May 01, 2026
Among All Those Books
May 01, 2026"There were so many books I wanted to buy that afternoon. Yet somehow, I came home thinking about a smile instead." ... Ada begit...
"There were so many books I wanted to buy that afternoon. Yet somehow, I came home thinking about a smile instead."
...
Ada begitu banyak buku yang ingin dibeli Raina sore itu. Ia bahkan sudah membuat daftar sejak seminggu sebelumnya. Novel sejarah yang baru terbit. Kumpulan puisi yang katanya indah sampai membuat pembacanya menangis. Satu buku psikologi yang sudah lama masuk keranjang belanja daringnya. Dan tentu saja, edisi terbaru dari penulis favoritnya yang menurut akun sosial media toko buku tersebut, sudah tiba di rak toko mereka beberapa hari yang lalu.
Karena itulah, ketika lonceng kecil di pintu toko buku berbunyi dan aroma kertas menyambutnya, Raina masuk dengan perasaan bahagia. Ia mengambil keranjang. Menyusuri lorong demi lorong. Membaca punggung buku satu per satu. Semuanya berjalan sesuai rencana.
Sampai ia melihat seseorang. Di salah satu lorong diantara rak-rak buku itu. Di lorong novel-novel bergenre sci-fi, seorang pria berdiri di sana, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan tergulung hingga siku. Di tangannya ada sebuah novel dengan sampul berwarna krem. Ia sempat melirik sekilas ke arah Raina, dan tersenyum. Lalu kembali pada bukunya.
Raina tidak tahu mengapa matanya berhenti di sana. Mungkin karena pria itu tampak terlalu serius hanya untuk memilih novel. Mungkin karena penampilannya, senyumnya, atau mungkin karena cara ia membaca sinopsis di sampul belakang buku seolah buku itu sedang menceritakan rahasia besar dunia. Yang jelas, sejak detik itu, ada sesuatu yang berubah.
Raina kembali berjalan menyusuri lorong lainnya, yang berseberangan dengan lorong tempat pria itu berdiri. Masih mengambil buku. Masih membaca judul. Namun otaknya tidak lagi benar-benar memahami apa yang dibacanya. Tangannya mengambil buku. Meletakkannya lagi. Mengambil buku lain. Membuka halaman pertama pada buku-buku yang plastik segelnya sudah terbuka. Lalu menutupnya kembali. Karena setiap beberapa detik sekali, matanya diam-diam mencari pria di lorong sci-fi itu.
Dan sialnya, pria itu masih ada di sana.
"Fokus, Raina." Ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Kamu datang untuk beli buku."
Namun semakin ia berusaha fokus pada buku-buku itu, semakin pikirannya melayang ke sosok asing tersebut. Biasanya ia bisa menghabiskan berjam-jam di toko buku. Fiksi ilmiah, sejarah, biografi, dan puisi. Semua selalu berhasil membuatnya lupa waktu.
Tapi hari itu berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang lebih menarik daripada rak-rak penuh buku. Atau lebih tepatnya... Seseorang.
Setelah hampir dua puluh menit berpura-pura memilih dan membaca sinopsis buku-buku dari rak, Raina akhirnya menyerah. Ia yang masih berdiri di dekat rak sastra, menatap punggung-punggung buku tanpa benar-benar melihatnya.
Sementara pikirannya sibuk mencari alasan. Apa ya alasan yang masuk akal untuk berbicara dengan orang asing di toko buku?
"Maaf, jam berapa sekarang?"
Tidak.
Ia mengenakan jam tangan dan ia juga membawa ponsel.
"Mas, buku yang bagus apa ya?"
Terlalu aneh.
Mereka berada di toko buku. Semua orang bisa menjawab itu. Raina menghela napas. Lalu tanpa sadar tertawa kecil sendiri. Karena sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin sekali ia ajukan. Pertanyaan paling tidak masuk akal yang pernah muncul dalam kepalanya.
"Permisi, buku tentang hatimu ada di sebelah mana?"
Ia menggeleng cepat, lalu menepuk pelan pipinya sendiri.
Gila.
Itu benar-benar gila.
Namun takdir kadang memiliki selera humor yang cukup baik. Saat Raina berbelok menuju rak puisi, seseorang dari arah berlawanan juga berbelok di saat yang sama. Mereka hampir bertabrakan.
"Oh, maaf."
Suara itu membuat Raina mendongak. Dan jantungnya seolah lupa cara bekerja selama beberapa detik. Pria dari lorong sci-fi. Yang membuat seluruh daftar belanjanya berantakan. Yang membuat judul-judul buku yang sejak seminggu lalu ia hafal di luar kepala mendadak kehilangan makna.
"Oh... nggak apa-apa." Jawaban Raina terdengar jauh lebih gugup daripada yang ia inginkan.
"Kita hampir menabrak rak gara-gara sama-sama lihat buku." Ucap pria itu.
Raina tertawa kecil.
"Iya." Ucap Raina
"Lagi cari buku apa?" Tanya pria itu.
Pertanyaan sederhana. Sangat sederhana. Tapi Raina mendadak lupa seluruh daftar bukunya. Padahal tadi ia datang dengan daftar sepanjang lengan. Ia bahkan lupa judul buku yang sudah diincarnya selama berminggu-minggu. Karena yang ada di hadapannya sekarang terasa jauh lebih menarik.
"Aku..." Jawab Raina pelan
"Aku juga nggak yakin lagi." Tambahnya
Pria itu tertawa. Dan Raina merasa suara itu lebih hangat daripada cahaya matahari sore yang tadi menemaninya melangkah menyusuri trotoar saat ia menuju toko buku itu.
Setengah jam kemudian, mereka masih mengobrol sambil berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong lainnya. Sesekali mereka berhenti di depan sebuah rak, menunjukkan buku favorit masing-masing seperti anak kecil yang baru menemukan harta karun. Membahas novel favorit mereka. Penulis yang bukunya selalu otomatis masuk keranjang belanja tanpa perlu berpikir dua kali. Dan cerita-cerita yang masih mereka ingat hingga sekarang. Buku yang mengubah cara mereka berpikir. Serta buku-buku yang sempat mereka beli karena penasaran dengan hype-nya, meski pada akhirnya tidak benar-benar meninggalkan kesan.
"Kamu suka sci-fi?" tanya Raina.
"Iya," jawab pria yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Aksa.
"Kenapa?"
Aksa berpikir sejenak.
"Karena aku suka kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi."
Raina mengangguk pelan.
"Kalau aku suka sastra."
"Karena?"
"Karena aku suka memahami hal-hal yang sebenarnya sudah terjadi pada manusia selama ribuan tahun."
Aksa tersenyum, lalu sedikit mengangkat alisnya.
"Kenapa?" tanya Raina saat melihat ekspresinya.
"Tidak. Hanya saja... itu jawaban yang menarik."
"Menarik bagaimana?"
"Aku biasanya bertemu orang yang bilang mereka suka sastra karena bahasanya indah atau ceritanya dekat dengan kehidupan. Tapi alasanmu berbeda."
Raina tertawa kecil.
"Mungkin karena aku memang terlalu suka mengamati manusia."
"Kalau begitu aku butuh banyak rekomendasi buku darimu. Aku belum banyak membaca sastra."
"Dan sebaliknya," balas Raina. "Aku juga belum menemukan sci-fi yang benar-benar klik. Mau merekomendasikan sci-fi padaku? Tapi yang ringan dulu, ya." Tambah Raina lalu tertawa kecil.
Aksa ikut tertawa. "Tentu."
Akhirnya mereka harus berpisah setelah membayar buku-buku pilihan mereka di kasir.
Disepanjang jalan menuju pulang, Raina menyadari sesuatu. Biasanya ia datang ke toko buku untuk membawa pulang cerita dari buku-buku yang ia beli. Tapi sore itu berbeda. Karena untuk pertama kalinya, ia pulang membawa awal sebuah cerita. Ia harap begitu. Bukan cerita dalam bentuk novel. Bukan dalam bentuk kumpulan puisi. Bukan dalam bentuk buku bersampul keras. Melainkan sebuah nomor telepon yang tersimpan di ponselnya. Dengan senyum yang sesekali menghiasi bibirnya, ia berjalan sambil menjinjing tas belanja berisi beberapa buku.
Malamnya, setelah Raina mengeluarkan buku-buku belanjaannya dari tas, ia kemudian merapikannya ke rak. Selalu ada begitu banyak buku yang ingin ia beli dari toko buku favoritnya itu. Sebagian besar memang berhasil ia bawa pulang tadi sore. Namun di antara semua cerita yang kini mengisi ruang kosong raknya, ada satu cerita yang paling ingin ia ikuti. Cerita tentang seorang pria yang ditemuinya di lorong sci-fi tadi. Cerita yang bahkan belum menuliskan bab pertamanya, dan Raina berharap cerita itu tidak memiliki halaman terakhir.
Ponsel Raina bergetar halus saat ia tengah melihat-lihat ilustrasi dari salah satu novel yang ia beli tadi. Raina meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Aksa membuatnya duduk sedikit lebih tegak, jantungnya tiba-tiba berdebar sedikit lebih kencang.
“Sudah sampai rumah?”
“Aku ingat satu novel sci-fi yang mungkin cocok untukmu. Tidak terlalu berat.”
Raina belum sempat membalas. Ia membaca kedua pesan itu sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Dan sebelum ia sempat mengetik apa pun, satu pesan lagi masuk. Sebuah foto. Foto sebuah buku yang dipegang Aksa di sudut kirinya. Ia memperbesar foto itu pelan. Meski di pinggiran buku itu terlihat blur, tapi cukup untuk membuatnya menyadari sesuatu. Latar di baliknya. Rak buku yang penuh, tidak rapi, tidak seperti toko buku. Lebih personal. Lebih sering disentuh daripada ditata.
Raina menatap foto itu sambil tersenyum, seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang kecil tentang dunia Aksa, tanpa benar-benar sengaja diberi tahu.
Dan itu membuatnya ingin tahu lebih banyak—tentang Aksa, dan tentang buku-buku di sekelilingnya.
Selesai.