Wednesday, August 19, 2015

Book Review : Sister Red by Jackson Pearce

1 comment
SERIGALA ITU MEMBUKA RAHANGNYA YANG PANJANG. 
DERETAN GIGI TAJAM MENDEKAT KE ARAHNYA. 
SEBUAH PIKIRAN BERKECAMUK DI DALAM BENAK SCARLETT: 
CUMA TINGGAL AKU SENDIRI YANG TERSISA UNTUK BERTEMPUR. 
JADI, SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU.

Scarlett March hidup untuk berburu Fenris, manusia serigala yang telah mengambil matanya ketika gadis itu berusaha melindungi adiknya, Rosie, dari sebuah serangan brutal. Dengan bersenjatakan sebilah kapak dan tudung merah darah, Scarlett merupakan ahli dalam hal memancing dan membasmi para serigala jadi-jadian. Dia bertekad untuk melindungi para gadis muda lainnya dari kematian yang mengerikan. Jantungnya yang berdegup kencang tidak akan pernah berhenti berpacu sebelum seluruh manusia serigala tewas.

Rosie March dulu mengira hubungan dirinya dengan sang kakak tidak akan pernah retak. Karena merasa berutang nyawa pada Scarlett, Rosie pun ikut berburu dengan ganas di samping kakaknya itu. Namun, bahkan ketika jumlah gadis muda yang menjadi korban semakin meningkat dan ketika kekuatan para Fenris terasa semakin bertambah, Rosie memimpikan sebuah kehidupan yang tidak melibatkan para manusia serigala. Dia mendapati dirinya tertarik pada satu-satunya sahabat Scarlett, Silas, seorang pandai kayu yang sangat mematikan dalam menggunakan kapak. Namun, apakah mencintai pria itu berarti mengkhianati kakaknya serta segala hal yang selama ini mereka perjuangkan?

Identitas Buku
Judul : Sister Red
Judul Terjemahan : Dua Saudari Bertudung Merah
Penulis : Jackson Pearce
Penerjemah : Ferry Halim
Kategori : Fiksi, Romance, YA, Retellings
Tebal : 439 halaman
ISBN : 978-979-024-464-1
Penerbit : Atria
Softcover, Cetakan Pertama, 2011


Review
Sisters Red adalah sebutan bagi dua gadis kakak beradik yang masing-masing bernama Scarlett dan Rosie March. Keduanya adalah pemburu Fenris si manusia serigala ganas yang senang melakukan pembantaian kepada manusia, khususnya para wanita muda di sebuah daerah bernama Ellison. Scarlet dan Rosie selalu menggunakan tudung merah sebagai sarana memancing Fenris.

Awal mula perburuan yang dilakukan oleh Sister Red ini berangkat dari rasa trauma dan kepahitan yang menghantui Scarlet dan Rossie pada peristiwa 7 tahun yang lalu. Saat itu, pria misterius mendatangi rumah Oma March. Pria itu bermata gelap, dengan senyumannya yang aneh dan gerakannya sangat mencurigakan. Kemudian, pria itu diketahui sebagai Fenris, si manusia serigala jadi-jadian. Fenris itu pun memangsa habis Oma March.

Saat itu Scarlett yang masih berusia 7 tahun berusaha melindungi diri dan adiknya. Mereka selamat dari tidak menjadi santapan Fenris, namun satu mata Scarlett rusak akibat serangan Fenris itu.

Sejak saat itulah, Scarlet kehilangan fungsi salah satu penglihatannya. Dan sejak saat itu pulalh, Scarlet memutuskan untuk memnjadi pemburu Fenris, memusnahkannya tanpa sisa dan tanpa ampun. Ia habiskan hari-hari masa anak-anaknya untuk berlatih sekuat tenaga. Hingga akhirnya, sekarang ia menjadi pemburu Fenris yang cukup handal.

Beranjak remaja, Scarlett menganggap berburu Fenris adalah hidupnya. Ia juga selalu berusaha keras untuk bisa menjaga adiknya, Rosie dari keganasan Fenris. Dibantu oleh Silas, yaitu teman Scarlett sejak kecil yang berprofesi sebagai pandai kayu, Scarlett memburu Fenris yang akhir-akhir ini banyak menampakkan diri dan mencari-cari mangsa dari Ellison ke Atlanta. 

Rosie yang kini beranjak remaja pula, menyadari bahwa ia berhutang nyawa pada kakaknya. Ia ingin segera mengikuti jejak sang kakak menjadi seorang pemburu Fenris. Rosie yang belum sepenuhnya diberi izin oleh Scarlet untuk berburu Fenris, selama ini sering diam-diam mengikuti kakaknya bahkan melakukan pemburuan sendiri tanpa diketahui kakaknya atau Silas. Berbeda dengan kakaknya, Rosie terkadang merasa lelah dengan perburuan yang menurutnya tak ada henti-hentinya karena Fenris-fenris itu seolah tak pernah habis.

Silas adalah pemuda tampan, seorang pandai kayu yang merupakan tetangga mereka sekaligus sahabat baik Scarlet. 

Benar apa yang dirasakan Rosie bahwa intensitas serangan para Fenris semakin bertambah. Bahkan ada banyak kawanan yang berburu bersama-sama, yang kemudian Scarlett sadari bahwa para Fenris pasti sedang mengejar Calon Fenris.  Tapi baik, scarlet, Rosie ataupun Silas tidak memiliki informasi yang jelas dan spesifik tentang siapa "Calon" atau para "Calon" tersebut, kapan ia akan muncul atau di mana ia berada saat ini.

Dengan berbagai pertimbangan, mereka memutuskan bahwa perburuan Fenris atau Si Calon akan lebih baik jika dilakukan di kota yang lebih besar yang dekat dengan Ellison, yaitu Atlanta. Di sana memang jumlah Fenris lebih banyak dan pasti akan ada informasi lebih banyak pula yang bisa mereka peroleh tentang Si Calon. Di Atlanta ternyata mereka tidak hanya mengetahui informasi-informasi berharga tentang Calon, tetapi tumbuhnya benih cinta antara Rosie dan Silas tanpa sepengetahuan Scarlett. Rosie yang merasa berutang nyawa terhadap kakaknya tahu betul bahwa Scarlett akan membencinya karena jika kakanya tahu tentang perasaannya kepada Silas, pasti akan mengira dirinya telah merebut Silas, sahabat sejak kecil Scarlet yang Rosie yakini pula bahwa kakanya itu menaruh perasaan kepada Silas. Rosie diam-diam juga mengikuti kegiatan les di luar jam berburunya, kelas-kelas melukis, origami, atas dukungan Silas dan dengan merahasiakannya dari Scarlett. Kegiatan-kegiatan ‘normal’ yang selama ini tidak pernah bisa Rosie ikuti, yang ternyata menggembirakan bagi hidupnya.

Lambat laun, hubungan Scarlet dan Rosie yang selama ini selalu saling menyayangi dan selalu saling menjaga dan melindungi satu sama lain itu  retak. Penyebabnya adalah, tentu saja Silas. Ketika Scarlet mengetahui bahwa Rosie mencintai Silas. Scarlet sangat sedih. Ia semakin sedih ketika ditambah harus mengetahui bahwa Silas adalah umpan yang selama ini ia cari.

Bagaimanakah akhir dari kisah cinta segitiga ini, dimana dua diantaranya adalah kakak beradik? Haruskah salah satu diantaranya mengalah? Lalu bagaimana hubungan Scarlet dan Rosie, akan kah membaik?  Dan bagaimana pula dengan para Fenris ganas itu, ditengah hubungan ketiganya yang tidak sebaik dahulu, sanggupkah ketiganya membasmi Fenris-fenris itu? karena ternyata sekuat apapun mereka berusaha membasmi Fenris, sepertinya monster-monster itu tidak ada habisnya.

Kelebihan dan Kekurangan
Penerbit Atria menggunakan desain cover yang sama dengan cover buku aslinya. Menurut saya, ini keren banget. Saya suka. Perpaduan warna hitam dan merahnya ini saya rasa sesuai banget dengan ekspektasi saya terhadap ceritanya. Merah mewakili Sister red yang selalu menggunakan tudung merah. merah juga mewakili keberanian dan kekuatan Sister Red. Sedangkan warna hitam mewakili banget ganas dan kejamnya makhluk bernama Fenris itu. Selain itu hitam juga mewakili trauma dan pedihnya Sister Red hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi pemburu Fenris. Dan hey, lihat... di desain cover depannya, ada dua wajah yang mewakili perempuan. Mungkin ini iluustrasi dari dari Sister Red ya... dan di bagian hitam,  ada penampakan si rakus Fenris. Matanya menyeramkan.

Jackson Pearce menurut saya sukses dalam membangun konflik cerita dan penokohan. Saya seakan mengenal Scarlett, terlebih lagi sifat-sifatnya yang pas dengan karakter seorang kakak. Ketegasannya, tanggung jawabnya untuk menjaga adik yang juga keluarga satu-satunya sangat menonjol. Lagi-lagi, saya suka.

Selain itu, saya juga sangat menyukai cara Pearce menuliskan dengan detail bagaimana pertarungan antara Scarlett, Silas ataupun Rosie dengan para serigala. Begitu pula dengan penerjemahnya, saat membaca semua kalimat yang menceritakan perkelahian, rasanya seperti melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seru! Keren!! Two Thumb Up!!!

Kekurangannya, ada sedikit dari segi ceritanya. Yaitu, diketahui bahwa Fenris ini adalah makhluk kejam, penuh tipu daya, buas dengan rasa lapar yang tak pernah terpuaskan. Tapi kok ya... ada makhluk begitu kok yang menangani kebrutalan si para enris ini cuma mereka bertiga aja, gak ada yang bantuin lagi... agak-agak aneh kan... Sementara korban-korbannya terus berjatuhan disana-sini. Dan satu lagi yang agak-agak sedikit membingungkan. Yaitu... tentang usia Silas, kadang di bab ini misalnya disebut lebih tua satu tahun dari Scarlet. Tapi... di bab lainnya, disebutkan kalau Silas lebih tua beberapa tahun dari Scarlet.

Rating Time!
Selesai membaca Sisters Red, khususnya khususnya kisah kehidupan kakak beradik Scarlet dan Rosie March ini, seakan mengingatkan saya bahwa semua individu adalah berbeda. Sekalian ada ikatan sebagai saudara kandung. Setiap orang adalah istimewa dan masing-masing memiliki hak untuk memilih kehidupannya sendiri. Maka, 4/5 bintang untuk Dua Saudari Bertudung Merah ini,


Atau mungkin bisa jadi ada pesan lain yang bisa kamu tangkap dari cerita ini? Silahkan dibaca. Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kamu penggemar dongeng, sekaligus penggemar thriller, karena pada sepanjang buku ini suasana mencekam, menegangkan, dan sadis seolah begitu kuatnya menyelimuti kisah ini.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2
 

1 comment :

  1. lagi ikut kontes ya mba?

    tapi keren tuh reviewnya, pdhal aku gtw bukunya. skrng jadi tau jd kan klo tmen nanti nanya setidaknya aku udah baca reviewnya dari blog ini :D

    ReplyDelete