Wednesday, March 16, 2016

Book Review : Aurora by Kim Stanley Robinson

1 comment
"... There are many other living intelligences out there, no doubt, but they can't leave their home planets any more than we can, because life is a planetary expression, and can only survive on its home planet."
(Aurora by Kim Stanley Robinson - page : 428)

Cover of the novel Aurora by Kim Stanley Robinson
Language : English
Pages : 480
Media type  : Ebook
Genre : Science fiction
Publisher : Orbit
ISBN 9780316098106
Publication date : July 7, 2015 (1st Edition)

*  *  *  *

A generation ship is launched from Saturn in 2545, consisting of twenty-four self-contained biomes and an average population of two thousand people. One hundred sixty years and approximately seven generations later it is beginning its approach to the Tau Ceti system to begin colonization of a planet's moon, an Earth analog, which has been named Aurora.

Devi, the ship's de facto chief engineer and leader, is concerned about the decaying infrastructure and biology of the ship: systems are breaking down, each generation has lower intelligence-test scores than the last, and bacteria are mutating and evolving at a faster rate than humans. She tells the ship's AI, referred to simply as 'Ship,' to keep a narrative of the voyage. After having some trouble with understanding the human concept of narrative, Ship eventually elects to follow the life of Devi's daughter Freya as a protagonist.

As a teenager, Freya travels around the ship on her wanderjahr, and learns that many of the ship's inhabitants are dissatisfied with their enclosed existence and what they perceive as a dictatorship. Movement is strictly limited for most people, reproduction is tightly controlled, and education in science and mathematics is mandatory. Freya's wanderjahr comes to an end when she is called home as Devi grows sick from cancer and dies.

The ship arrives in the Tau Ceti system and begins to settle Aurora, a moon of Tau Ceti e. It soon becomes apparent that extraterrestrial life is present in the form of primitive prions, which infect and kill most of the landing party. The surviving settlers attempt to return to the ship, and some of those remaining onboard kill them in the airlock to maintain quarantine, leading to a violent political schism throughout the ship. Ship itself, which has been moving towards self-awareness, takes physical control of the situation by lowering oxygen levels and separating warring factions, referring to itself as "the rule of law." Under Ship's moderation, a more peaceful debate takes place between the inhabitants about what to do now that Aurora is known to be inhospitable. Eventually it is decided that some settlers will remain on a different planet in the Tau Ceti system which is likely to be free of hostile life; others decide to return to Earth in the ship.

On the voyage back to Earth, the ship's biomes continue to deteriorate as bacteria flourish and crops fail. The humans soon face famine, and opt to experiment with an untested form of cryogenic freezing, which is largely successful. Upon returning to the Solar system, Ship is forced to decelerate by means of gravity assist between various planets, a process which takes twelve years. During this time, with the full communications data of humanity available to it, it learns more about why it was launched in the first place - simply for expansionism - and denounces its builders as "criminally negligent narcissists." Ship manages to safely drop its humans off on a pass of Earth, but fails to successfully make a final gravity slowdown past the Sun, and is destroyed.

Freya and the other "starfarers" have trouble adjusting to life on Earth, especially with many Terrans hostile to them for a perceived sense of ingratitude and cowardice. At a space colonization conference, a speaker says humanity will continue to send ships into interstellar space no matter how many fail and die, and Freya assaults him. Eventually she joins a group of terraformers who are attempting to restore the Earth's beaches after their loss during previous centuries' sea level rise. While swimming and surfing, she begins to come to terms with life on Earth.

Major themes in Aurora include complexities of life aboard a multi-generational starship, artificial intelligence, and the feasibility of star travel.

About the Author
Kim Stanley Robinson, (born : March 23, 1952 (age 63)
Waukegan, Illinois, US) is an American science fiction writer, probably best known for his award-winning Mars trilogy.

His work delves into ecological and sociological themes regularly, and many of his novels appear to be the direct result of his own scientific fascinations, such as the 15 years of research and lifelong fascination with Mars which culminated in his most famous work. He has, due to his fascination with Mars, become a member of the Mars Society.

Robinson's work has been labeled by reviewers as "literary science fiction".

Excerpted from Wikipedia.
*   *   *   *   *

This is the 25th book read of 2016 : Aurora by Kim Stanley, and i really liked this book. An intriguing and exceedingly detailed story of a journey to another planet frought with the biological, sociological and anthropological issues of interstellar travel. I was also introduced to the degree of "hardness" in science fiction. Highly Recommended!

And now, i think... i need more Robinson's books. Now. Yes, now!! OMG, NOW!!!

Thursday, March 3, 2016

Gerhana Matahari Total di Indonesia

Gerhana merupakan peristiwa astronomis ketika sebuah objek menghalangi pandangan ke objek lainnya.

Gerhana Matahari terjadi ketika piringan Bulan menutupi sebagian atau seluruh piringan Matahari. Terjadi pada fase bulan baru, ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.

Skema Terjadinya Gerhana Matahari
Ketampakan gerhana bergantung pada jarak Bulan, Matahari, dan posisi pengamat. Gerhana Matahari Total (GMT) hanya dapat diamati dari daerah yang dilintasi bayangan umbra Bulan. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) dapat dilihat dari daerah yang dilintasi bayangan penumbra Bulan.

Skema Terjadinya Gerhana Matahari Beserta Letak Posisi Umbra dan Penumbra 
Pada 9 Maret 2016, sebagian besar Pasifik, meliputi Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia akan dapat menyaksikan gerhana matahari parsial.

Di Timur Samudera Pasifik, gerhana matahari total akan terjadi selama lebih dari 4 menit. Sedangkan, wilayah daerah lainnya mengalami gerhana matahari parsial. Sebagian besar India dan Nepal akan mengalami gerhana matahari parsial. Sementara itu, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini akan dapat menyaksikan lebih dari 50% gerhana parsial. Sedangkan Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Thailand akan melihat sekitar 50% gerhana matahari parsial. Sementara Australia, China, Jepang dan Alaska akan mendapatkan kurang dari 50% gerhana parsial.

Gerhana Matahari Total di Indonesia
Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 akan menjadi peristiwa menarik dan yang paling dinanti masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, jalur totalitas dari peristiwa Gerhana itu akan melintasi Indonesia dari barat ke timur.

Sebelumnya, gerhana matahari total yang melintasi Indonesia terjadi pada tanggal 24 Oktober 1995. Di tahun 1980-1990, terjadi 3 gerhana total yakni 11 Juni 1983, 22 November 1984 dan 18 maret 1988. Setelah 9 Maret 2016, gerhana matahari total berikutnya akan terjadi tanggal 20 April 2042 dan 12 September 2053.

Pada tanggal 20 April 2023 dan 25 november 2049, Indonesia akan dilewati gerhana hibrida (gerhana matahari cincin dan total yang terjadi bersamaan dalam satu gerhana), dan sebagian wilayah Indonesia berkesempatan melihat gerhana matahari total.

Selama 2 abad atau dari tahun 1901-2100 (abad 20 dan 21), Indonesia dilintasi oleh 14 Gerhana Matahari Total termasuk di dalamnya gerhana hibrida.

Gerhana Matahari Total terjadi setiap 18 bulan atau 1,5 tahun. Atau 2 gerhana matahari total dalam 3 tahun. GMT terakhir di Indonesia terjadi tahun 1995 dan yang berikutnya akan terjadi tahun 2042. Tapi di tahun 2023, saat gerhana matahari hibrida, sebagian wilayah Indonesia akan menyaksikan gerhana matahari total.

Gerhana Matahari Total di Indonesia memang langka karena tidak setiap gerhana matahari total terjadi di tempat yang sama di dunia. Berdasarkan perhitungan statistik, dari seluruh gerhana matahari total yang sudah terjadi, rata-rata, GMT akan kembali ke lokasi yang sama (bukan negara) dalam kurun waktu 375 tahun. Artinya satu lokasi yang sama secara rata-rata bisa mengalami gerhana matahari total, satu kali dalam 375 tahun.

Akan tetapi, ini hanya perhitungan statistik. Pada kenyataannya, satu lokasi yang sama bisa mengalami GMT kurang dari 375 tahun atau bahkan bisa menunggu lebih dari 1000 tahun untuk mengalami kembali GMT.

Indonesia akan bisa menikmati kembali gerhana matahari total saat terjadi gerhana matahari hibrida pada tahun 2023. Tapi bukan pada lokasi yang sama seperti sekarang. Jalur total akan melewati perairan banda dan salah satu kota yang bisa melihat totalitas adalah Biak.

Gerhana akan berlangsung pada pagi hari,
ketika Matahari beranjak naik dari ufuk timur

Gerhana Matahari dengan geometri yang persis sama di setiap gerhana akan terjadi lagi dalam rentang 18 tahun 11 hari 8 jam. Siklus ini dinamai siklus Saros. Gerhana yang terjadi dalam satu siklus saros akan terjadi di titik simpul orbit yang sama dengan Bulan berada pada jarak yang sama dari Bumi dan di waktu yang sama.  Lokasi terjadinya gerhana dalam satu siklus Saros akan bergeser atau tidak di lokasi yang sama.

Satu siklus Saros berlangsung selama 1226 -1550 tahun dan terdiri dari 69 – 87 gerhana yang merupakan perpaduan gerhana sebagian, total, cincin dan hibrida. Dari keseluruhan gerhana dalam satu siklus Saros, terdapat 40 – 60 perpaduan gerhana total, cincin dan hibrida.

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 merupakan gerhana seri saros 130. Gerhana yang persis sama sebelumnya terjadi tanggal 26 Februari 1998 dan gerhana berikutnya akan terjadi 20 Maret 2034. Ketiganya merupakan gerhana total dengan durasi total 4 menit 9 detik.

Sumber dan referensi :
wikipedia/Gerhana Matahari Total 9 Maret

Tuesday, March 1, 2016

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

No comments
Gerhana Matahari adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bulan sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.

Sumber gambar :
Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016
Sebuah Gerhana Matahari dikatakan sebagai Gerhana Matahari Total apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.

Animasi Gerhana Matahari Total 29 Maret 2006
Sumber/Credit : Astro Surf/Pedro Re
Peta Lintasan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016
Pada gambar dibawah ini, ditampilkan Peta Lintasan Gerhana Matahari Total (GMT) 9 Maret 2016.

Peta lintasan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di dunia
Sumber gambar :

Sebagaimana terlihat pada peta diatas, GMT 9 Maret 2016 dapat diamati di Asia bagian Selatan, Asia bagian Timur, Asia bagian Tenggara, Australia bagian Utara, Samudra Pasifik, dan sedikit daerah Amerika bagian Utara. Daerah yang akan terlewati jalur totalitas, yang ditandai dengan dua buah garis merah yang berdekatan, adalah Indonesia dan Samudra Pasifik.

Sedangkan untuk jalur totalitas GMT 9 Maret 2016 yang melewati Indonesia dapat lebih jelas dilihat pada gambar berikut :

Peta lintasan Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di Indonesia
Sumber gambar :
Gambar peta diatas merupakan bentuk peta magnitudo gerhana, yaitu perbandingan antara diameter Matahari yang tergerhanai oleh Bulan dan diameter Matahari secara keseluruhan saat puncak gerhana terjadi. Jika magnitudo gerhananya 1 atau lebih dari 1, Matahari tergerhanai total. Namun, jika magnitudonya kurang dari 1, Matahari tergerhanai sebagian. Titik sentral gerhana yang menandakan segarisnya titik pusat Matahari, Bulan dan Bumi ditandai dengan garis berwarna biru.

Sebagaimana terlihat pada gambar peta diatas, jalur totalitas gerhana ini akan melewati 12 provinsi, yaitu Sumatera Barat bagian Selatan, Bengkulu, Jambi bagian Selatan, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat bagian Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Adapun daerah lainnya akan mengamati GMT 9 Maret 2016 berupa Gerhana Matahari Sebagian dengan magnitudo gerhana tertentu, sebagaimana dapat dilihat pada gambar diatas.

Ilustrasi proses Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 
Pada gambar dibawah ini, ditampilkan ilustrasi proses GMT 9 Maret 2016 di daerah yang mengalami totalitas.

Ilustrasi proses terjadinya GMT 9 Maret 2016
sumber gambar :
Gerhana dimulai saat Kontak Pertama terjadi, yaitu ketika piringan Bulan, yang ditampilkan berupa lingkaran putih dengan garis putus-putus, mulai menutupi piringan Matahari, yang ditampilkan berupa lingkaran berwarna kuning. Seiring berjalannya waktu, piringan Matahari yang tergerhanai akan semakin besar hingga akhirnya Bulan mulai menutupi seluruh piringan Matahari. Waktu saat peristiwa ini terjadi disebut Kontak Kedua dan akan berakhir saat Bulan terakhir kali menutupi seluruh piringan Matahari, yaitu saat Kontak Ketiga. 

Waktu dari Kontak Kedua hingga Kontak Ketiga tersebut disebut sebagai Durasi Totalitas atau Fase Totalitas, yang lama waktunya bervariasi dari satu kota ke kota lainnya. Sebagai contoh lama durasi totalitas terlama pada GMT 9 Maret 2016 ini di Indonesia adalah di Maba, Maluku Utara, yaitu 3 menit 19,5 detik dengan magnitudo gerhana sebesar 1,019. Adapun lama fase totalitas dan magnitudo gerhana di kota-kota lainnya kurang dari waktu tersebut.

Pada saat fase totalitas tersebut, kecerlangan langit di lokasi-lokasi yang terlewati jalur totalitas tersebut akan meredup, hingga seperti saat fajar atau senja. Puncak keredupannya adalah saat terjadinya Puncak Gerhana, yaitu waktu di tengah-tengah fase totalitas ini. Pada saat puncak gerhana terjadi, akan tampak cahaya redup di sekitar Matahari, yang disebut sebagai korona atau mahkota Matahari.

Setelah Kontak Ketiga dilalui, piringan Matahari yang tampak tergerhanai akan semakin kecil hingga akhirnya Bulan terakhir kali menutupi piringan Matahari, yaitu saat Kontak Keempat. Lama waktu dari Kontak Pertama hingga Kontak Keempat disebut sebagai Durasi Gerhana dan lama waktunya bervariasi dari satu kota ke kota lainnya. Durasi gerhana terlama di Indonesia adalah di Jayapura, Papua, yaitu selama 2 jam 55 menit 3,0 detik.

Ilustrasi proses gerhana matahari yang teramati dari kota-kota yang tidak mengalami fase totalitas ditampilkan pada gambar berikut :

Ilustrasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 yang teramati berupa Gerhana Matahari Sebagian. Bagian kiri untuk daerah di sebelah Utara jalur totalitas. Bagian kanan untuk daerah di sebelah Selatan jalur totalitas.
Sumber gambar :
Sebagaimana terlihat, Kontak kedua dan kontak ketiga tidak akan ada pada gerhana yang teramati di kota-kota tersebut, mengingat gerhana yang teramati bukanlah Gerhana Matahari Total, namun berupa Gerhana Matahari Sebagian.

Di daerah sebelah Utara jalur totalitas, Matahari yang tergerhanai adalah pada bagian sebelah kanan dari arah pandang pengamat. Sementara di daerah sebelah Selatan jalur totalitas, Matahari yang tergerhanai adalah bagian sebelah kiri dari arah pandang pengamat. Pada saat puncak gerhana, besaran piringan Matahari yang tergerhanai bergantung pada magnitudo gerhana. Ilustrasi ini ditampilkan pada gambar berikut.

Ilustrasi magnitudo gerhana dan piringan Matahari yang tergerhanai saat puncak gerhana.
Sumber gambar :
Berdasarkan ilustrasi pada gambar diatas adalah untuk wilayah di sebelah Utara jalur totalitas. Adapun untuk wilayah di sebelah Selatan jalur Totalitas, ilustrasinya adalah pencerminan diatas, sebagaimana ilustrasi puncak gerhana yang ditampilkan pada gambar ilustrasi sebelumnya. 

Waktu Kejadian Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016
Waktu-waktu kejadian gerhana di setiap lokasi akan berbeda-beda. Peta waktu kontak awal atau Kontak Pertama GMT 9 Maret 2016 di Indonesia ditampilkan pada gambar berikut :

Waktu kontak awal saat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Indonesia
Sumber gambar :
Secara umum, GMT 9 Maret 2016 akan dimulai pada pukul 06:19:18 WIB di sebelah Selatan Bengkulu. Sementara di Indonesia waktu mulai gerhananya paling awal adalah di Kotaagung, Lampung, yaitu terjadi pada pukul 06:19:41,0 WIB. Adapun kota yang waktu mulai gerhananya paling akhir adalah di Waris, Papua yang terjadi pada pukul 08:53:44,1 WIT. 

Demikian juga waktu saat Puncak Gerhana yang akan berbeda-beda di setiap daerah. Seperti yang ditampilkan pada gambar berikut :

Waktu puncak gerhana saat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Indonesia
Sumber gambar :
Di Indonesia, daerah yang akan mengalami waktu saat puncak gerhana paling awal adalah kota Bengkulu, yang terjadi pada pukul 07:19:49,7 WIB. Adapun kota yang akan mengalami waktu puncak paling akhir adalah Jayapura pada pukul 10:17:40,8 WIT. 

Sementara itu, waktu kontak terakhir atau Kontak Keempat paling awal akan terjadi di Sinabang, Aceh yang terjadi pada pukul 08:24:46,1 WIB. Adapun waktu kontak terakhir paling akhir akan terjadi di Jayapura, Papua pada pukul 11:48:46,6 WIT. Peta waktu kontak terakhir ini ditampilkan pada gambar berikut ini :

Waktu kontak akhir saat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Indonesia
Sumber gambar :
Secara umum, gerhana dapat diprediksi waktu dan tempat kejadiannya. Untuk memprediksi keberulangannya secara global, gerhana dikelompokkan ke dalam suatu kelompok yang disebut Siklus Saros tertentu.

Gerhana-gerhana pada Siklus Saros tertentu akan berulang hampir setiap 18 tahun 11 hari. Sebagai contoh, GMT 9 Maret 2016 adalah anggota ke 52 dari 73 anggota pada Siklus Saros ke 130.

Gerhana sebelumnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT yang terjadi pada 26 Ferbruari 1998. Adapun Gerhana sesudahnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 tersebut adalah GMT yang terjadi pada 20 Maret 2034.

Meskipun peristiwa GMT di suatu lokasi dapat diprediksi dengan baik, peristiwa tersebut tidak berulang di lokasi tersebut dengan siklus tertentu. GMT sebelumnya yang dapat diamati di Indonesia adalah GMT pada 11 Juni 1983 yang jalur totalitasnya melewati Jawa, Sulawesi, dan Papua juga GMT pada 18 Maret 1988 yang jalur totalitasnya melewati Sumatera dan Kalimantan.

Adapun GMT yang akan kembali dapat diamati di Indonesia adalah GMT pada 20 April 2023 yang jalur totalitasnya melewati Papua dan GMT pada 20 April 2042 yang jalur totalitasnya melewati Sumatera dan Kalimantan.

Ketampakan Gerhana Matahari 9 Maret 2016
Berikut adalah skema gambar ketampakan gerhana matahari 9 Maret 2016. Baris atas untuk wilayah di sebelah Utara jalur GMT (Gerhana Matahari Total), seperti Medan, Pontianak, dan Manado. Baris tengah untuk wilayah jalur GMT, seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, dan Ternate. Baris bawah untuk wilayah di sebelah Selatan jalur GMT, seperti Lampung, Jakarta, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, dan Jayapura.

Gerhana akan tampak di langit Timur. Saat matahari mulai meninggi, bulan mulai menutup bagian atas matahari. Semakin matahari meninggi, bulan semakin turun menutup piringan matahari. Pada saat puncak gerhana, untuk jalur GMT akan tampak korona matahari, sedangkan untuk wilayah lain Indonesia akan tampak "matahari sabit" tegak. Kemudian, seiring meningginya matahari bulan makin turun. Akhirnya bulan akan meninggalkan matahari dari sisi bawah piringan matahari.

Demikian informasi terkait peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Semoga bermanfaat. Informasi lengkap mengenai keteramatan GMT 9 Maret 2016 di berbagai wilayah di Indonesia bisa diunduh langsung dari situs LAPAN.

Kalender Astronomi Bulan Maret 2016

1 comment
Hello, March!! I'm ready for Total Solar Eclipse 9th March 2016!!!

Selain peristiwa Gerhana Matahari Total tanggal 9 Maret 2016, yang sangat ditunggu-tunggu itu ada peristiwa-peristiwa astronomis lainnya yang juga sayang untuk dilewatkan. Apa sajakah itu?

Dari The Sky dan Info Astronomi, berikut informasi peristiwa-peristiwa Astronomi yang akan terjadi di sepanjang bulan Maret 2016 :

2 Maret 2016
Fase Bulan Separuh Akhir (Last Quarter)
Pada tanggal 2 Maret 2016 pukul 06:12 WIB, Bulan akan memasuki fase Separuh Akhir. Peristiwa ini juga menandakan sepekan lagi menuju fase Bulan Baru (New Moon) yang akan menutupi piringan Matahari sehingga terjadi Gerhana Matahari Total, pada tanggal 9 Maret 2016.

Fase Bulan Separuh Akhir ini dapat diamati dari kawasan Indonesia di langit fajar. Ia akan terbit dari ufuk Timur pada pukul 23:41 (waktu setempat) atau 6 jam 16 menit sebelum Matahari terbit. Selanjutnya, Bulan akan mencapai ketinggian 78° dari cakrawala Selatan sebelum menghilang dari pandangan karena fajar terbit sekitar pukul 05:43 waktu lokal.

Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus
Masih pada tanggal 2 Maret 2016, ketika mencapai fase Separuh Akhir, Bulan akan ditemani oleh Planet Saturnus di langit. Bulan dan Saturnus akan membuat pendekatan yang cukup dekat, mereka hanya akan terpisah 3°33' satu sama lain. Keduanya akan terbit dari ufuk Timur sekitar pukul 23:54 waktu lokal (di tanggal 1 Maret), namun baru baik diamati sejak pukul 01:00 dinihari waktu lokal (tanggal 2 Maret) ketika keduanya sudah lebih tinggi dari 10°. Baik Bulan maupun Saturnus, keduanya bisa diamati hingga Matahari terbit.

Pada saat konjungsi, Bulan akan bersinar di magnitudo -11,8, dan Saturnus di magnitudo 1,1. Keduanya akan berada di konstelasi Ophiuchus. Pada peristiwa ini, Saturnus hanya akan nampak sebagai bintang kuning keemasan tanpa cincin jika hanya diamati dengan mata telanjang.

7 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Venus
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 04.00 - 05.00 waktu setempat arah timur.

8 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Merkurius
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 04.30 - 05.00 waktu setempat.

Oposisi Jupiter
Oposisi adalah istilah ketika suatu planet eksterior berada dalam satu garis lurus dengan Bumi dan Matahari (Matahari-Bumi-Jupiter).

Karena Bumi berada di antara Matahari dan Jupiter, maka keduanya akan berada di arah berseberangan. Yakni ketika matahari terbenam di barat Jupiter akan terbit di timur, Jupiter di meridian tepat tengah malam, dan Jupiter akan tenggelam di barat saat matahari di terbit. Itu artinya Jupiter akan terlihat sepanjang malam sehingga ini jadi waktu terbaik untuk mengamati Jupiter. Ketika oposisi, Jupiter pun akan mencapai terang maksimum dengan magnitudo -2,5. Meski demikian Jupiter hanya akan terlihat sebagai bintang putih terang jika dilihat dengan mata telanjang.

Peristiwa Oposisi Jupiter pada tanggal 8 Maret 2016 ini akan terjadi pada pukul 17:46 WIB. Saat peristiwa ini terjadi, Bumi-Jupiter berjarak 664 juta kilometer, sehingga penampakan Jupiter sedikit lebih besar ketika Anda mengamatinya dengan teleskop. Sayangnya, pengamatan dengan mata telanjang tidak berdampak apa-apa, Jupiter hanya akan terlihat bagai bintang kuning keemasan di langit yang cahayanya tidak berkelap-kelip. Ketika peristiwa oposisi ini pula, Jupiter akan berada di deklinasi +06°04', yakni di sekitar rasi bintang Leo. Magnitudonya -2,4 sehingga akan sangat mudah ditemukan atau dilihat dengan mata telanjang.

9 Maret 2016
Gerhana Matahari Total
Inilah peristiwa astronomis terbaik tahun ini khususnya bagi masyarakat Indonesia. 12 provinsi di Indonesia akan dilalui jalur gerhana total, sementara sisa provinsi lainnya akan dilalui gerhana sebagian (parsial).

12 provinsi itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.

Sementara itu, untuk daerah-daerah yang dilintasi dari 12 provinsi di atas adalah, Palembang (dengan durasi gerhana 1 menit 52 detik), Belitung (2 menit 10 detik), Balikpapan (1 menit 9 detik), Luwuk (2 menit 50 detik), Sampit (2 menit 8 detik), Palu (2 menit 4 detik), Ternate (2 menit 39 detik), Bangka (2 menit 8 detik), Palangkaraya (2 menit 29 detik), Poso (2 menit 40 detik), serta Halmahera (1 menit 36 detik).

Untuk daerah lain yang tidak mendapat Gerhana Matahari Total, tetap bisa menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian. Gerhana sebagian ini terlihat di Padang (95,43%), Bandung (88,76%), Denpasar (76,53%), Kupang (65,49%), Surabaya (83,08%), Banjarmasin (98%), Manado (96,66%), Jakarta (88,76%), Pontianak (92,96%), Makassar (88,54%), serta Ambon (86,90%).

Puncak gerhana di wilayah Barat sekitar 07.20 WIB, di wilayah tengah sekitar 08.35 WITa, dan di wilayah Timur sekitar 09.50 WIT.

Melihat gerhana aman, asalkan berhati-hati. Pada fase GMS matahari terlihat silau. Secara refleks mata menghindari melihat matahari, jangan paksakan melihat matahari langsung, kecuali menggunakan filter. Pada fase total, bukalah filter, lihatlah dan abadikan gerhana secara langsung. Korona matahari sangat indah dan aman dilihat langsung, sayang untuk dilewatkan. Tetapi jangan terlalu asyik. Saat matahari mulai tersibak dari piringan bulan, cahayanya yang kuat berpotensi merusakkan retina ketika pupil mata masih membesar. Jadi menjelang akhir GMT, jangan terlalu asyik menatapnya, bersiaplah pasang filter kembali.

Shalat gerhana sebaiknya dilaksanakan sebelum fase total, lalu bersama-sama menyaksikan fase total yang sangat indah. Subhanallah, Maha Suci Allah (dari segala kekurangan) dengan segala keindahan ciptaan-Nya.

14 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Aldebaran
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 22.00 waktu setempat arah barat.

20 Maret 2016
Ekuinoks Maret (Vernal Equinox)
Vernal equinox adalah saat dimana Matahari berada di perpotongan ekliptik dan ekuator setelah sebelumnya berada di selatan ekuator. Karena hari ini Matahari tepat berada di khatulistiwa, maka panjang siang dan malam di seluruh belahan bumi sama 12 jam. Vernal equinox juga menandakan akan bergantinya musim hujan dengan musim kemarau di Indonesia. Sedangkan di belahan bumi utara menandakan akan datangnya musim semi dan di belahan bumi selatan menandakan akan datangnya musim gugur.

21 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Jupiter
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 04.00 waktu setempat.

23 Maret 2016
Gerhana Bulan Panumbra
Gerhana bulan penumbral terjadi saat Bulan memasuki bayangan semu bumi atau penumbra namun tidak sampai memasuki bayangan pusat bumi atau umbra. Karena tidak sampai memasuki umbra bumi, maka Bulan pun tidak akan terlihat seperti sedang gerhana bulan seperti umumnya. Saat terjadi gerhana bulan penumbral Bulan hanya akan sedikit lebih redup. Perubahannya pun tidak dapat diamati secara kasat mata. Puncak gerhana bulan panumbra terjadi pukul 18.47 WIB, 19.47 WITA, 20.47 WIT.

Bulan Purnama Apogee
Pada saat terjadi peristiwa ini, merupakan jarak terjauhnya bulan saat purnama ke-2 di tahun 2016 ini, sebelum mencapai puncak terjauhnya bulan April 2016.

28 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Mars
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 22.00 - 05.00 waktu setempat.

29 Maret 2016
Konjungsi Bulan - Saturnus
Peristiwa ini bisa disaksikan mulai pukul 22.30 - 05.00 waktu setempat.

Semoga bermanfaat. Semoga langit dan hari-harimu cerah.