Wednesday, January 25, 2017

Book Review : It Had To Be You by Susan Elizabeth Phillips

No comments
Bagi Phoebe Somerville, tim football bernama Chicago Stars jelas bukan sebuah warisan yang glamor. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan harus berhadapan langsung dengan si pelatih, Dan Celebow, yang tak hanya seksis tapi juga pemarah. Buruknya lagi, ternyata perasaan itu timbal-balik. Di mata Dan, Phoebe adalah bos yang paling dia benci setengah mati, tak lebih dari sekadar perempuan tak berotak yang bahkan sama sekali tak tahu-menahu tentang aturan permainan football. Benar-benar tak berguna!

Jadi, apakah ada penjelasan yang logis tentang ketertarikan Dan kepada Phoebe? Lalu, kenapa bagi Phoebe, bibir Dan yang kasar dan kurang ajar itu menyebalkan sekaligus menggoda untuk dicium? Api dan bensin ditakdirkan untuk saling menghancurkan, bukannya malah saling jatuh cinta... dan membakar satu sama lain dengan gairah yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

Ya Tuhan. Ini memang benar-benar kisah cinta yang tak masuk akal!

Paperback, 504 halaman
Diterbitkan oleh Gagas Media, April 2011 
(Pertama kali terbit 1 Januari 1994)
Genre : Fiksi, Romance, Dewasa, Olahraga, Humor

Komedi, terutama komedi romantis adalah salah satu genre bacaan favorit saya. Tapi justru untuk buku pemenang Laughter Romance Award tahun 2000 ini, yang awalnya saya pikir, saya akan sangat menyukai buku ini, tapi ya... ternyata tidak. Lebih tepatnya ada bagian-bagian cerita yang saya suka dan ada bagian-bagian yang tidak saya suka. Tidak suka disini maksudnya yaa,benar-benar gak suka, haha...

Phoebe Somerville, tokoh utama perempuan pada cerita ini digambarkan sebagai sesosok perempuan dengan masa kecil yang menyedihkan. Ia kerap mendapat hinaan karena badannya yang gemuk, kemudian ia mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh saudara sepupunya. Sebuah pengalaman yang begitu pahit untuk Phoebe, terlebih ia tidak bisa berbagi kesedihannya itu dengan orang lain. Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya tidak pernah mempercayai sedikitpun kata-katanya. Phoebe tumbuh menjadi remaja yang rapuh. Beranjak dewasa, ia memutuskan untuk pergi ke Paris dan menjadi seorang model. Yak! model!. :P

Kemudian, sosok Phoebe yang rapuh telah bertransformasi menjadi sosok perempuan muda yang cantik dengan tubuh yang indah, cerdas dan juga tangguh. 

Ditengah pro dan kontra terhadap karienrnya sebagai sebagai model lukisan telanjang, ckckk... ia mendapat kabar bahwa ayahnya yang sudah cukup lama tidak iatemui, meninggal dunia. Usai acara pemakaman elegan dengan dihadiri oleh orang-orang terhormat yang kemudian berubah kacau karena ulah Pooh, anjing kesayangan Phoebe, Phoebe diberitahukan pengacara ayahnya bahwa ia mendapatkan warisan berupa tim football profesional bernama Chicago Star yang paling terkenal saat itu. Sesuatu yang jauh diluar dugaan Phoebe. Ia justrumengira tidak akan mendapatkan satu senpun harta warisan, mengingat selama ini ia memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya. Ia semakin bingung karena tidak tahu apa-apa tentang football.

Melalui Chicago Star, Phoebe bertemu dengan Dan Calebow, pelatih Chicago Star yang dikenal sebagai laki-laki tampan namun pemarah. Bagi Dan, Phoebe tak lebih dari sekadar perempuan tak berotak dan tak berguna. Begitu pula sebaliknya, bagi Phoebe, Dan adalah laki-laki kasar yang menyebalkan. 

Lalu apa jadinya Chicago Star jika ide-ide dan pemikiran pemilik dan pelatihnya saja selalu bertolak belakang... dan bagaimana bisa ditengah situasi seperti itu Dan dan Phoebe justru saling tertarik... -_-

2/5 bintang untuk buku ini. Kenapa? Saya tidak suka dengan bagian tentang kebiasaan hidup bebas beberapa tokohnya. Meskipun sebenarnya ini bisa sangat dimaklumi karena Amerika menjadi setting tempat pada cerita ini. Tapi saya suka dengan ide penulis yang menggabungkan tema olahraga dan roman menjadi sebuah cerita yang ternyata bisa menarik untuk diikuti, juga bagian dialog-dialog antar tokohnya yang kocak dan cerdas. Buku ini juga mencoba mengingatkan pembacanya bahwa manusia pada dasarnya baik, bahwa ada pahlawan setiap hari dimana saja, dan bahkan ketika hidup dirasa berada pada masa paling kelam, percayalah kegelapan tidak akan pernah menang.

No comments :

Post a Comment