March 12, 2026
The Promise After Winter
March 12, 2026Ada musim-musim dalam hidup yang datang tanpa pernah diminta. Musim ketika segala sesuatu tampak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika masa ...
Ada musim-musim dalam hidup yang datang tanpa pernah diminta.
Musim ketika segala sesuatu tampak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika masa depan terlihat jelas dan harapan tumbuh dengan mudah seperti bunga-bunga di awal musim semi.
Namun ada pula musim yang berbeda.
Musim yang membuat seseorang harus melepaskan apa yang paling ia jaga. Musim yang mengajarkan bahwa tidak semua doa dijawab dengan cara yang kita inginkan, dan tidak semua jalan yang berakhir berarti telah salah sejak awal.
Di sebuah kota kecil yang tenang, pada tahun ketika musim dingin terasa lebih panjang dari biasanya, seorang perempuan muda berdiri di ambang perubahan yang belum ia pahami.
Saat itu ia belum mengetahui apa yang akan hilang.
Ia juga belum mengetahui apa yang akan datang.
Yang ia tahu hanyalah satu hal:
setelah setiap musim dingin, selalu ada musim lain yang menunggu.
Dan terkadang, keajaiban datang pada saat seseorang hampir berhenti mengharapkannya.
...
Saat itu Eliana dan Tuan Markum sepakat untuk menikah ketika usia Eliana baru saja memasuki awal dua puluhan.
Meskipun bukan berasal dari kalangan bangsawan, keluarga Eliana termasuk keluarga terpandang di kota mereka. Ayahnya adalah seorang pemilik ladang yang makmur dan disegani, sementara ibunya dikenal sebagai wanita yang menjunjung tinggi tata krama dan pendidikan. Sebagai putri sulung dari dua bersaudara, Eliana tumbuh dengan didikan yang baik, sopan santun yang terjaga, serta pendidikan yang jarang diperoleh oleh gadis-gadis seusianya, di wilayah tempat tinggalnya itu.
Sementara itu Markum, yang usianya empat tahun lebih tua dari Eliana, adalah putra dari salah seorang tuan tanah termasyhur di kotanya. Ketika ayahnya mulai menua, gelar serta tanggung jawab itu perlahan berpindah ke pundaknya. Sejak saat itu Markum dikenal sebagai tuan tanah muda di kotanya itu.
Keluarga Eliana dan keluarga Markum tinggal di kota yang berbeda.
Markum adalah sosok yang dewasa, tenang, dan penuh pengertian. Hal itu membuat Eliana jatuh hati setelah mereka beberapa kali bertemu di pesta dansa. Setiap percakapan mereka selalu mengalir seolah tak pernah kehabisan topik untuk dibahas.
Markum yang berwawasan luas, lulusan sebuah sekolah pertanahan di luar negeri, selalu menjadi tempat bertanya yang menyenangkan bagi Eliana yang kritis dan penuh rasa ingin tahu. Dengan kesabaran yang tenang, Markum menjawab setiap pertanyaan Eliana, menjelaskan banyak hal, atau sekadar mendengarkan cerita-cerita kecil yang Eliana bagikan.
Selama empat tahun pernikahan mereka, rumah tangga itu berjalan tenteram.
Mereka adalah pasangan muda yang penuh rencana masa depan, dua orang yang sedang merangkai kehidupan bersama dengan penuh harapan. Salah satu impian terbesar mereka adalah memiliki rumah sendiri. Selama empat tahun awal pernikahan itu mereka kerap berpindah antara rumah keluarga Eliana dan rumah keluarga Tuan Markum.
Hingga akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu itu tiba.
Rumah impian mereka berdiri di pinggiran kota yang tenang, di kota tempat keluarga besar Markum tinggal. Letaknya cukup jauh dari keramaian pusat kota, seolah memberi mereka ruang untuk membangun kehidupan mereka sendiri.
Meskipun beberapa bagian rumah masih dalam proses penyelesaian, batu-batu halaman belum sepenuhnya tertata, dan beberapa ruangan masih dipenuhi aroma kayu baru, bagi Eliana rumah itu tetaplah lambang harapan mereka.
Sayangnya, kebahagiaan itu tidak pernah benar-benar tenang.
Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, satu pertanyaan selalu mengikuti Eliana ke mana pun ia pergi.
Tentang kehamilan.
Keluarga Tuan Markum hampir selalu menyinggungnya dalam setiap kesempatan, kadang dalam bentuk pertanyaan, kadang dalam bentuk sindiran yang terasa jauh lebih tajam.
Empat tahun pernikahan telah berlalu, namun Eliana belum juga mengandung.
Tekanan demi tekanan datang tanpa henti.
Tidak jarang bahkan emosi Tuan Markum ikut terpancing. Dalam kemarahannya ia pernah mempertanyakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya: siapa di antara mereka yang sebenarnya tidak mampu memiliki anak.
Namun setiap kali kemarahan itu mereda, Markum kembali menjadi lelaki yang sama, lelaki yang mencintai Eliana. Ia menyesali kata-katanya, menenangkan Eliana, memeluknya, dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan begitulah siklus itu berlangsung.
Cinta mereka bertahan, tetapi luka kecil terus menumpuk.
Hingga suatu hari Eliana benar-benar menyerah.
Bukan karena ia tidak mencintai Markum.
Bukan pula karena mereka berhenti berusaha.
Justru karena mereka telah terlalu lama berusaha.
Mereka masih muda. Mereka masih percaya bahwa Tuhan suatu hari akan memberi mereka seorang anak. Namun kelelahan menghadapi tekanan keluarga dan bisik-bisik orang di sekitar mereka membuat segalanya terasa semakin berat.
Akhirnya mereka berpisah.
Bahkan sebelum urusan perceraian mereka selesai, Tuan Markum kembali ke rumah orang tuanya. Begitu pula dengan Eliana, ia pun kembali kepada keluarganya.
...
Sore itu adalah hari pertama musim dingin ketika Eliana tiba di rumah tempat ia tumbuh, rumah yang pernah pula ia tempati bersama Markum pada awal-awal pernikahan mereka, sebelum akhirnya mereka memiliki rumah sendiri.
Kereta kuda keluarga yang menjemputnya berhenti perlahan di halaman, membawa serta peti-peti berisi barang-barang pribadinya, hal-hal sederhana yang kini menjadi satu-satunya yang ia bawa pulang dari kehidupan yang baru saja ia tinggalkan.
Udara dingin menggigit, dan salju mulai turun tipis dari langit yang kelabu.
Para pelayan bergegas menurunkan barang-barang dari kereta, sementara Eliana berdiri sejenak di depan pintu rumah orang tuanya. Ia menarik napas panjang, seolah menenangkan dirinya sendiri, sebelum akhirnya melangkah masuk.
Saat malam tiba, Eliana makan bersama kedua orang tuanya. Adik perempuannya baru beberapa bulan menikah dan kini tinggal bersama suaminya, tidak jauh dari rumah orang tua mereka.
Di luar, salju turun semakin lebat, menutup halaman dan jalanan dengan lapisan putih yang sunyi.
Namun di dalam ruang makan itu, api menyala hangat di perapian di sudut ruangan, memantulkan cahaya lembut ke meja makan yang sederhana namun terasa begitu akrab bagi Eliana.
Tidak banyak yang mereka bicarakan.
Ayahnya menatap putrinya dengan tenang, lalu berkata dengan suara pelan namun pasti,
“Yakinlah, setelah ini Tuhan masih menyiapkan sesuatu yang indah dan abadi untukmu.”
Ibunya mengangguk pelan di sampingnya, seakan menguatkan kata-kata itu tanpa perlu menambah apa pun lagi.
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu, Eliana merasakan sedikit ketenangan di hatinya.
Perkataan ayahnya terasa seperti sebuah janji, seolah ada kebahagiaan yang sedang menunggunya di suatu tempat di masa depan.
Entah setelah musim dingin yang mana.
...
Sementara itu, harta yang Markum kumpulkan, yang kemudian mereka kelola bersama, terutama rumah impian yang baru saja selesai dibangun, mereka tinggalkan begitu saja.
Seakan rumah itu adalah kenangan yang terlalu berat untuk dimiliki salah satu dari mereka.
Dan bahkan sebenarnya, rumah itu belum benar-benar selesai. Karena dapur idaman Eliana masih dalam penyelesaian. Peralatan-peralatan dapur yang ia pesan belum semuanya datang. Taman yang Markum bangun untuk Eliana pun belum sepenuhnya rampung.
...
Namun, tidak lama setelah perceraian itu, sebuah kabar sampai ke telinga Eliana.
Markum telah menikah lagi.
Pernikahan yang diatur oleh keluarga besar Markum, tentu saja.
...
Sementara itu Eliana tetap sendiri.
Hari-harinya lebih sering dihabiskan di rumah orang tuanya, membantu pekerjaan rumah, menemani mereka, dan sesekali keluar bersama sahabat-sahabatnya.
Itu pun jarang.
Karena di kota kecil seperti itu, seorang perempuan muda dengan status gagal dalam pernikahan dan terlalu sering keluar rumah akan dengan mudah menjadi bahan pembicaraan.
...
Suatu hari, sebuah surat tiba.
Surat itu membuat Eliana mengerutkan kening bahkan sebelum ia selesai membacanya.
"Saya mendengar bahwa kau sedang mengurus proses perceraianmu. Apakah semuanya telah selesai?"
Pertanyaan itu terasa begitu langsung. Hampir tidak sopan.
Eliana tersinggung.
Kesal.
Namun juga penasaran.
Setelah membaca nama pengirimnya, barulah ia mengingat seseorang yang nyaris ia lupakan.
Lord Dadrian.
Teman masa kecilnya.
Sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah bertemu.
Eliana menahan emosinya. Dengan sifatnya yang tenang, ia mencoba berpikir bahwa mungkin itu hanya bentuk kepedulian yang disampaikan dengan cara yang terlalu terus terang.
Sejak itu mereka mulai saling berkirim surat.
Kadang Eliana membalas.
Kadang ia tidak.
Barulah kemudian Eliana menyadari sesuatu yang lama ia lupakan.
Kakak perempuan Dadrian, Nyonya Eugene, ternyata masih tinggal tidak jauh dari rumah keluarganya. Dulu, ketika masih kecil, Dadrian tinggal bersama kakaknya itu, yang menikah dengan seorang petugas pajak wilayah tersebut.
Karena itulah mereka pernah satu sekolah saat mereka kecil, bahkan sering berangkat dan pulang bersama.
Beberapa kali Eliana mendengar bahwa Dadrian datang mengunjungi kakaknya. Namun entah mengapa mereka tidak pernah benar-benar bertemu.
Hingga suatu hari datang sebuah surat kilat.
Dadrian meminta Eliana menemuinya di taman kota.
Ia hanya memiliki waktu libur satu hari. Jika ia harus datang ke rumah kakaknya atau ke rumah Eliana yang berada di pinggiran kota, ia tidak akan sempat kembali ke kotanya sebelum malam.
Dengan ditemani sahabatnya, Lady Lily, Eliana pergi ke taman kota menggunakan kereta kuda milik Lily.
Kereta kuda milik Lady Lily berhenti tidak jauh dari gerbang taman. Lady Lily ikut turun dan berdiri di samping Eliana. Ia merasa sangat khawatir ketika Eliana meminta dirinya pulang setelah ia bertemu Dadrian.
Terlebih ketika Lily melihat lelaki itu untuk pertama kalinya.
Penampilannya tidak terlalu rapi. Bahkan sedikit kumal dan serampangan.
"Kau yakin?" Bisik sahabatnya itu.
Eliana tersenyum tipis.
"Aku hanya bertemu teman lama."
Lady Lily menghela napas.
"Kau terlalu mudah percaya pada orang."
"Aku tidak percaya padanya."
"Lalu kenapa datang?"
Eliana terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menjawab pelan.
"Karena aku penasaran."
Lady Lily mendengus kecil.
"Alasan yang berbahaya."
Mereka berjalan beberapa langkah menghampiri seseorang yang tadi semlat melambai, yang berdiri dan tersenyum kaku ke arah mereka.
Sosok dengan tubuh yang tinggi. Tubuhnya lebih besar daripada yang Eliana ingat. Mantelnya terlihat kusam akibat perjalanan panjang. Sepatunya bahkan sedikit kotor oleh lumpur. Sama sekali tidak menyerupai lelaki bangsawan yang biasanya ditemui Eliana dalam pesta-pesta dansa. Namun lelaki itu kembali tersenyum Eliana dan Lady Lily berdiri tak jauh darinya. Dan anehnya... senyum itu terasa sangat familiar bagi Eliana. Seolah mereka tidak pernah terpisah selama bertahun-tahun.
"Eliana." Dadrian membungkukkan badan dengan hormat.
Eliana membalas salamnya.
"Lord Dadrian."
Dadrian tertawa.
"Aku tidak pernah terbiasa dipanggil seperti itu olehmu."
"Dan aku tidak pernah terbiasa menerima surat yang isinya begitu tidak sopan."
Dadrian berkedip. Lalu tertawa lebih keras. Tawa yang membuat beberapa burung kecil di dekat mereka terbang menjauh. Dan tanpa sengaja... Eliana ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama. Senyum yang benar-benar tulus.
Setelah Lady Lily akhirnya pulang, Eliana dan Dadrian mulai berjalan menyusuri taman. Awalnya mereka membicarakan hal-hal sederhana. Tentang sekolah mereka dulu. Tentang guru matematika yang terkenal galak. Tentang teman-teman lama yang kini telah menikah dan memiliki anak. Tentang kota mereka yang banyak berubah. Namun semakin lama mereka berbicara, semakin Eliana menyadari bahwa Dadrian tidak pernah memperlakukannya seperti orang lain memperlakukannya. Dadrian tidak bertanya mengapa pernikahannya gagal. Tidak bertanya siapa yang salah. Tidak bertanya apakah ia masih mencintai Markum. Tidak bertanya mengapa ia belum memiliki anak. ITidak bertanya apa pun yang selama berbulan-bulan terakhir membuatnya ingin menangis.
Dadrian hanya berbicara padanya. Seperti dulu. Seperti ketika mereka masih anak-anak. Dan itu terasa begitu melegakan.
...
"Kau jauh lebih tinggi sekarang."
Eliana menoleh.
"Apa?"
Dadrian menunjuk kepalanya sendiri.
"Dulu kau hanya setinggi sini."
"Itu karena dulu kau juga lebih pendek."
Dadrian tertawa.
"Tidak. Dulu kau memang kecil."
Eliana mendelik.
"Dulu aku anak-anak."
"Kau tetap kecil."
"Aku tidak kecil."
Dadrian memandangnya sejenak. Lalu mengangguk pelan.
"Benar. Kau tidak kecil lagi."
Entah mengapa cara Dadrian mengatakan kalimat itu membuat Eliana mendadak salah tingkah. Karena untuk pertama kalinya ia merasa sedang dipandang sebagai seorang perempuan. Bukan sebagai mantan istri seseorang. Bukan sebagai perempuan yang gagal mempertahankan pernikahannya. Bukan pula sebagai perempuan yang gagal memberikan keturunan.
Hanya...
seorang perempuan.
..
Menjelang siang Dadrian mengajaknya makan. Eliana membayangkan sebuah restoran yang rapi. Atau setidaknya kedai teh yang layak. Namun yang ia lihat justru sebuah warung kecil di pinggir jalan. Bukan restoran mewah. Melainkan di sebuah warung kecil yang sederhana, tempat yang biasanya didatangi ibu-ibu agar anaknya mau makan, atau anak-anak yang mencari makan siang murah sepulang sekolah. Eliana sempat merasa aneh. Bahkan sedikit tersinggung. Namun seperti biasa, ia tetap bersikap tenang dan elegan.
Ia berhenti berjalan.
"Di sini?"
Dadrian mengangguk.
"Di sini."
Eliana menatap bangunan itu. Lalu menatap Dadrian. Lalu menatap bangunan itu lagi. Dadrian berusaha menahan tawa.
"Kau terlihat sangat kecewa."
"Aku sedang berusaha bersikap sopan."
"Itu lebih buruk."
Eliana akhirnya tertawa. Dan tanpa ia sadari ini sudah ketiga kalinya Eliana tertawa sejak mereka bertemu.
...
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada taplak meja mewah. Tidak ada piring porselen mahal. Tidak ada pelayan berseragam. Hanya meja kayu sederhana dan aroma makanan hangat yang memenuhi ruangan. Namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama... Eliana makan tanpa merasa sedang dinilai oleh siapa pun. Tidak ada tatapan kasihan. Tidak ada sindiran. Tidak ada pertanyaan tentang kandungan. Tidak ada pembicaraan tentang perceraian. Hanya dirinya. Dan seorang teman lama yang mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh.
Ketika mereka keluar dari warung itu, matahari mulai condong ke barat. Salju yang tersisa memantulkan cahaya keemasan. Dadrian dan Eliana berjalan perlahan menuju taman kembali. Untuk sesaat mereka terdiam.
Lalu Dadrian berkata,
"Aku senang kau datang hari ini."
Eliana memandang jalan di depan mereka.
"Aku juga."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa dipikirkan. Tanpa dipertimbangkan. Dan ketika ia menyadarinya, ia tidak menarik kembali kata-katanya. Karena itu adalah kebenaran. Ia memang senang datang hari itu. Sangat senang. Mungkin lebih senang daripada yang seharusnya.
Sambil berjalan, dengan sedikit kikuk dan tak tahu harus berbicara apa lagi, Lord Dadrian kembali mengomentari perubahan Eliana. Eliana hanya tertawa, lalu membalas bahwa Dadrian pun sangat berbeda. Dulu ia adalah anak lelaki yang rapi, bersih, dan jahil. Kini ia terlihat lebih dewasa, tenang… meskipun penampilannya jauh dari kata necis. Mungkin karena pekerjaannya. Sementara Eliana sendiri telah berubah dari gadis kecil berambut bob berponi menjadi seorang wanita yang anggun dan elegan.
...
Beberapa hari setelah pertemuan itu, seorang tamu datang ke rumah Eliana. Seorang petugas pajak. Ayah Eliana sedang berada di ladang, sehingga Eliana yang menemui tamu tersebut. Tamu itu tidak lain adalah Tuan Barnett, kakak ipar Dadrian. Setelah urusan pajak selesai dibicarakan, Barnett bertanya dengan nada santai,
"Apakah proses perceraianmu dengan mantan suamimu sudah benar-benar selesai?"
Eliana menjawab dengan jujur. Barnett dikenal sebagai petugas yang bijak dan terhormat, sehingga Eliana tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun tentang kegagalan rumah tangganya.
Dan beberapa hari kemudian, di pasar, Eliana bertemu Nyonya Eugene. Tanpa banyak basa-basi, kakak Dadrian itu juga menanyakan hal yang sama tentan apakah perceraian Eliana sudah benar-benar selesai. Eliana merasa tidak nyaman. Ia menjawab singkat dan sopan, lalu segera pamit pulang.
Namun perasaan aneh itu terus mengganggu pikirannya.
Hingga suatu hari Dadrian datang ke rumahnya. Bukan sekadar untuk bertemu dengannya. Ia meminta bertemu kedua orang tua Eliana. Dan tanpa banyak basa-basi, Dadrian langsung mengatakan sesuatu yang membuat Eliana benar-benar terkejut.
Ia ingin membicarakan tanggal pernikahan mereka.
Eliana sangat terkejut akan keberanian Dadrian yang begitu tiba-tiba. Meski jauh di dalam hatinya, Eliana merasakan sesuatu yang lain.
Ketenangan.
Seolah Tuhan sedang menyembuhkan luka hatinya dengan cara yang tidak ia duga.
...
Beberapa waktu kemudian Dadrian membawa Eliana ke kotanya untuk bertemu keluarga besarnya. Dan Eliana baru mengetahui satu hal penting. Ia adalah perempuan pertama yang pernah Dadrian perkenalkan kepada keluarganya sebagai calon istri.
Keluarga besar Dadrian menerima Eliana dengan baik, meskipun pada awalnya ia merasa sangat tidak percaya diri karena statusnya sebagai seorang yang pernah menikah dan gagal.
Hari-hari berlalu. Perlahan Dadrian membantu Eliana memulihkan rasa percaya dirinya. Dengan caranya yang sederhana, ia membuat Eliana merasa aman.
Sementara itu, cemoohan orang-orang di sekitar mereka tidak berhenti.
Banyak yang menuduh bahwa perceraian Eliana dengan Markum terjadi karena perselingkuhan. Bahkan diantara mereka ada yang mengira Dadrian adalah pihak ketiga dalam rumah tangga Eliana dan Tuan Markum.
Namun kebenaran tidak selalu membutuhkan pembelaan.
Akhirnya hari pernikahan itu tiba.
Lady Eliana menikah dengan Lord Dadrian.
Dan, beberapa bulan kemudian, keajaiban itu datang. Eliana mengandung. Kurang dari setahun setelah pernikahan mereka, Eliana, yang dulu pernah dituduh tak akan pernah mampu memiliki anak, melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Mereka menamainya Sally.
Sally tumbuh menjadi anak yang cantik, cerdas, dan sangat menggemaskan. Ia memiliki wajah yang sangat mirip dengan Eliana, namun mata Dadrian yang lembut membuat wajah kecil itu terlihat semakin indah. Seluruh keluarga sangat mencintainya.
Dan perlahan, orang-orang mulai menyadari kesalahan mereka. Eliana tidak mandul. Eliana tidak berselingkuh. Dadrian bukanlah orang ketiga. Justru Dadrianlah yang menyembuhkan luka hati Eliana.
Kini, ketika Dadrian sedang libur dari pekerjaannya dan mereka menghabiskan waktu bersama Sally, mereka kadang tertawa mengingat masa kecil mereka.
Dulu mereka hanyalah dua anak yang sering bertengkar di kelas.
Kini mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Teman berbagi perasaan.
Teman bercerita.
Teman bercanda.
Dan juga…
teman hidup.
...
Sore itu matahari musim semi bersinar hangat di atas halaman rumah mereka. Dari jendela ruang kerja, Dadrian dapat melihat Sally berlari-lari kecil di antara hamparan bunga yang baru bermekaran. Tawa anak itu terdengar hingga ke dalam rumah, disusul suara Eliana yang memanggilnya agar tidak berlari terlalu jauh. Dadrian menutup buku yang sedang dibacanya dan berjalan keluar.
Di bawah pohon tua yang mulai dipenuhi daun-daun muda, Eliana berdiri sambil merapikan topi kecil Sally yang hampir terlepas tertiup angin. Pemandangan itu begitu sederhana. Begitu biasa.Namun justru karena itulah Dadrian menyukainya. Karena kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dalam bentuk yang megah. Kadang ia datang dalam bentuk seorang perempuan yang sedang tersenyum kepada putrinya. Kadang ia datang dalam bentuk rumah yang hangat untuk kembali pulang. Dan kadang ia datang dalam bentuk seseorang yang dahulu hanya dikenal sebagai teman masa kecil.
Eliana mengangkat wajahnya ketika melihat Dadrian mendekat.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanyanya.
Dadrian menggeleng pelan.
"Tidak ada."
"Itu jelas senyum seseorang yang sedang memikirkan sesuatu."
Dadrian tertawa kecil.
"Lalu menurutmu aku sedang memikirkan apa?"
Eliana berpura-pura merenung.
"Entahlah."
"Mungkin aku sedang memikirkan betapa cerewetnya istriku."
Eliana terkekeh pelan sebelum menyandarkan kepalanya ke bahu Dadrian. Sementara Sally terus berlarian di depan mereka, mengejar kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga musim semi. Untuk beberapa saat tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Dan mereka tidak membutuhkannya. Karena beberapa kebahagiaan tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Eliana memandang langit yang cerah di atas mereka. Lalu, tanpa sengaja, ia teringat pada malam bersalju bertahun-tahun lalu. Malam ketika ia pulang ke rumah orang tuanya dengan hati yang hancur. Malam ketika ayahnya berkata,
"Yakinlah, setelah ini Tuhan masih menyiapkan sesuatu yang indah dan abadi untukmu."
Saat itu ia ingin percaya. Namun ia terlalu lelah untuk benar-benar mempercayainya.
Kini, bertahun-tahun kemudian, sambil berdiri di samping Dadrian dan memandangi Sally yang tertawa riang di hadapan mereka, Eliana akhirnya memahami arti kalimat itu.
Musim dingin memang pernah datang. Membawa kehilangan. Membawa kesedihan. Dan membuatnya percaya bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali seperti semula. Tetapi ayahnya benar. Di balik musim dingin itu, Tuhan memang telah menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang abadi.
Eliana menggenggam tangan Dadrian sedikit lebih erat. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu lagi menoleh ke belakang. Karena rumah yang selama ini ia cari telah menemukannya. Dan seperti musim semi yang selalu datang setelah musim dingin berakhir, cinta pun akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Tamat.
...


