Saturday, September 5, 2015

Book Review : Girls In The Dark by Akiyoshi Rikako

1 comment
Kita tidak boleh membunuh, termasuk membunuh diri sendiri.
(Girls in the Dark, halaman 260)

Sinopsis
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Berhubung tadi, setelah selesai dibaca bukunya langsung ada yang pinjam, gak sempat saya foto dulu, jadi saya share gambar cover depannya aja yaa...
Identitas Buku
Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Kategori : Fiksi, Thriller, Misteri, Remaja, Sastra Jepang
Penerjemah : Andry Setiawan
Dimensi Buku : 289 Halaman, 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-7742-31-4
Penerbit : Haru
Paperback, Cetakan Pertama, Mei 2014

Review
Salon, sebuah kata yang dalam bahasa Prancis memiliki arti sebagai bangunan atau ruangan tempat orang-orang berkumpul. Begitu pula dengan Salon Sastrabangunan yang awalnya sebuah biara dengan bergaya gothic ini, sebenarnya berada terpisah dari kompleks sekolah SMA Putri Santa Maria, namun kemudian biara tersebut dirombak, sehingga biara yang kini menjadi Salon itu nampak indah dan sepadan dengan kompleks SMA Putri Santa Maria.

Adapun nama "Salon Sastra" itu sendiri berasal dari nama salah satu klub di sekolah itu, klub sastra. Biasanya, Salon ini digunakan sebagai tempat untuk membicarakan hal-hal seperti sastra atau kegiatan akademik lainnya oleh para anggota Klub Sastra.

Salon inipun di desain dengan sangat baik, dimana di dalamnya ada karpet yang tebal, nyaman dan mewah, dindingnya dilapisi dengan wallpaper berwarna lavendel, tirai dari beledu hitam mewah ala Prancis menghiasi setiap jendela tersebut. Tidak hanya itu, buku-buku bergenre sastra dan lainnya tersusun rapi di sebuah rak buku besar yang memenuhi dinding. Bagi Klub Sastra, buku-buku tersebut adalah harta yang sangat berharga, terlebih karena sekolah ini adalah sekolah Katolik, yang di perpustakaan sekolahnya hanya banyak terdapat buku agama dan buku-buku lainnya yang menurut mereka "berat" untuk dibaca. Maka dari itu, mereka sengaja mengumpulkan berbagai jenis genre buku dari dalam dan luar negeri serta dokumen yang jarang dan tidak ditemui di perpustakaan sekolah. Di salah satu sisi ada kabinet antik dengan kaki lengkung. Di dalamnya, tertata rapi peralatan makanan dari merek-merek terkenal dan mahal seperti Ginori dan Wedgewood. Sehingga Salon milik klub sastra ini bisa dikategorikan mewah untuk ukuran klub sekolah.

Saat musim panas tiba, para anggota Klub Sastra yang berjumlah 7 orang ini sering menghabiskan waktu di Salon itu, berdiskusi tentang sastra sambil menikmati lemonade. Sedangkan saat musim dingin, mereka bisa meletakkan sofa yang kainnya dipintal menjadi sebuah tapestry yang antik dan nyaman di depan perapian yang terbuat dari batu bata untuk berbaring. Sambil berbaring dan menikmati hangat dan nikmatnya secangkir cokelat panas ditangan masing-masing, mereka saling memberikan kritik terhadap novel yang ditulis masing-masing anggota Klub Sastra.

Tidak sembarang siswi SMA Putri Santa Maria bisa bergabung dengan klub ini. Hanya sang ketua klub, Shiraishi Itsumi lah yang berhak menentukan siapa saja yang layak untuk bergabung bersama mereka.

Salon Sastra adalah kebanggaan sekaligus impian yang nyata bagi para anggota Kub Sastra. Sayangnya kebersamaan dan kesempurnaan Klub dan Salon nya itu luntur. Shiraishi Itsumi, sang ketua klub baru saja meninggal dunia.  Saat ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa, ada setangkai bunga Lily ditangan Itsumi. Bunga inilah yang kemudian akan menjadi kunci dari kisah pada buku ini, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa pembunuh sang ketua klub itu adalah salah satu dari anggota klub Sastra itu sendiri.

Siapakah sesungguhnya dari anggota Klub Satra yang telah membunuh ketua klubnya sendiri? Apa alasannya?

==========

Ini adalah kali pertama saya membaca buku karya Akiyoshi Rikako, seorang penulis dari Jepang, dan ternyata saya suka buku ini. Hanya saja, mungkin karena tidak terbiasa, nama-nama tokoh yang menggunakan nama-nama Jepang itu agak sedikit mengganggu, bikin belibet saat membacanya, hehe... 

Dengan konsep cerita yang menurut saya unik, dimana didalamnya dibuat dalam bentuk semacam beberapa cerita pendek yaitu pada saat menceritakan analisis kematian Itsumi dari para anggota Klub Sastra lainnya. Dengan konsep cerita yang demikian, jadi tidak membosankan saat membacanya. Karakter-karakter yang kuat dari para tokohnya serta ending yang mengejutkan, saya persembahkan 4/5 bintang untuk buku ini.


Dan sekarang, jadi penasaran pengen baca buku-buku karya Akiyoshi Rikako lainnya yang sepertinya beliau ini punya wawasan yang luas tentang buku dan sastra.

Kutipan-Kutipan Favorit
1. "Ada hal-hal yang tidak bisa dibicarakan karena sahabat." (halaman 58)

2. "Justru karena sahabat mungkin ada yang tidak boleh dicampuri." (halaman 64)

3. "Bukankah kita diajari supaya kita memaafkan orang yang bersalah pada kita?" (halaman 95)

Ada banyak pesan kehidupan yang bisa dipetik dari kisah pada buku ini, diantaranya adalah : Seseorang yang nampak baik di luar dan sempurna secara fisik, belum tentu pula memiliki jiwa dan hati yang baik dan sempurna. Pandai-pandailah dalam memilih teman, karena seseorang yang sudah kita anggap sebagai teman, sesungguhnya bisa berpotensi menjadi pengkhianat bahkan sekalipun kita telah banyak berkorban untuknya dan kita menganggapnya sebagai sahabat baik kita. Kenyataannya, memang ada kok yang begitu. Ada. Ada banget >_<

1 comment :