Saturday, August 15, 2015

Book Review : Scones and Sensibility by Lindsay Eland

3 comments
“Pesta minum teh dengan hidangan roti isi mentimun adalah kegiatan favoritku sejak usia lima tahun. Sebagian besar pakaianku sejak mulai menghirup napas pertama di dunia ini berhias renda dan kerutan (kecuali selama perjalanan kamping sial ketika aku dipaksa memakai celana jins yang dipotong pendek dan tank top bertuliskan WHAS-SUP?)”
-Polly Madassa, Scones and Sensibility (halaman 1-2)-

Polly Madassa mungkin gadis 12 tahun paling romantis di dunia. Dia lebih suka lilin daripada lampu, memilih mesin tik daripada komputer, dan berbicara seperti tokoh-tokoh dalam buku klasik. Terlebih lagi, setelah berulang-ulang membaca Pride and Prejudice karya Jane Austen, Polly merasa dirinya paling paham urusan asmara dan bertekad untuk menjodohkan orang-orang di sekelilingnya.

Ada kakaknya sendiri, Clementine, yang menurut Polly menyia-nyiakan waktu dengan seorang pacar menyebalkan. Ada Mr. Nightquist yang kesepian setelah kematian istrinya. Ada Miss Wiskerton, perawan tua yang tak pernah mengenal cinta. Juga Mr. Fisk, ayah sahabatnya Fran yang telah tiga tahun sendirian. Polly hendak mencarikan cinta sejati untuk mereka, karena yakin bahwa itu adalah takdirnya. 

Maka, musim panas kali ini dihabiskan Polly dengan merencanakan perjodohan paling romantis tanpa menyadari bahwa terkadang cinta punya cara sendiri untuk bersemi ….



Identitas Buku
Judul : Scones and Sensibility
Penulis : Lindsay Eland
Penerjemah : Barokah Ruziati
Kategori : Fiksi, Romance, Middle Grade
Dimensi Buku : 309 halaman, 13.5 x 20 cm
ISBN : 978-979-0244-69-6
Penerbit : Atria
Softcover, Cetakan Pertama, Maret 2011

Review
Polly Madassa adalah gadis berusia 12 tahun yang sangat terobsesi pada novel klasik karya Jane Austen, Pride and Prejudice. Kegemarannya terhadap novel klasik karya Austen ini, rupanya sangat berpengaruh pada gaya bicara dan berpakaiannya. Polly lebih suka mengenakan gaun berkerut-kerut daripada t-shirt dan jeans selayaknya anak-anak seusianya. Dikamarnya, ia menolak dipasangi lampu, karena ia lebih menyukai pencahayaan dari lilin, ia juga lebih senang menggunakan pena bulu daripada bolpoint, dan ketika orangtuanya hendak membelikannya sebuah komputer, Polly lebih memilih untuk dibelikan mesin tik saja.

Awalnya, sejak ia berpisah kamar dengan kakaknya dan kemudian kakaknya itu sibuk dengan urusan sekolah dan seringnya bepergian dengan pacarnya, Polly jadi lebih sering sendiri di rumah. Kedua orang tuanya pun sibuk dengan usaha toko roti antiknya, Madassa Bakery. Dengan demikian, Polly lebih suka membaca novel klasik. Dan yang dibacanya pun novel klasik dewasa, bukan yang sesuai dengan umurnya. Selain Pride and Prejudice, Polly juga sangat menyukai cerita klasik Anne of Green Gables karya Lucy M. Montgomery. Kedua buku klasik bersampul kulit itu ia dapatkan dari Mrs. Nightquist, tetangganya yang kini sudah meninggal.

Di suatu musim panas, Polly mengisi waktu liburnya dengan bekerja membantu kedua orang tuanya di toko roti. Ia bertugas mengantarkan kue-kue pesanan pelanggan dan sekali-sekali membersihkan dapur. Saat siang hari, ditengah kesibukkannya mengantarkan roti-roti pesanan, Polly mencuri-curi waktu untuk membaca ulang novel favoritnya, Pride and Prejudice.

Kali ini, setelah menyelesaikan membaca novel Preide and Prejudice untuk kesekian kalinya itu, Polly merasa bahwa ia mendapat panggilan hidup untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia merasa harus memisahkan kakaknya, Clementine dari pacarnya yang bernama Clint dan mencarikan lelaki yang lebih cocok untuk menjadi pacar kakaknya tersebut. Karena menurutnya, Clint yang kasar dan tidak gentlement itu tidaklah pantas menjadi pacar kakaknya terlebih jika nanti mereka menikah, ia tidak ingin Clint menjadi suami dan ayah dari anak-anak Clementine. Polly juga teringat kepada Fran Fisk, sahabat baiknya dan juga ayahnya. Ia sedih melihat keduanya yang selama tiga tahun terakhir ini hidup tanpa kehadiran ibu dan istri. Selain harus segera mendapatkan lelaki untuk pacar Clementine dan istri bagi Mr. Frisk yang sekaligus akan menjadi ibu dari Frans Fisk, Polly juga merasa harus menemukan jodoh untuk tetangganya, perempuan setengah baya dan sama-sama penggemar Jane Austen, Ms. Wiskerton, dan seorang duda setengah baya penjual layang-layang, Mr. Nightquist yang baik hati.

Dengan bersemangat, Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan "kandidat-kandidat" yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, Ms. Wiskerton dan Mr. Nightquist. Adapun para kandidat yang masuk dalam kriterianya haruslah orang-orang yang berpenampilan menawan dan berbudaya, kurang lebih untuk para kandidat perempuan ia harus seperti Elizabeth Bennet atau Anne dan untuk para kandidat lelaki ia harus seperti Mr. Darcy atau Gilbert. Dimana Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy adalah tokoh-tokoh dalam novel Pride and Prejudice sedangkan Anne dan Gilberta adalah tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables karya Lucy M. Montgomery yang telah berulang kali dibacanya.

Polly merasa bahwa dirinya sudah mengetahui segala hal tentang cinta hanya dengan membaca Pride and Prejudice dan Anne of Green Gables. Sehingga ia menganggap segala rencananya akan berjalan dengan lancar dan berhasil. Ia yakin, mereka akan sangat berterimakasih kepadanya karena ia telah memberikan jalan bagi sang cupid menancapkan panahnya dan memberikan kebahagiaan. Polly sama sekali tidak sadar dan tidak pernah berpikir jika semua yang dilakukannya ini bisa saja mengarah kepada bencana. Yang ada dipikirinnya saat ini, hanyalah bahwa semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”.

Seperti halnya ketika ia sukses menjodohkan dua anjing yang ada di lingkungan tempat tinggalnya, dengan banggan ia berkata kepada temannya :

"Perjodohan, secara spesifik, adalah keahlianku. Aku memperkenalkan anjing Dalmatian beberapa rumah dari sini dengan anjing buldog di samping rumah. Hubungan mereka sukses, menghasilkan beberapa anak anjing yang, meskipun tidak terlalu indah dipandang, tapi dipuja oleh orangtua mereka."

Namun kali ini, nampaknya usaha Polly tidaklah semulus seperti yang ia rencanakan sebelumnya. Ketika Clementine mengetahui sedang dijodoh-jodohkan Polly dengan seorang lelaki penjaga toko tak jauh dari tokonya, Clementine sangat marah karena ia hanya mencintai Clint. Demikian pula dengan Mr. Fisk, Polly mengetahui bahwa ayah sahabatnya itu telah menemukan seorang teman dekat yang mungkin akan menjadi jodohnya lewat internet. Dan Ms. Wiskerton yang ia jodohkan dengan Mr. Nighquist juga selalu berkata terang-terangan kepada Polly bahwa ia tidak begitu menyukai Mr Nightquist karena cucu lelakinya sangat nakal. Meskipun demikian Polly tetap bertekad meneruskan usaha perjodohan yang telah ia rencanakan tersebut, bahkan walau harus bertindak gegabah dan penuh tipu muslihat sekalipun. Menurutnya, rencana perjodohan ini harus berakhir indah seperti akhir kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy.

Berhasilkah Polly dengan semua rencana perjodohannya itu?

Scones and Sensibility ini adalah salah satu dari novel-novel yang ditulis karena terinspirasi dari karya-karya Jane Austen. Membaca cerita tentang Polly ini, saya merasa sedang membaca tentang diri saya sendiri, ahahaa... karena sebagian dari diri Polly hampir sama persis dengan saya. Kita punya beberapa kesamaan. Kita sama-sama lebih suka memakai rok/gaun dibanding celana jeans, malah saya gak punya celana jeans lho, ahahaa... Kita sama-sama penggemar Jane Austen dan karya-karyanya. Kita sama-sama sudah berulang kali juga membaca Pride and Prejudice dan Anne of Green Gables. Polly kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, akupun demikian. Dan satu hal lagi, kita juga sama-sama pengkhayal kelas berat, hihihi... Tentang menjodoh-jodohkan orang, aku sih nggak... Udah nggak maksudnya, haha... Dulu waktu masih kecil, SD gitu deh, aku sama teman sebangku ku suka banget menjodoh-jodohkan teman sekelas >_<

Kelebihan dan Kekurangan
Saya sangat menyukai buku ini, desain covernya manis. Selain itu, desain font yang menjadi judul di setiap babnya juga cantik. Dan setelah selesai membacanya, saya juga suka ide ceritanya, unik, segar dan sangat menghibur.
Selain itu, gaya bahasa penulis dan kemampuan penerjemah dalam menerjemahkan buku ini menurut saya sangat pantas diberi acungan 2 jempol. Beberapa point penting yang bisa dipetik untuk pelajaran hidup dari novel ini, antara lain :

1. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki
2. Lebih baik kita tidak usah ikut campur dengan urusan orang lain
3. Kita tidak bisa menyamakan apa yang menjadi idealisme kita dengan idealisme orang lain
4. Karakter Polly juga mengingatkan saya untuk selalu sadar akan posisi saya di lingkungan sekitar saya

Menurut saya, adanya beberapa typo, serta kurang tergalinya karakter-karakter lain selain Polly menjadi kekurangan untuk buku ini.

Rating Time!
Jika kamu menyukai bacaan-bacaan klasik yang romantis, silahkan baca buku ini, tak hanya penuh dengan rencana-rencana romantis tapi juga sangat menghibur. Meskipun Polly tidak pernah menyebut-nyebut tentang Sense and Sensibility, hanya Pride and prejudice dan Pride and Prejudice saja, 4/5 bintang untuk Scones and Sensibility,


Banyak dari orang-orang yang mengaku pernah membaca novel karya Lindsay Eland ini, menyebut bahwa tokoh Polly ini menyebalkan. Tapi saya, justru menyukainya, terutama kepada niat yang baik untuk membahagiakan orang-orang yang ia sayang meskipun kemudian cara yang ia lalui untuk mewujudkan nianya itu tidaklah tepat. Menurutku ini adalah sebuah buku yang layak untuk dibaca dan dijadikan koleksi.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

3 comments :

  1. Tiap baca update-an di goodreads, buku bacaannya selalu asing buat gue. Ini pertanda gue masih kurang gaul dalam dunia perbukuan. Kayak buku ini, gue baru pernah denger, hehe... keren lah semangat membacanya :D

    ReplyDelete