March 12, 2026
Lelah
March 12, 2026Aku tidak pernah tahu sejak kapan semuanya bermula. Mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Bukan melihat sebagai seseorang yang bisa kum...
Aku tidak pernah tahu sejak kapan semuanya bermula. Mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Bukan melihat sebagai seseorang yang bisa kumiliki, tetapi sebagai seseorang yang… ingin sekali kupercaya. Sejak itu, diam-diam aku mulai menyebut namanya dalam doa. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi hampir setiap kali aku menengadahkan tangan, selalu ada satu kalimat yang menggantung di dadaku.
"Aku ingin dia…"
Kalimat itu selalu berhenti sesaat sebelum akhirnya kulanjutkan dalam hati.
"…sebagai seseorang yang Kau halalkan untukku."
Aku tahu, ini terdengar seperti pungguk merindukan bulan. Terlalu jauh. Terlalu tinggi. Dan aku… terlalu biasa. Terlalu banyak kekurangan.
Dia tidak mengenalku. Tidak tahu aku ada. Tidak pernah tahu bahwa di antara jutaan doa yang terbang ke langit, ada doa-doaku yang selalu menyebut dirinya. Seseorang yang bahkan tidak pernah masuk ke dalam dunianya.
Aku mencoba memantaskan diri. Pelan-pelan. Diam-diam. Aku memperbaiki yang bisa kuperbaiki, berusaha menjadi versi terbaik dari diriku, seolah suatu hari nanti, jika Allah benar-benar mempertemukan kami, aku bukan sebagai seseorang yang kosong.
Meskipun juh di dalam hati, ada satu hal yang tidak pernah berani kuucapkan keras-keras. Aku tidak pantas. Dan mungkin… tidak akan pernah pantas. Tapi, aku yakin Allah akan membantuku, membuatku pantas untuknya. Membuat kami pantas untuk satu sama lain.
...
Sampai hari itu aku melihatnya. Bukan sedang tertawa. Bukan sedang berbicara. Tetapi sedang berdoa. Kepalanya sedikit tertunduk, kedua tangannya terangkat rendah. Wajahnya begitu tenang. Terlalu tenang, sampai hatiku terasa remuk hanya karena memandanginya. Karena saat itu, aku tidak tahu bagaimana, aku merasa kalah. Bukan oleh seseorang. Melainkan oleh kenyataan.
Dia juga berdoa.
Di antara semua doa yang dia panjatkan dengan begitu khusyuk, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang membuat dadaku bergetar.
"Siapa yang dia minta?"
Apakah ada nama yang dia sebut dengan lirih sebagaimana aku selalu menyebut namanya? Apakah ada seseorang yang dia harapkan dengan keyakinan yang sama seperti aku? Atau mungkin… bahkan lebih?
Dadaku terasa sesak karena aku sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar punya tempat untuk berharap. Aku hanya berdiri jauh, menggenggam perasaan yang bahkan tidak pernah dia tahu keberadaannya. Aku ingin menyerah. Sungguh. Ingin berhenti menyebut namanya dalam doa. Ingin berhenti berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dimulai. Namun setiap kali aku mencoba melepaskan, hatiku kembali berbisik pelan.
"Bagaimana kalau dia memang yang ditakdirkan? Jangan lelah... mintalah kembali pada Allah dengan tulus."
Dan aku kembali terjebak. Di antara yakin dan sadar diri. Di antara ingin melepaskan dan tidak sanggup kehilangan.
Aku lelah.
Lelah berharap pada seseorang yang bahkan tidak tahu aku ada. Lelah meyakinkan diri bahwa ini bukan sekadar angan. Namun yang lebih melelahkan adalah membayangkan suatu hari nanti aku harus melihatnya berjalan bersama orang lain. Orang yang benar-benar dia kenal. Orang yang benar-benar dia pilih. Orang yang… dia sebut dalam doanya.
...
Malam itu, aku kembali berdoa. Tanganku terangkat, tetapi kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Air mataku jatuh satu demi satu.
"Ya Allah… kalau dia memang untukku, dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridhoi." Suaraku bergetar.
"Dan kalau bukan…" Kalimat itu terasa pecah di dadaku.
"…tolong cabut rasa ini perlahan. Jangan sekaligus. Aku tidak sekuat itu."
Aku terdiam lama, lalu menutup doa dengan satu kalimat yang paling jujur dari seluruh isi hatiku.
"Aku masih menginginkannya… tapi aku ingin Engkau lebih dulu menenangkanku."
Seharusnya setelah malam itu semuanya mereda.
Setelah aku berani meminta kepada Allah agar rasa ini dilepaskan perlahan, aku pikir hatiku akan mulai patuh. Aku pikir aku akan perlahan lupa. Namun ternyata tidak. Semakin aku mencoba mundur, semakin aku mencoba mengikhlaskan, yang ada justru sebaliknya. Dadaku semakin sesak. Napasku terasa berat. Dan anehnya, rasa itu tidak mengecil. Ia justru tumbuh. Diam-diam. Pelan. Namun pasti. Seolah setiap langkahku menjauh, perasaan itu malah berlari mengejarku.
Aku mulai sadar pada sesuatu yang membuatku semakin hancur. Ini tidak mungkin. Bukan mungkin sulit. Bukan pula hanya membutuhkan waktu. Tetapi benar-benar tidak mungkin. Aku tahu itu. Aku sangat tahu. Tidak ada jalan yang mempertemukan kami. Tidak ada cerita yang masuk akal untuk menjadikan dia bagian dari hidupku.
Aku tahu bahwa harapan ini mungkin tidak akan pernah terwujud. Tapi, aku tetap menginginkannya. Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Aku ingin berhenti. Benar-benar berhenti. Tapi, semakin aku memaksa diri melepaskan, semakin hatiku menolak dengan keras. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang terus berteriak agar aku jangan berhenti.
Aku lelah.
Lelah melawan perasaanku sendiri. Lelah berusaha memahami sesuatu yang bahkan tidak memiliki arah. Sampai akhirnya aku tidak kuat lagi.
...
Malam berikutnya. Aku gelar lagi sajadahku. Aku duduk sendirian. Tanganku kembali terangkat seperti biasa, tetapi kali ini bukan dengan tenang. Tanganku gemetar. Dadaku penuh. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
"Ya Allah…" Suaraku pecah. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kenapa…?" Aku menggigit bibirku, mencoba menahan tangis yang semakin menjadi.
"Kenapa sedalam ini perasaanku untuknya?" Air mataku jatuh semakin deras.
"Kenapa Engkau tumbuhkan rasa ini di hatiku… untuk dia?" Suaraku meninggi. Bukan sepenuhnya karena marah, tetapi karena aku sudah terlalu lelah.
"Bukankah Engkau yang mengatur hatiku?" Aku menutup wajahku. Tangisku pecah.
"Lalu kenapa rasanya aku seperti dipermainkan oleh perasaanku sendiri?"
Napasku tersengal.
"Kenapa Engkau tanamkan rasa ini kalau pada akhirnya hanya untuk menyakitiku?"
Aku tidak pernah seberani ini sebelumnya. Tidak pernah seputus asa ini. Rasanya seperti aku sedang berdiri di hadapan Tuhanku, bukan sebagai hamba yang tenang, tetapi sebagai seseorang yang terluka. Seseorang yang tidak mengerti. Seseorang yang… ingin jawaban.
"Ini terlalu sakit…" Bisikku lirih.
"Ini terlalu dalam… Aku tidak sanggup" Tanganku jatuh perlahan. Rasanya, in adalah untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar tidak tahu harus terus berharap atau menyerah saja.
...
Dan yang membuat semuanya terasa jauh lebih kejam adalah ketika aku sadar bahwa aku tidak benar-benar jauh darinya. Bukan sebagai seseorang yang bisa dia lihat, tetapi hanya sebagai bayangan di pinggir dunianya.
Orang-orang di sekitarku mengenalnya. Mereka menyebut namanya dengan begitu mudah, begitu ringan, seolah nama itu tidak pernah menjadi sesuatu yang berat bagi siapa pun.
Aku mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap cerita. Setiap detail kecil yang bagi mereka mungkin biasa saja, tetapi bagiku terasa seperti serpihan-serpihan kecil yang perlahan menancap di dada.
Aku hanya diam. Berpura-pura tidak peduli. Sesekali aku tersenyum, mengangguk, bahkan ikut tertawa kecil, seolah aku hanyalah pendengar biasa. Padahal di dalam, aku sedang berusaha mati-matian menata hati.
Aku ingin sekali bertanya bagaimana dia berbicara. Apakah dia seramah yang kubayangkan. Apakah senyumnya benar-benar sehangat yang selama ini hanya bisa kubayangkan dari kejauhan.
Tapi, aku tidak pernah berani. Karena aku tahu, sedikit saja aku membuka rasa itu di depan mereka, semuanya akan terlihat. Dan aku tidak ingin siapa pun tahu betapa dalamnya aku jatuh.
Lucunya, di tengah semua rasa sakit ini, aku pernah membayangkan sesuatu yang terlalu indah untukku. Seandainya saja aku bisa bersama dengannya, aku tidak perlu bersusah payah mengenalkannya kepada mereka. Karena mereka sudah mengenalnya. Sudah dekat dengannya. Sudah pernah berada dalam lingkar yang sama.
Betapa mudahnya. Betapa indahnya. Seolah semuanya memang telah disiapkan. Namun khayalan itu runtuh bahkan sebelum sempat berdiri utuh.
"Siapa aku?"
Kalimat itu kembali datang. Pelan, tetapi menghantam.
Siapa aku, yang bahkan tidak pernah dia lihat? Siapa aku, yang hanya hidup dalam doa tanpa pernah hadir dalam kenyataannya? Dan yang paling menyakitkan, aku tidak bisa benar-benar pergi. Karena setiap kali aku mencoba menjauh, selalu ada saja sesuatu yang menarikku kembali.
Cerita-cerita kecil dari mereka. Namanya yang terus disebut. Kebetulan-kebetulan yang terasa seperti disengaja. Seolah dunia ini terlalu sempit untuk memberiku ruang untuk melupakannya barang sejenak saja. Semakin aku berusaha melepaskan, semakin banyak hal yang mengingatkanku padanya. Semakin aku mencoba mengikhlaskan, semakin jelas bayangnya hadir di mana-mana.
Aku lelah.
Ini bukan lagi sekadar rindu yang tidak sampai. Ini seperti terjebak dalam lingkaran yang tidak memiliki jalan keluar. Aku tidak bisa mendekat. Aku juga tidak bisa benar-benar menjauh. Dan di titik itu, akhirnya aku mengerti satu hal yang paling jujur. Ini sangat menyakitkan. Bukan karena aku tidak bisa bersamanya. Tetapi karena bahkan untuk melupakannya saja… aku tidak diberi ruang.
...