April 20, 2026
Langit Biru Setelah Subuh
April 20, 2026"Ya Allah... jika tidak, bolehkah aku tetap memintanya?" ... Ikhlas itu memang tidak datang dengan satu tarikan napas. Akan ada fa...
"Ya Allah... jika tidak, bolehkah aku tetap memintanya?"
...
Ikhlas itu memang tidak datang dengan satu tarikan napas. Akan ada fase tersiksa, terpaksa, lalu terbiasa. Begitu, kata mereka.
Mereka juga berkata. Ikhlas itu tumbuh pelan… lewat luka.
Lewat malam-malam yang panjang, dan doa-doa yang dalam.
...
Perempuan itu tidak pernah berniat jatuh cinta.
Awalnya hanya melihat. Sekadar lewat. Sekadar tahu. Sosok pria itu hadir dengan kata-kata yang rapi, pemikiran yang matang, dan akhlak yang terlihat begitu indah. Ia dikenal banyak orang. Dikagumi. Disukai.
Dan perempuan itu… hanya satu dari sekian banyak yang diam-diam memperhatikan.
Tidak ada yang istimewa dari awalnya.
Sampai suatu hari, tanpa ia sadari, hatinya tidak lagi netral.
Ia mulai menunggu.
Mulai mencari.
Mulai mengulang.
Dan diam-diam… mulai menyebut nama pria itu dalam doanya. Cinta yang tumbuh tak mampu lagi ia bendung. Keadaan sejakun menyukitkannya, karena di saat itu pula, ia berusaha menyadarkan diri, betapa tak mungkin bagi mereka untuk bersatu. Tapi dalam diamnya, di setiap malam-malam yang sunyi ia menggelar sajadah, meminta pada pencipta-Nya, bahwa ia menginginkan pria itu, menitipkannya, memohonkan perlindungan dan kebaikan untuk pria itu.
...
Ia tahu.
Sejak awal, ia tahu ini tidak masuk akal.
Tidak ada pertemuan. Tidak ada percakapan. Tidak ada hubungan. Bahkan mungkin pria itu tak pernah tahu perempuan itu ada.
Hanya ia… dan perasaannya sendiri.
Logikanya terus berbisik, “Berhenti.”
Bahkan seringkali ia mengiyakan.
Di siang hari, ia kuat. Ia tegas. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ini tidak seharusnya dilanjutkan.
Namun setiap malam datang…
Setiap dunia menjadi sunyi…
Dan ia duduk di atas sajadahnya…
Segala ketegasan itu runtuh.
Dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, ia kembali menyebut nama itu.
Memintanya.
Mendoakannya.
Memohon agar pria itu dijaga, dilindungi, dilimpahkan kebaikan dalam setiap langkahnya.
Dan di sela-sela doa itu… terselip harapan kecil yang ia genggam erat:
“Ya Allah… jadikan dia milikku.”
Air matanya jatuh perlahan. Kadang malu. Kadang ragu. Tapi kemudian selalu penuh keyakinan.
Bahwa perasaan ini tidak tumbuh sia-sia.
Bahwa Allah yang menanamnya.
Dan Allah pula yang mampu menjadikannya nyata.
...
Hari-hari berjalan.
Harapannya tidak pernah benar-benar mati.
Ia memperbaiki diri. Ia belajar lebih banyak. Ia menata hatinya, mencoba memantaskan diri… seolah suatu hari nanti, ia akan benar-benar dipertemukan dengan pria itu dalam cara yang paling indah.
Sampai… kabar itu datang. Tanpa peringatan. Tanpa aba-aba.
Pria itu… akan menikah.
...
Dunia seakan berhenti. Tidak ada suara. Tidak ada warna. Hanya satu rasa yang memenuhi seluruh dadanya. Hancur. Bukan retak. Bukan patah. Tapi hancur, sampai tak berbentuk.
Ia tidak menangis saat pertama kali mendengarnya. Ia hanya diam. Terlalu diam… sampai terasa menakutkan.
Namun malam itu… Saat ia kembali berdiri di atas sajadahnya Semua yang ia tahan runtuh sekaligus. Tangisnya pecah. Doanya berantakan. Kata-katanya tidak lagi runtut.
Yang ada hanya rasa sakit yang mengalir tanpa henti.
...
Cintanya tidak berkurang.
Itulah yang paling menyakitkan.
Ia masih mencintai pria itu… sebesar itu.
Tapi kini, cinta itu tumbuh berdampingan dengan luka yang begitu dalam, sampai ia sendiri tidak tahu mana yang lebih menyiksa.
Ia tidak bercerita pada siapa pun.
Tidak pada ibunya.
Tidak pada kakak perempuannya.
Tidak pada sahabatnya
Tidak pada siapa pun.
Karena bagaimana mungkin menjelaskan luka dari seseorang yang bahkan tidak pernah tahu ia ada?
...
Malam-malamnya tetap sama. Sajadah itu masih ia gelar. Doa-doa itu masih ia panjatkan. Namun kini… tidak ada lagi senyum malu-malu. Tidak ada lagi harapan yang hangat. Yang ada hanya suara bergetar… kedya tangan menengadsh yang bergetar dan air mata yang jatuh tanpa jeda.
Tubuhnya mulai lelah. Matanya sembab. Dadanya sesak hampir setiap saat.
Ia ingin berhenti… tapi tidak tahu caranya.
...
Sampai suatu pagi…
Setelah subuh. Dalam sunyi yang berbeda. Ia duduk lama di atas sajadahnya. Tidak ada doa yang ia untai. Tidak ada pula tangisan. Meski hatinya begitu perih dan sesak karena rasa sakit yang semakin menjadi.
Ia hanya diam… memandangi langit pagi dari jendela kamarnya.
Biru. Bersih. Tanpa awan.
Begitu tenang..
Seolah dunia tidak pernah tahu betapa hancurnya ia di dalam.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia tidak tahu harus meminta apa. Bibirnya akhirnya bergerak. Pelan. Berat. Nyaris patah di setiap kata.
“Ya Allah… ditengah semua ketidakmungkinan ini. Dengan sungguh-sungguh, dengan segala kerendahan hatiku, masih dengan permohonan yang sama. Aku meminta pada-Mu Ya Rabb... jika memang dia baik untukku… maka dekatkan kami dengan cara-Mu… Aku mohon, ridhoilah kami. Takdirkanlah kami... untuk satu sama lain."
Ia berhenti.
Napasnya tercekat. Air matanya jatuh lagi.
“Jika tidak…”
Suaranya semakin kecil.
“Bolehkah aku tetap memintanya?”
Diam.
Hening.
Hanya suara napas yang tidak teratur.
“Aku tidak tahu harus berhenti atau bertahan… aku tidak tahu ini ujian atau jawaban…”
Tangannya gemetar.
“Aku lelah, ya Allah… ini terlalu sakit…”
Ia menutup wajahnya.
Dan untuk beberapa detik… ia tidak bisa melanjutkan.
...
Kemudian…
Dengan sisa kekuatan yang ia punya…
Ia mengangkat wajahnya sedikit. Menatap langit pagi itu lagi.
"Aku berserah.. aku pasrah.... semua, terserah pada-Mu saja, ya Allah…”
“Jika luka ini memang harus aku rasakan… aku terima…”
Air matanya jatuh lebih deras.
“Tapi aku mohon… cabut rasa cintaku untuknya… juga rasa sakit ini…”
Suaranya pecah.
“Aku tidak kuat…”
Ia menunduk.
Tubuhnya gemetar.
“Ringankan hatiku… tenangkan jiwaku… kuatkan aku…”
Ia bersujud. Tangisnya kembali pecah… hatinya masih terasa begitu sakit.
...
Hari-hari setelah itu tidak langsung mudah.
Ia tetap teringat. Tetap sakit. Tetap sesak.
Namun perlahan…
Ada yang berubah.
Ia mulai terbiasa. Lebih tepatnya, mulai membiasakan diri untuk tidak membuka halaman pria itu.
Terbiasa tidak menyebut namanya di setiap doa.
Terbiasa menahan diri saat rindu datang tiba-tiba.
...
Dan di situlah ia mulai mengerti, bahwa ternyata memang benar, ikhlas itu tidak mudah. Bahwa untuk Ikhlas itu teramat berat
Ikhlas itu bukan keputusan sekali jadi.
Ikhlas adalah perjalanan.
Dari tersiksa…
menjadi terpaksa…
lalu perlahan… terbiasa, yang kadang masih tetap dibersamai luka.
Dan mungkin suatu hari nanti…
Saat ia mengingat pria itu lagi…
Hatanya tidak lagi lebih hancur dari saat ini.
Tidak lagi perih. Seperih saat ini.
Bahkan saat suatu hari ia harus berkata tentang perasaannya lagi, ia hanya berharap, ia sudah sedikit lebih kuat.
“Percayalah aku pernah mencintaimu… dengan cara paling sunyi… dan paling tulus. Bahkan hingga kini, aku masih mencintaimu sebesar itu dengan dibersamai luka. Tapi setidaknya aku masih mampu melanjutkan hidupku"


