Friday, September 18, 2015

Book Review : Red Riding Hood by Sarah Blakley-Cartwright

No comments
Sejak umur tujuh tahun, Valerie tahu bahwa dia berbeda dari orang-orang desa yang lain. Dia merasa asing dari mereka, bahkan dari teman-temannya. Satu-satunya orang di dunia yang dengannya Valerie bisa merasa dekat adalah kakak perempuannya, Lucie. Dia dan Lucie sudah seperti dua sulur tanaman yang tumbuh saling silang. Lucie adalah satu-satunya.

Suatu hari, Lucie ditemukan tewas. Serigala yang telah lama meneror desa itu kini menyerang manusia! Warga pun panik. Mereka mendatangkan seorang pendeta yang berpengalaman menghadapi serigala. Desa itu dicekam kengerian saat sang pendeta mengatakan bahwa serigala itu bukanlah hewan melainkan manusia, dan dia ada di antara warga sendiri. Valerie yang sedang bersedih karena kematian kakaknya terkejut, ternyata dia bisa mendengar dan memahami bahasa sang Serigala. Warga desa pun mencurigai gadis cantik bertudung merah itu. Nyawa Valerie berada di ujung tanduk ketika mereka sepakat menjadikannya tumbal demi memancing keluar sang Serigala.


Identitas Buku
Judul :  Red riding Hood
Penulis : Sarah Blakley-Cartwright
Penerjemah : Nuraini Mastura, Putra Nugraha, Sujatrini Liza
Kategori : Fiksi, YA, Romance, Paranormal, Shapeshifters, Werewolves
Tebal : 348 Halaman
ISBN : 9789794336168
Penerbit : Mizan Fantasy
Paperback, Cetakan Pertama, April 2011
Rate : 3/5 Bintang

Review
Buku berjudul Red Riding Hood ini merupakan adaptasi dari film dengan judul yang sama. Bercerita tentang gadis berusia 17 tahun bernama Valerie. Ia tinggal di sebuah desa. Desa Daggohorn, dimana setiap bulannya, penduduk di desa tersebut melakukan persembahan berupa hewan ternak peliharaan mereka kepada para serigala. Selama ini, Valerie dan para penduduk desa memang hidup dalam ketakutan akan serangan para serigala ganas. Maka dari itu, untuk menyelamatkan diri dan anggota keluarga mereka dari serangan para serigala, mereka rela mengorbankan hewan-hewan ternaknya.

Suatu hari, Lucie, kakak Valerie ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi. Jenazahnya sangat mengenaskan, tubuhnya tercabik-cabik. Penduduk desa menduga, kematian Lucie disebabkan oleh serangan serigala.

Melihat kondisi jenazah Lucie, penduduk desa merasa semakin ketakutan. Mereka khawatir, setelah Lucie, bukan tidak mungkin dirinya atau mungkin salah satu dari anggota keluarganya lah yang akan menjadi korban berikutnya. Ditengah ketakutan yang mereka rasakan, mereka juga merasa marah dan muak dengan apa yang telah dilakukan oleh para serigala itu. Akhirnya, dengan dipimpin oleh kepala desa, mereka berbondong-bondong, mulai mencari serigala-serigala itu.

Sayangnya, ternyata tindakan tersebut, terlalu gegabah dan terburu-buru tanpa dipikirkan dengan baik, meskipun memang pada akhirnya mereka berhasil menangkap dan membunuh seekor serigala. Merasa senang dan terbebas dari rasa ketakutan akan serangan serigala, penduduk desa berkumpul dan berpesta. Mereka tidak mengetahui, kalau serigala yang berhasil mereka tangkap dan bunuh itu sebenarnya bukanlah serigala yang suka menyerang dan membunuh penduduk desa.

Kemudian, desa tersebut kedatangan rombongan yang dipimpin oleh seorang lelakisetengah baya bernama Solomon. Kepada penduduk desa, mewakili rombongannya, Tuan Solomon menyampaikan maksud kedatangan mereka sekaligus meminta izin bahwa dia bersama dengan rombongannya itu hendak memburu serigala di desa tersebut. Penduduk desa tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh Tuan Solomon, mereka pun tidak menginginkan keberadaan Tuan Solomon beserta rombongannya itu di desa mereka. Penduduk desa semakin tidak mempercayai Tuan Solomon ketika ia juga mengatakan bahwa serigala yang mereka cari dan takuti selama ini sebenarnya ada di antara penduduk desa, karena serigala tersebut adalah serigala jadi-jadian. Dia berubah wujud menjadi serigala pada saat bulan purnama berwarna merah, dan sehari-harinya, dia berwujud manusia.

Peter, teman masa kecil Valerie yang juga salah satu dari penduduk di desa itu tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama menghilang. Bertemu kembali dengan Peter, kemudian memunculkan pula benih-benih cinta di hati Valerie. Padahal, ada Henry Lazar seorang pria tampan nan baik hati yang sudah menyukai Valerie sejak keduanya masih kecil.

Pada suatu hari, saat penduduk desa mengadakan perayaan rutin, muncul serigala yang kemudian menyerang dan membunuh beberapa penduduk desa. Tak terkecuali Valerie, ia  dikejar bahkan dengan memanfaatkan sedikit kelengahan dari serigala, Valerie berhasil sembunyi dan menghindar namun selalu berhasil pula ditemukan oleh seeigala itu.

“Dan dia bisa berbicara kepada manusia serigala…” (halaman 276)

Hingga akhirnya, dengan sedikit merasa aneh, Valerie menyadari ia bisa mendengar bahwa serigala itu bisa berbicara seperti manusia. Valerie mendengar bahwa serigala itu berbicara dan memintanya untuk ikut dengannya, jika tidak, serigala itu mengancam akan membunnuh lebih banyak lagi penduduk desa, termasuk orang-orang yang sangat disayangi Valerie.

Mendengar apa yang 'dikatakan' oleh serigala itu, Valerie jadi bingung dan curiga, siapa sebenarnya serigala itu.

Ya, siapakah sebenarnya serigala itu? Sanggupkah Valerie menyelamatkan diri dan penduduk desa nya dari serangan serigala yang mungkin akan lebih sadis lagi dari sebelumnya? Sanggupkah pula Valerie mengungkap sang manusia serigala jadi-jadian itu?

==========

Penuh misteri, mencekam dan banyak muncul kejutan yang sama sekali tidak pernah saya duga hampir di setiap halamannya. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini. Sebuah buku yang sukses membuat saya tidak melepaskannya sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Meskipun yaa, pada akhirnya saya mendapatkan ending yang kurang memuaskan, menggantung ahh.. pokoknya gak sesuai dengan ekspektasi saya sebelumnya, ehh upss... hehehe...


Namun, terlepas dari itu, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan dikoleksi. Ini juga bukan buku seri lho... jadi begitu selesai membacanya, gak usah deh mikir-mikir untuk nabung dan membeli lanjutannya, kan keren.. bisa beli buku yang lain kaan kalau gitu, hihi...

Oh iya, melalui tokoh Valerie dan Peter, saya menangkap sebah pesan, bahwa kadang ada dua orang yang saling mencintai dengan tulus, namun, ada perbedaan yang kemudian menjadi penghalang untuk mereka bersatu. Yang pada akhirnya, mereka dihadapkan pada satu pilihan : salah satu dari mereka harus rela berkorban agar kemudian mereka bisa bersatu tanpa ada lagi perbedaan yang akan menghalangi mereka.

No comments :

Post a Comment