan terhadap Pendergast, dan penyelidikannya yang menentang atasannya juga akan membawa nasibnya pada masa depan yang tak terduga.

Korban baru terus berjatuhan, semuanya mengarah pada jejak perbuatan Enoch Leng di masa lalu bahkan benar-benar mirip. Hanya seorang yang mampu merangkai keseluruhan teka-teki yang mengerikan serta menelusuri jejak berusia 150 tahun silam, karena hal tersebut berhubungan dengan masa lalu keluarganya, suatu sejarah kelam yang sengaja disembunyikan, dan orang itu adalah Pendergast.

Pendergast yang saat sedang dalam keadaan terluka parah, harus menempuh jalur yang berbeda demi menuntaskan permasalahan ini, karena si pembunuh semakin lama semakin cepat menyelesaikan daftar nama para korban pilihannya. Korban demi suatu kehidupan baru yang abadi bagi si pembunuh.

Berhasilkah Pendergast menguak misteri pembunuhan sadis yang sudah berlangsung sejak 150 tahun lalu itu?

Kelebihan dan Kekurangan
Secara fisik, jangan ditanya. Saya suka!! Kualitas kertas jilidnya, bagus. Terkesan mewah. Dan meskipun ukuran hurufnya kecil dan agak-agak berdempetan, entah mengapa asyik aja lho bacanya. Tidak membosankan, tidak membuat mata lelah.

Dari segi cerita, dengan menggunakan alur maju-mundur-maju, (maksudnya, secara umum buku ini menggunakan alur maju tapi ada flashbacknya juga saat bercerita tentang Dr. Enoch Leng di tahun 1980 terus cerita berlanjut lagi masa kini) unsur ketegangan merupakan yang utama pada buku ini. Hampir setiap babnya, jujur saja membuat saya tegang dan ketakutan saat membacanya, apalagi jika sudah berhubungan dengan si pembunuh, ditambah dengan penjabaran yang sangat detail, saya merasa bisa membayangkan dengan jelas tentang taman New York, Museum, kantor polisi, dan terowongan tempat belulang itu di temukan.

Selain diajak menelusuri pembunuhan berantai dari sejak tahun 150 yang lalu, yang penuh misteri, dan hiburan karena tempat-tempat yang menjadi setting cerita dituliskan dengan detail jadi merasa dapat bonus jalan-jalan di New York, dari buku ini saya juga jadi belajar banyak ilmu biologi, kedokteran, obat-obatan dan hal-hal ilmiah lainnya. Pokoknya buku ini keren.

Hasil karya duet antara Douglas Preston dan Lincoln membuat buku ini benar-benar memiliki gaya penulisan yang sangat berbeda dengan penulis-penulis lain di genre yang sama yang pernah saya baca. Menggunakan bahasa EYD dengan benar, menjadikan hasil terjemahanannya sangat enak dibaca.

Kekuranganya.... cuma dua. Pertama, tidak ada penjelasan apa maksud sesungguhnya dari upaya keabadian yang dibuat oleh Dr. Enoch Leng. Kedua, ternyata buku yang berjudul asli The Cabinet of Curiosities ini merupakan buku ketiga dari lima buku seri Pendergast,


Iya betul, saya kekurangan buku-buku lainya!!!

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

You Might Also Like

3 Comments