Friday, April 1, 2016

Book Review : Honeymoon for Sophie by Retha

No comments
Sophie :
Sebentar lagi aku akan menikah dengan Maxi, pria paling tampan dan romantis yang pernah hadir dalam hidupku. Hidupku akan sempurna bersamanya. Aku akan menjadi Nyonya Maxi. Impian indah yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan...

Mona :
Aku nggak punya keinginan yang muluk-muluk, kok!
Aku cuma mau ada seorang pria yang datang melamarku dan membuat semua orang berhenti bertanya kepadaku, "Kapan Nikah?"
Oke, sebenarnya masih ada satu lagi keinginanku, yaitu mendapatkan bos yang bukan titisan Godzilla.
Simpel, kan?!



Identitas Buku
Judul : Honeymoon for Sophie
Penulis : Retha
Genre : Romance, Chicklit
Penyunting : Maharani Auditya
Ilustrasi : Amalia Pratifasari
Bahasa : Indonesia
Tebal/Ukuran Buku : 264 Halaman/19x13 CM 
Penerbit : Bhuana Sastra 
ISBN 13 : 978-602-394-116-2
Cetakan Pertama, 2016

Review
Mona (29 tahun), dibuat kaget oleh permintaan Sophie (23 tahun), adik satu-satunya yang meminta untuk segera dinikahkan dengan Maxi, kekasih yang dipacarinya selama 6 bulan terakhir ini. Tentu saja, orang tua mereka juga sangat kaget mendengar permintaan Sophie, yang saat ini karier pekerjaannya sedang cemerlang itu.

Menurut mereka, Sophie masih muda dan waktu 6 bulan masa pacaran mereka itu juga masih terlalu dini bagi Sophie dan Maxi untuk memutuskan menikah. Terlebih lagi, pertemuan keluarga Sophie dengan Maxi selama ini, bisa dihitung dengan jari.

Buat keluarga Sophie, sejauh ini Maxi adalah pria yang belum jelas bibit, bebet dan bobotnya. Ayahnya, babeh Samson, sang pemilik 20 rumah petak kontrakan yang tersebar di daerah Cisauk dan Serpong itu memang tipe orang yang mudah panik, sehingga begitu mendengar permintaan putri bungsunya itu, beberapa kali dengan blak-blakannya bertanya apakah Sophie dalam keadaan hamil, sehingga secara mendadak minta untuk dinikahkan dengan pacarnya itu. Dengan tegas Sophie, menjawab ia tidak hamil. Ia hanya ingin segera menjadi istri Maxi, pria yang menurutnya paling tampan, baik hati, perhatian dan sangat romantis itu. Ia yakin, Maxi bisa menjadi suami yang baik untuknya. Namun, kakak dan kedua orang tuanya masih tetap tidak yakin dengan Maxi yang berprofesi sebagai seorang chef di hotel berbintang itu.

Sebenarnya, bukan hanya masalah pacaran yang singkat dan bibit, bebet serta bobot Maxi, ada hal lain yang membuat gundah dan ragu perasaan ayah dan ibunya, yaitu Mona. Hingga kini, Mona, anak sulungnya tersebut belum memiliki calon suami. Mereka tidak ingin dulu menikahkan anak bungsunya sementara anak sulungnya masih sendiri. Meskipun sebenarnya, Mona sendiri merasa tidak masalah jika adiknya harus menikah terlebih dahulu. Berkat kebesaran hati Mona, akhirnya ayah dan ibu mereka menyetujui permintaan Sophie untuk menikah dengan Maxi.

Setelah itu, keadaan hampir kembali normal ketika tiba-tiba saja, ibunya mengajak Mona berbicara dan kemudian mewanti-wanti dirinya agar setelah Sophie menikah nanti, Mona juga harus segera menikah. Menurut ibunya, tidak akan ada lagi pria yang akan mau menikahinya di umurnya yang semakin tua. Sungguh, menurut Mona apa yang disampaikan ibunya itu adalah sebuah teori yang sangat aneh dan tidak jelas. Tapi, tetap saja akhirnya ia juga jadi terus memikirkan kapankah jodohnya datang?.

Di tempat kerjanya, Mona memiliki atasan yang menurutnya sangatlah menyebalkan, tidak ramah, sering marah yang hanya selalu menyuruh ia dan karyawan lainnya untuk bekerja dengan sempurna, seolah tidak pernah memikirkan keadaan para karyawannya. Saking kesal dengan perlakuan Adrian, nama atasannya, saat bekerja lembur, Mona sering memberi lebih banyak makan ikan-ikan di akuarium yang ada di ruangan Adrian, kadang juga ia menuang soda ke dalamnya. Tidak hanya itu, ia juga sering menyiram tanaman-tanaman dikantor dengan minuman asam. Namun, sebuah keajaiban terjadi, sore saat Mona hendak pulang, tiba-tiba saja Adrian menghampiri Mona, tersenyum dan menawarkan tumpangan untuk pulang. Dengan kaget, Mona menolaknya secara halus  dengan mengaku ada janji bertemu dengan seorang teman. Mona dibuat lebih kaget saat melihat Adrian tetap tersenyum dan berlalu pergi. Keesokan harinya, Mona dibuat lebih kaget lagi dengan perlakuan Adrian terhadapnya. Ia memintanya untuk mencuci seluruh piring dan gelas di kantor, dengan alasan, ia ingin mendapat pendapat Mona tentang sabun cuci piring yang baru baru diluncurkan perusahaan. Selama mencuci piring, Adrian menunggui Mona sambil terus menatap dan sesekali tersenyum kepadanya. Asli deh, di bagian ini aku jadi termenung membayangkan adegannya, hahahaa... kocak-kocak romantis.

Sementara itu, ditengah persiapan jelang pernikahan Sophie, keluarga kedatangan keluarga Maxi. Ditengah pembicaraan serius keluarga, Mona sempat berpikir dan semakin ragu dengan Maxi. Bagaimana tidak, dari penampilan, Maxi itu berkulit putih dan blasteran, sementara kedua orang tuanya berkulit sawo matang dan wajah khas Melayu. Mona sempat curiga ada yang tidak beres, namun ia cepat-cepat mengusir pikiran itu. Ia hanya ingin adiknya bahagia, syukur keluarga Maxi bisa menyempatkan mengunjungi keluarganya untuk membicarakan pernikahan Sophie dan Maxi, karena menurut mereka, selama ini mereka tinggal di luar negeri dan sangat sibuk. Hwalaah... ckckk...

Sophie yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pernikahannya, termasuk dengan diet, perawatan wajah dan tubuh demi terlihat cantik dan pangling di hari pernikahannya nanti merasa ada sedikit perubahan dari sikap Maxi. Namun ia mencoba untuk memakluminya, menganggap bahwa sikap Maxi dipengaruhi oleh perasaan stres dan gugup menjelang pernikahan mereka, seperti yang juga ia rasakan saat ini.

Lain lagi dengan Mona, ia merasa semakin aneh dengan perlakuan Adrian yang semakin hari, semakin manis terhadapnya. Mona pun mulai merasakan perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia duga akan ia rasakan terhadap Adrian. Namun, Mona juga dibuat khawatir dan bertanya-tanya, karena beberapa hari belakangan ini, Adrian tidak muncul di kantor. Sampai akhirnya, dari Adrian, Mona mengetahui bahwa dua hari itu, Adrian menunggui temannya yang sakit. Teman? Pastilah teman yang sangat berati sehingga Adrian sampai rela tidak masuk kantor untuk menungguinya, begitu yang Mona pikir. Namun kemudian, Mona tidak begitu memikirkan hal itu.

Saat ini Mona hanya sedang merasa senang dan sudah terbiasa dengan sikap baik dan manis Adrian yang kadang juga membuatnya risih dan malu saat teman-teman di kantor memperhatikan mereka. Bahkan Mona sama sekali, tidak menyangka saat Adrian mengetahui sering melakukan wedding crasher, (datang ke pernikahan sebagai tamu yang tak diundang, untuk numpang makan atau mencari kenalan) bersama Kethrine, sahabatnya, Adrian tertawa dan kemudian meminta lain kali Mona mengajaknya juga. Iyess... Mona dan Adrian semakin dekaat. Tapi sayang, disaat-saat itu, muncullah Mesty ditengah-tengah mereka. Mesty adalah mantan istri Adrian!. Apa?!!. Iya... dan Mesty pulalah yang Adrian sebut sebagai seorang teman yang ia tunggui saat sakit di rumah sakit saat itu. Didepan matanya sendiri, Mona melihat Mesty selalu bersikap manja terhadap Adrian, dan Adrian pun tetap bersikap baik dan ramah. Grgrgrrrhh.... dasar lelaki... -__-

Namun, disaat Mona merasakan keraguan, Adrian justru menyatakan cintanya kepada Mona.

Hari pernikahan Sophie dan Maxi akhirnya tiba, disaat semuanya sudah siap hanya tinggal menunggu kedatangan mempelai pria beserta keluarganya, Mona memberitahu Sophie, yang sudah sangat cantik berbalut gaun pengantin, bahwa handphone Sophie yang dititipkan kepadanya terus berbunyi. Sambil berusaha menghilangkan kegugupannya, Sophie mengecek pesan-pesan yang masuk dan ia sedikit kaget ketika ada nama Maxi juga mengirim pesan singkat kepadanya. Pesan dari Maxi itu menyatakan bahwa ia tidak bisa menikah dengan Sophie. Secepatnya ia membalas pesan tersebut, bahwa ia juga tidak bisa menikah dengan Maxi. Sophie tertawa dan kemudian menyimpan kembali ponselnya, karena ia hanya mengira Maxi mengerjainya untuk mengurangi kegugupan mereka. Sayangnya, waktu terus berlalu dan mempelai pria tidak kunjung datang, sampai kemudian, salah satu sahabat Sophie membaca kicauan Maxi di akun twitternya. Melalui twitnya, Maxi mengumumkan bahwa pernikahannya batal dilaksanakan. Mengetahui itu, Sophie sangat sedih dan kemudian tidak sadarkan diri. Sophie yang malang, ia diputuskan secara sepihak oleh Maxi, tepat dihari pernikahan yang telah mereka rencanakan bersama.

Mona dan kedua orangtuanya terus berusaha menghibur Sophie. Dan lagi, Sophie mengumumkan sebuah permintaan izin kepada keluarganya. Kali ini ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah ke Afrika. Bahahaa... memang, begitulah dia, saat memiliki masalah berat ia selalu berkeinginan untuk berangkat ke benua Afrika. Berhasil dibujuk untuk tidak kuliah jauh-jauh ke Afrika, Sophie akhirnya hanya meminta izin untuk berlibur saja ke Bali. Padahal sesungguhnya, ia berangkat ke Bali tidak benar-benar berniat untuk liburan, tetapi, ia berniat untuk mencari Maxi yang menurut informasi yang ia dapat, Maxi kini bekerja di salah satu hotel mewah di Bali. Sophie ingin, agar Maxi membayar tagihan kartu kreditnya yang hampir mencapai Rp. 30 juta, yang selama ini dipakai oleh Maxi berbelanja kebutuhan pribadinya selama mereka berpacaran. Sedangkan Sophie saat ini tidak mampu membayar itu semua, saat ini pula ia sudah tidak memiliki penghasilan sendiri, karena beberapa minggu menjelang pernikahan, Maxi sempat berkata, setelah menikah, ia ingin Sophie tidak lagi bekerja, ia hanya ingin Sophie menjadi seorang ibu rumah tangga.  

Demi mengurangi biaya liburan Sophie di Bali, Mona menyarankan sekaligus mengharuskan Sophie agar selama di Bali ia tidak menyewa penginapan tapi tinggal saja dirumah temannya semasa kuliah, Bara. Sesampainya di Bali, Sophie bertemu dengan Bara, sesosok laki-laki yang menurutnya sangat angkuh, acuh, sombong, tidak pernah tersenyum dan selalu bersikap sini kepadanya. Sungguh, menurut Sophie, tidak ada baik-baiknya dari diri Bara. Bara adalah seorang laki-laki yang sangat aneh dan menyebalkan.

Bagaimanakah kelanjutan kisah kakak beradik, Mona dan Sophie ini?

Ini adalah gambaran dari sosok Mona dan Sophie.
Iya betul, buku ini dilengkapi ilustrasi, ini menjadi point plus yang membuat buku ini menjadi menarik saat dibaca sekaligus membantu pembaca membayangkan sosok tokoh-tokohnya. Meskipun tidak seluruh tokoh-tokoh dalam cerita ini diilustrasikan.
Akankah Mona menerima cinta Adrian? Bagaimana dengan Mesty yang selama ini justru masih terlihat dekat dengan Adrian?
Dan di Bali, apakah Sophie berhasil menemukan Maxi untuk memaksanya membayar utang kartu kreditnya? Berhasil pulakah Sophie mendapat jawaban tentang mengapa Maxi dengan begitu saja memutuskan hubungan tepat dihari pernikahan mereka? Atau justru, malah di Bali itulah Sophie akan menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya yang kemudian akan mengubah hidupnya?

Penasaran? Silahkan baca bukunya yaa... :))

Kekurangan dan Kelebihan
Setelah membaca buku ini sampai dengan selesai, beberapa saat saya terdiam dan berpikir. Ini bacaannya ringan, asik, beralur cepat dan sekalipun bertema kehidupan sehari-hari yang kemudian bisa dengan mudah ditebak kemana arah ceritanya, tapi tidak membosankan. Sayangnya saya tidak menemukan korelasi antara judul dengan isi ceritanya. Alias gak nyambung. Kenapa? Karena tokoh Sophie dalam cerita ini tidak/belum pernah melakukan, berencana atau direncanakan honeymoon, bahkan sampai cerita berakhir, Sophie justru masih belum menikah. Memang ada bagian saat Sophie bercerita tentang pernikahan impiannya bahwa setelah menikah, ia ingin bisa berbulan madu ke Paris, tapi itu juga tidak terlalu menjadi ambisinya. Kalau, iya kalau... sekali lagi... kalau, hehehe... buku ini cetak ulang dan ada perubahan judul, dan saya boleh kasih saran, mungkin judul : "I Hate You Then I Love You", itu rasanya akan lebih tepat dan nyambung dengan isi ceritanya. Hehehe... Eh tapi itu kan judul lagunya Celine Dion ya? Iya itu salah satu judul lagu favorit saya. Atau mungkin : "Cinta akan datang tepat pada waktunya". Atau... atau apa ya, terserah penulisnya aja kali ya, kok saya maksa banget, hehehe...

Dari segi tampilan, untuk desain jilidnya, jujur saya kurang suka. Terlalu ramai dengan banyaknya aksen stiker-stiker tersebut. Padahal sebenarnya dengan mengambil tema warna hitam dan putih itu sudah bagus, berpotensi menjadi cover yang manis, sederhana dan elegan. Lalu tiba-tiba ada muncul pula bunga mawar merah besar di pojok kiri bawah itu, jadinya terlihat enggak banget... :(
Untuk desain bagian dalam bukunya, aksen titik-titik pada kertasnya itu cukup mengganggu bagi saya.

  

Pada awal-awal memang terasa unik, terasa ada variasi jika dibandingkan dengan kertas polos biasa, tapi semakin banyak halaman yang dibaca, itu tadi... saya kok ya jadi pusing liat desain titik-titik itu, dan pas mengarahkan pandangan setelah menatap halaman demi halaman bukunya, saya juga jadi melihat ada banyak titik-titik di pandangan saya untuk beberapa saat. Entah itu istilah optiknya apa ya, saya lupa...dan mungkin saya terlalu lebay dengan menuliskan tentang ini, tapi begitulah kenyataannya.

Ada beberapa typo yang saya temukan :
1. "Untung aku langsung lari dan mencegat taksi yang baru menuruni penumpang di depan mobil." (halaman 44)
Berdasarkan konteks kalimat tersebut, penggunaan kata yang tepat adalah "menurunkan". Dari KBBI :
---> Menuruni (kata kerja) : turun ke
Contoh : menuruni lembah
---> Menurunkan (kata kerja) : membawa (menjadikan, dalam hal ini : penumpang/muatan) turun atau bergerak kebawah/keluar dari, dalam hal ini mobil taksi
Contoh : menurunkan muatan

2. "Seru, kaya nonton infotainment." (halaman 45)
Berdasarkan konteks kalimatnya, penggunaan kata yang tepat adalah "kayak" bukan "kaya". Dari KBBI :
---> kayak/ka·yak/ memiliki pengertian : seperti; sebagai
---> kaya/ka·ya/ memiliki pengertian : mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya)

3. "Hulu hati" (halaman 84), berbekal dari informasi yang saya ketahui selama ini, ungkapan yang benar adalah Ulu hati. *CMIIW* :)

4. "Perasaanya" (halaman 134), seharusnya : "Perasaannya"

5. "... diakusi..." (halaman 242), seharusnya :"... diakui..."

6. "...panti ashuan..." (halaman 243), seharusnya : "... panti asuhan..."

7. "...mengahadapi..." (halaman 246), seharusnya : "... menghadapi..."

8. "... melayanin..." (halaman 174), seharusnya : "... melayani..."

9. "... bahwan...", (halaman 248), seharusnya : "... bahwa..."

10. "... akarab...", (halaman 255), seharusnya : "... akrab..."

11. "... isitimewa... " (halaman 255), seharusnya : "... istimewa..."

Pada halaman 201 - 202 saya menemukan cerita dari adegan saat Adrian mengajak Mona untuk makan siang, yang kemudian Mona menolaknya karena sudah ada janji sebelumnya untuk makan siang bersama teman-teman karyawan yang lain. Nah, pada halaman 203 - 204, cerita adegan tersebut terulang alias tertulis kembali, namun seperti sudah mengalami proses pengeditan (tidak persis sama dengan yang tertulis pada halaman 201 -202), dan setelah itu cerita berlanjut. Ini sebenarnya tidak begitu mengganggu, hanya saja kesannya tidak profesional dan begitu sangat kurang telitinya pada saat proses editing. Lagi, kalau suatu saat buku ini mengalami cetak ulang, pada bagian ini, buang saja halaman 203 dan 204 tersebut, selanjutnya halaman dilanjut dengan menyambung mulai dari halaman 201 - 202. 

Sejujurnya, saya kurang suka jika menemukan penggunaan kata yang tidak baku pada sebuah buku pada bagian deskripsi (pada bagian dialog, itu tidak menjadi masalah), pada buku ini kata tidak baku itu salah satunya, misalnya kata "nggak" pada bagian deskripsi, di kalimat pertama, halaman pertama, bab pertama buku ini. Namun, untungnya saya tidak menemukan banyak hal seperti itu pada buku ini.

Untuk kualitas kertas jilid, kertas bagian dalam buku, ukuran, bentuk serta spasi huruf, tidak ada masalah. Semuanya Oke!

Dari segi cerita, saya merasa cerita dan karakter para tokohnya masih hambar, belum tergali dengan baik dan mendalam. Misalnya saja, Adrian dan Mona, jika di telisik, sebenarnya kisah mereka gak jauh berbeda dengan Sophie dan Bara. Karakter Mona dan Sophie, selai hanya dari fisik dan kebiasaan, tidak ada lagi hal yang membuat mereka benar-benar spesial secara masing-masing.

Untuk penyampaian cerita, saya suka sekali dengan cara penulis yang memilih menggunakan point of view yang berbeda di setiap babnya, bergantian antara Mona dan Sophie. Ini membuat saya sebagai pembaca, merasa terus penasaran untuk terus membaca bab-bab berikutnya tanpa berhenti. Saya hanya membutuhkan 4 jam saja untuk membaca buku ini sampai dengan selesai. Diselingi, minum, ambil minum, dan mengatur playlist musik yang saya dengar, hehehe...

Selain itu, aku juga suka banget sama ide penulis yang menyelipkan rubrik konsultasi di antara pergantian babnya. Dan, duh.. itu lho yang dibahas kok mewakili banget pertanyaan-pertanyaan aku ya... hahaa... kayak misalnya, gimana sih cara menghadapi dan menjawab orang yang selaluuu dengan tanpa merasa dosa bertanya : "Pacarnya yang mana?". Nah, di buku ini ada,lho... dibahas. Eh, kamu lagi sedih karena patah? Di buku ini juga ada cara-cara untuk mengendalikan emosi kamu disaat-saat seperti itu. Atau justru saat ini, kamu sedang merasa jatuh cinta, suka sama seseorang? Tapi ada kemungkinan orang itu gak suka sama kamu? Duhh...tapi jangan khawatir, di buku ini, iyaa...masih di buku ini juga, ada tips-tips untuk membuat orang yang kamu suka jadi tergila-gila sama kamu. Ayo, tunggu apa lagi? Baca dan praktekan tips-tipsnya. Soal berhasil atau tidak, itu yaa... tergantung usaha dan doa kamu. Hehehe... 

Amanat
Dengan tema kehidupan sehari-hari, bergenre komedi romantis, saya menangkap beberapa amanat yang disampaikan penulis melalui cerita pada buku ini :
1. Keluarga adalah hadiah terbesar dan terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Begitu juga sebaliknya, percayalah, bahwa diri kita pun sangatlah berarti bagi keluarga kita.

2. Pandai-pandailah dalam memilih teman, sahabat apalagi calon pasangan. :P

3. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Seseorang yang terlihat baik, manis dan perhatian bisa jadi memiliki sifat asli yang tidak terpuji. Begitu pula sebaliknya, bisa jadi seseorang yang terlihat tidak baik justru dia memiliki akhlak yang baik.

4. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Selagi masih ada waktu untuk berpikir, pikirkanlah dengan matang keputusan yang akan kamu ambil tersebut.

5. Hargailah orang yang menyayangimu dengan tulus, minimal beri dia kejelasan hubungan kalian. :P

6. Jadilah diri sendiri, syukuri apa yang telah kau miliki. Kamu itu unik dengan kelebihan kekuranganmu sendiri. 

7. Hidup ini kadang memang terasa berat untuk dijalani, tapi percayalah bahwa akan ada jalan keluar untuk setiap permasalahan dan kesulitan yang kita hadapi.

Kutipan-Kutipan Favorit
1. "Aku nggak peduli kamu kurus atau gemuk, yang penting kamu sehat." (halaman 215)

2. "... wanita yang hanya mengandalkan kecantikannya itu bodoh. Kecantikan itu seperti aset yang setiap harinya menyusut. Setiap hari nilainya terus menurun. Aset-aset seperti itu nggak bernilai." (halaman (215)

3. "Aku nggak bisa menjalani hubungan kayak gini. Aku cuma minta kamu tegas aja" (halaman 217)

4. "Hidup nggak bisa bisa dihancurkan. Hidup terlalu keras dan tangguh untuk bisa hancur." (halaman 226)

5. "Kenapa aku suka sama kamu? Apa suka sama seseorang harus ada alasan? Nggak bisa ya aku mencintaimu tanpa alasan?" (halaman 234)

6. "Jatuh cinta adalah hal terindah yang bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia. Nikmatilah anugerah cinta yang kamu alami." (halaman 251)

7. "Aku hanya ingin mencintai dirinya, hari ini, esok, dan seterusnya bahkan sampai aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jatuh cinta kepadanya." (halaman 256)

Rating Time!
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, saya menyukai buku ini. Kisah yang sederhana, cerminan kehidupan dan kisah cinta dalam kehidupan nyata sehari-hari, tidak membosankan, menarik untuk diikuti. Ditambah dengan selipan kuis, dan rubrik curhat, menjadikan buku terasa lebih "hidup" dibandingkan dengan buku-buku lain yang menyajikan cerita dengan tema serupa.

Iya, 3 bintang untuk buku ini. Yeayy!! :)


Recommended buat kamu yang menyukai bacaan ringan, yang diselipi pesan-pesan kehidupan seputar kehidupan dan cinta, baik itu cinta kepada keluarga, pasangan, teman dan sahabat. Dijamin, buku ini bakal bikin kamu kesaaal, senyam-senyum, ketawa ngakak dan berteriak : "aaah... kurang nih ceritanya, masih penasaran banget"

Terima kasih kepada mbak Retha, untuk kiriman bukunya. Terima kasih atas kepercayaannya. Maaf, lelet ini mengerjakan PRnya, hehe... Selamat yaa untuk buku barunya ini. Semoga disukai dan bisa memberi inspirasi positip bagi para pembacanya. Sukses terus yaa untuk kedepannya, makin produktif... pokoknya ditunggu terbit buku-buku berikutnya karya mbak Retha, dan... anu, duh gimana ya bilangnya.... itu lho... aku suka sama Bara. Hihihii... :)

No comments :

Post a Comment