Friday, October 2, 2015

Book Review : The Magic Finger by Roald Dahl

No comments
Pernahkah kau marah pada seseorang?

Pasti pernah, tapi kurasa kau tidak pernah mengubah wujud orang yang membuatmu marah, kan? Nah, anak perempuan dalam cerita ini sangat istimewa. Ia memiliki jari ajaib. Jika ada orang yang membuatnya marah---dan ketika dia tak bisa lagi menguasai diri---dia meluncurkan hukuman kepada mereka dengan jari ajaibnya!

Hasilnya luar biasa, ajaib, dan sangat lucu! Gurunya jadi punya kumis dan ekor, dan kau pasti tak percaya pada apa yang terjadi pada keluarga Gregg... yah, pokoknya mereka kapok berurusan dengan itik.


Identitas Buku
Judul : The Magic Finger
Judul Terjemahan : Jari Ajaib
Penulis : Roald Dahl
Penerjemah : Listiana Srisanti
Ilustrator :Quentin Blake
Tebal : 80 Halaman
Kategori : Fantasi, Buku Anak, Humor, Klasik
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Mei 2003
Rate : 4/5 Bintang

Review
Buku ini bercerita tentang "Aku", yang tidak menyebutkan ataupun disebutkan namanya sama sekali dalam cerita ini. "Aku" adalah seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang memiliki kekuatan ajaib pada salah satu jari tangannya. Apabila dia sedang sangat marah, jarinya dapat membuat seseorang berubah bentuk, semacam  kutukan. Namun, tidak seperti halnya kisah yang bercerita tentang kutukan pada umumnya yang menyeramkan, di sini, kutukuan si "Aku" justru jatuhnya jadi sesuatu yang absurd. Seperti yang dialami oleh guru "Aku" di sekolahnya, yang setelah mendapat "kutukan" dari "Aku", tumbuh misai di wajahnya dan ekor di bagian belakang tubuhnya, yang sampai saat inipun, keadaan ibu guru tersebut tidak kembali seperti sebelumnya.

"Aku" berteman dengan dua anak laki-laki kakak beradik, William 11 tahun dan Philip 8 tahun. Mereka berdua adalah putra dari keluarga Gregg. Dimana keluarga Gregg ini sangat gemar berburu, dan buruan utama mereka belakangan ini adalah sekawanan bebek.

Mengetahui kebiasaan keluarga Gregg tersebut, "Aku" marah dan dengan terang-terangan langsung menyatakan ketidaksukaannya kepada keluarga Gregg. Karena tidak begitu ditanggapi, "Aku" semakin marah yang akhirnya, ia mengacungkan jari ajaibnya ke keluarga Gregg. Namun, tidak terjadi apapun kepada Pak Gregg, Bu Gregg maupun kedua anaknya, Philip dan William.

Keesokan harinya, ketika bangun tidur, Pak Gregg dan Bu Gregg serta kedua anaknya mendapati diri mereka tidak lagi memiliki tangan. Tangan mereka ternyata berubah menjadi sayap bebek dan tubuh mereka mengecil.

Tidak hanya itu, bebek-bebek buruan keluarga Gregg sebelumnya pun mengalami perubahan pada fisiknya. Tidak ada lagi sayap pada badan mereka, sayap mereka hilang digantikan dengan tangan manusia, dan ukuran tubuh mereka pun menjadi lebih besar dibanding ukuran tubuh mereka sebelumnya.

Maka, kehidupan keluarga Gregg dan keluarga bebek pun berubah 180 derajat. Karena kini, keadaan menjadi berbalik, dimana giliran keluarga bebek lah yang memburu keluarga Gregg.

Lantas, bagaimana keadaan keluarga Gregg selanjutnya? Selamatkah mereka dari perburuan keluarga bebek? Dan apakah ukuran tubuh dan tangan keluarga Greg akan kembali normal seperti sebelumnya?

================

Dengan tebal 80 halaman dan ukuran font yang cukup besar, dilengkapi ilustrasi yang unik serta penggunaan bahasa yang mudah dicerna, menjadikan buku ini sebagai sebuah bacaan ringan yang sangat menarik dan menghibur untuk dibaca oleh semua usia. Sayangnya, di edisi terjemahan ini, pada beberapa dialognya menggunakan kata-kata yang tidak baku, sehingga bagi saya pribadi, agak sedikit mengganggu saat membacanya.

Pada cara bertutur, penulis menggunakan "orang lain", yakni "Aku" sebagai orang ketiga serba tahu, karena meskipun "Aku" merupakan tokoh utama pada cerita ini, namun sesungguhnya, cerita ini justru lebih menceritakan keluarga Gregg. Jari Ajaib yang dimaksudnya pun tidak banyak dibahas.

Adapun pesan moral yang dapat saya tangkap setelah selesai membaca buku ini antara lain adalah tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan sesama makhluk hidup dan tentang pentingnya mengendalikan emosi.

No comments :

Post a Comment