Saturday, August 8, 2015

Book Review : Only Love by Erich Segal

No comments
Erich Segal. Saya memiliki beberapa buku karyanya. Namun, Only Love adalah buku pertama karya beliau yang saya baca.



Sebelumnya saya malah tidak ingat kalau saya punya buku ini. Ukurannya yang kecil mungil dan tipis pula, membuatnya tidak kelihatan saat saya menyimpannya dalam tumpukan buku-buku yang belum saya baca. Eh, tumpukan??? Widiiih.... memang seberapa banyak sih buku-buku yang belum dibaca? Makanya, kalau sehabis beli buku itu di baca!! Jangan cuma disampul, dirapihin di lemari buku, abis itu udah deh... dibiarin gitu aja.... Hhhhh... hahaha...

Oh iya, kemarin saya hanya butuh 4 jam saja untuk membaca buku ini, dari jam 4 subuh sampai jam 8 pagi. Eh gak full 4 jam sih, karena kepotong Sholat subuh, lalu baca, kepotong lagi bersihin rumah, mandi sebentar terus lanjut baca deh sampai selesai. Penasaran gimana ceritanya? Kita mulai dari sinopsisnya dulu yaa...

Sinopsis
Matthew Hiller adalah seorang dokter dengan reputasi yang prima dan praktek yang sukses. Kemudian seorang laki-laki kaya meminta bantuannya, sebagai usaha terakhirnya untuk menyelamatkan istrinya yang cantik, Silvia, dari tumor otak yang mengancam usianya yang masih muda.

Namun bagi Matthew Hiller ini akan merupakan lebih daripada suatu tantangan di dunia kedokteran yang ditekuninya –ini akan merupakan tantangan emosi terbesar dalam hidupnya. Karena ia dan Silvia pernah bertemu dulu, sebagai dua orang dokter idealis yang pergi ke Afrika untuk menyembuhkan mereka yang sakit di bawah kondisi yang paling mengenaskan dan memprihatinkan. Matthew masih ingat dengan jelas bagaimana suasana pertemuan pertama mereka di Paris –serta peristiwa-peristiwa yang menyedihkan setelah itu. Dan ia juga tahu bahwa kesempatan hidup yang kedua bagi Silvia bisa berarti kesempatan kedua bagi cinta mereka.

Review
Matthew Hiller adalah seorang dokter ahli yang memanfaatkan keilmuan terkait replika DNA dalam menghentikan bahkan menekan pertumbuhan sel kanker.

Suatu hari, Matthew diberitahu oleh asistennya bahwa siang itu ia punya janji dengan seseorang. Saat itu, dia tidak mengetahui tentang siapa tamu yang ingin bertemu secara khusus dengannya itu. Ia hanya mengetahui bahwa istri dari orang yang akan ia temui itu mengidap kanker.

Waktu pertemuan itupun tiba. Tidak disangka Matthew sebelumnya, bahwa pria yang ingin menemuinya itu adalah Rinaldi beserta istrinya. Mr. Rinaldi adalah seseorang yang pernah bahkan masih ia benci. Matthew merasa karena Mr. Rinaldi lah semua harapan-harapan indah di masa mudanya bersama seorang perempuan yang sangat ia cintai, hancur. Ditengah rasa tidak nyaman bertemu dengan Rinaldi, Matthew berusaha untuk tetap ramah menerima Rinaldi dan istrinya. Ia juga merasa canggung, kaget, sekaligus bahagia karena akhirnya bisa melihat kembali perempuan yang pernah sangat dekat dengannya di masa lalu. 

Sesosok perempuan yang meskipun kini sudah tidak muda lagi, bahkan tengah mengidap sakit keras, di mata Matthew tidak ada yang berubah dari perempuan itu. Ia masih tetap seperti sosok yang ia kenal dulu. Sesosok perempuan cantik dengan binar mata yang bening dan berparas lembut. Perempuan yang berangkat bersamanya ke Eritrea dalam misi kemanusiaan. Perempuan yang selalu menghabiskan banyak waktu dengannya. Perempuan yang pernah membuatnya merasa sangat bahagia. Perempuan yang pernah merencanakan masa-masa tua indah bersamanya. Perempuan yang ia yakini akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Perempuan itu adalah Silvia, istri sang miliarder, Rinaldi.

Flashback kisah kehidupan Matthew dan Silvia pun dimulai.

Saat masih muda, Matthew yang juga seorang pianis memiliki saha bat sekaligus partner bermusik bernama Evie. Seiring kedekatannya dengan Evie, Matthew pun sempat merasa jatuh hati kepadanya. Namun, semua tidak seperti yang ia harapkan hingga akhirnya membuat Matthew patah hati.

Kemudian Matthew bertemu Silvia. Sesosok perempuan muda, cerdas yang selalu dijaga ketat oleh pengawal pribadi karena kekayaan ayahnya.

Rasa sakit akibat patah hati karena Evie, sedikit demi sedikit mulai sirna dari hati Matthew.  Ia sudah mulai jatuh cinta kembali. Jatuh cinta kepada Silvia, dan kali ini ia berusaha mendapatkannya dan menjadikannya miliknya. Ia tidak ingin merasakan lagi sakitnya patah hati. Tak disangka Matthew sebelumnya, bahwa Silvia akan membalas cintanya seperti saat itu. Keduanya sangat bahagia. Mereka bahkan hampir saja menikah. Sayangnya, sesuatu terjadi yang hampir saja menewaskan Matthew dan  mengubah semuanya.

Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri di rumah sakit dan berhasil melewati masa-masa kritisnya, Matthew siuman. Ia berusaha menanyakan keberadaan Silvia. Hanya Silvia lah yang ia ingat saat pertama kali ia membuka mata. Merasa tidak kunjung mendapat penjelasan tentang Silvia, Matthew pun merasa bahwa Ibu dan adiknya yang mengetahui kedekatannya dengan Silvia, tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

Kini, Silvia telah menghilang dari kehidupannya. Tidak lama kemudian, dari sebuah surat kabar, Matthew mengetahui bahwa Silvia, anak seorang konglomerat terbesar di Italia itu dengan Nico Rinaldi, seorang ahli waris pimpinan sebuah perusahaan multinasional. Matthew yang belum benar-benar sembuh secara fisik kembali terpuruk akibat patah hati yang begitu mendalam.

Ditengah keterpurukannya, Matthew berusaha untuk kembali menjalani hidupnya dengan normal. Melakukan misi-misi kemanusiaan dan lebih fokus kepada kariernya sebagai seorang dokter.

Seiring berjalannya waktu, Matthew akhirnya kembali bangkit dan memutuskan untuk membuat hidupnya tetap berarti baik itu bagi dirinya sendiri maupun bagi ibu dan adiknya yang selalu mendukungnya saat ia berada di masa-masa tersulitnya itu, juga bagi mereka yang membutuhkan pertolongannya sebagai seorang dokter ahli.

Dengan semangat, Matthew menyambut masa depannya. Hingga pada suatu saat, masa lalunya, Evie dan Silvia kembali mendatanginya satu persatu.

Ya, Evie yang kini berstatus janda dengan dua putri, kembali memasuki kehidupannya. Dan Matthew, yang telah lama meninggalkan keahliannya sebagai seorang pianis, kini mulai kembali menyentuh tuts-tuts piano. Hingga pada suatu kesempatan, meskipun mereka tidak muda lagi, keduanya kembali berpartner menampilkan keahliannya dalam bermusik.

Kembali dekat dengan Evie, Matthew merasa bahwa chemistry diantara dirinya dengan Evie benar-benar begitu kuat. Kepada Evie, Matthew menceritakan apa yang ia rasakan dahulu terhadapnya. Tidak ia duga sebelumnya, kini Evie menyambut cintanya. Mereka menikah, hidup berbahagia bersama kedua putri Evie yang juga sangat bahagia dengan kehadiran Matthew ditengah-tengah mereka. Bahkan, Evie berencana untuk memiliki anak lagi yang kemudian Matthew tanggapi dengan candaan karena mereka sudah tidak muda lagi.

Disaat-saat itu pulalah, sang miliarder terkenal, Mr. Nico Rinaldi datang meminta bantuannya untuk kesembuhan istrinya, Dr. Silvia, yang kini tengah sekarat akibat penyakit kanker.

Dengan reputasi yang sangat baik dan selalu sukses dalam melaksanakan prakteknya, berhasilkah Matthew menyembuhkan Silvia?

Mengetahui ketidak harmonisan rumah tangga Silvia dan Nico, sekelebat dalam benaknya, Matthew sempat berpikir jika ia berhasil menyembuhkan Silvia, bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi kesempatan kedua bagi cinta mereka. Lalu bagaimana dengan rumah tangganya sendiri?

Bagaimana dengan Evie ketika ia mengetahui bahwa pasien yang tengah ditangani suaminya itu adalah Silvia, mantan kekasih suaminya? Bahkan tidak hanya itu, Evie pun mengetahui Matthew sering menghabiskan waktu untuk menemani Silvia tanpa mengabarinya terlebih dahulu.

Identitas Buku
Judul : Only Love
Judul Terjemahan : Cinta Sejati
Penulis : Erich Segal
Kategori : Fiksi, Roman, Dewasa 
Penerjemah : Kathleen S.W.
Tebal : 320 halaman
Ukuran Buku : 18x11 cm
ISBN : 979-605-914-2
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Softcover, Cetakan Keempat, November 2001

Kutipan-Kutipan Favorit
1. Ia tersenyum padaku, dan senyumnya menghancurkan seluruh reaksi autoimunitas-ku untuk sungguh-sungguh jatuh cinta kepadanya. (Halaman 35)

2. Pernikahan adalah sesuatu yang amat serius. Ikatannya abadi untuk selama-lamanya dan tak dapat diakhiri. (Halaman 150)

3. Cinta yang matang bukannya abadi, tapi terus tumbuh. (Halaman 272)

Kelebihan dan Kekurangan
Dengan alur yang dibuat maju-mundur, cerita dituturkan dengan menarik, cepat dan cerdas sehingga tidak membosankan saat membacanya. Dari karakter-karakter tokohnya, penulis seolah ingin menyampaikan banyak pesan-pesan kehidupan, diantaranya :

1. Mengajarkan tentang betapa berartinya kehidupan ini, tidak ada gunanya untuk terus terpuruk dalam kesedihan.
2. Jadilah diri sendiri, tidak mudah putus asa untuk mendapatkan kebahagianmu.
3. Saling percaya dan komunikasi yang baik adalah salah satu kunci kebahagiaan bagi suatu hubungan.
4. Tidak semua yang kamu inginkan bisa "dibayar" dengan uang.

Selain ukuran font-nya yang saya rasakan bikin sakit mata karena kecil-kecil. Tapi, itu bisa dimaklumi karena dimensi bukunya pun memang kecil. Secara keseluruhan, hampir tidak ada kekurangan yang saya rasakan untuk buku ini.

Jadi, 5/5 bintang untuk si mungil karya Erich Segal ini. Saya sangat menikmatinya.


Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 season 2

No comments :

Post a Comment