Hari Ketika Semua Orang Tahu Kecuali Aku

Tidak seperti biasanya. Rumah itu ramai sejak pagi.  Orang-orang memenuhi halaman tetanggaku, yang juga masih saudaraku  seorang perempuan s...

Tidak seperti biasanya. Rumah itu ramai sejak pagi. 


Orang-orang memenuhi halaman tetanggaku, yang juga masih saudaraku  seorang perempuan sepuh yang telah lama tinggal di ujung gang kami. Kursi-kursi plastik berjajar, suara salam bersahutan, dan langkah kaki datang silih berganti membawa wajah duka.

Ia meninggal dunia.

Aku tidak ikut keluar rumah.

Aku tidak percaya, perempuan sepuh baik hati dengan senyum hangatnya itu, kini telah tiada.

Aku hanya berdiri di balik jendela kamar, memperhatikan keramaian itu dari kejauhan. Udara terasa berat, seperti pagi yang menahan tangisnya sendiri. Orang-orang berbicara pelan, beberapa membaca doa, sebagian lainnya duduk diam menunggu waktu pemakaman.

Semua terasa wajar.

Sampai seseorang memanggilku.

“Kamu harus bersiap.”

Aku menoleh.

"Calon suami dan keluarganya sudah datang.”

Aku mengernyit.
"Calon suami?" Pikirku.

Belum sempat aku bertanya, suasana berubah begitu saja. Orang-orang yang tadi tampak seperti pelayat kini mengenakan pakaian rapi dengan wajah cerah. Mereka tersenyum, berbincang pelan, duduk seolah menunggu sebuah perayaan.

Bukan lagi pemakaman.

Melainkan pernikahanku.

Dan anehnya… tidak ada yang terlihat terkejut selain aku.

Seolah semua orang sudah mengetahui rencana itu sejak lama.

Semua orang, 
kecuali aku.


---

Aku membuka lemari pakaianku.

Lipatan baju yang kukenal, dan abaya-abayaku juga tergantung tenang di sana.

Tanganku mengambilnya tanpa berpikir panjang. Salah satu abaya hitam menjadi pilihanku.

Karena jika aku harus menikah bukan atas keinginanku seperti ini, maka aku tidak ingin terlihat bahagia.

Abaya hitam itu kupakai sebagai protes yang diam.

Protes pada siapa? 
Akupun tidak tahu.

Aku berdiri di depan cermin, lalu kebingungan memilih hijab. Saat itulah sepupuku datang. Ia seorang penjahit, membawa tas putih besar di tangannya.

Ia tersenyum hangat.

“Aku bawakan ini untuk teteh.”

Dari dalam tas, ia mengeluarkan hijab berwarna cream dengan motif lembut di ujung-ujungnya. Indah sekali. Dengan enggan, aku mengenakannya.

Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang lain.

Sebuah gaun dengan perpaduan warna pink dan putih, dengan bagian bawah yang mengembang seperti gaun seorang putri.

“Aku yang jahit,” katanya pelan.

Gaun itu cantik. Sangat cantik.
Tidak aku pungkiri, aku menyukainya.

Tapi aku menggeleng.

“Aku gak mau.”

Aku tidak ingin terlihat ceria. Tidak ingin tampak menerima sesuatu yang bahkan tidak pernah kutanyakan.

Aku tetap memilih gaun hitam.


---

Aku kemudian duduk di sebuah ruangan luas dan terbuka yang telah dihias putih dan tenang. Karpet empuk membentang di lantai, lampu-lampu lembut menggantung seperti cahaya doa. Dan, aku yakin ruangan yang luas dan terbuka itu adalah salah satu bagian dari rumahku.

Perias pengantin duduk di belakangku, merapikan hijabku sambil memuji kecantikanku.

Ia mengucap syukur. Katanya ia ikut bahagia.

Aku justru semakin kesal.

Di depan ruangan, seorang laki-laki sedang mengaji.

Suara bacaannya tenang, dalam, dan berwibawa.

“Itu calon suamimu,” seseorang berbisik.

Aku menatapnya.

Wajahnya terang seperti diselimuti cahaya sehingga aku tidak dapat melihatnya jelas. Ia terlihat sebagai sosok yang tenang, dan menyejukkan hati. Aku segera mengalihkan pandanganku. 

"Tidak. Tidak seharusnya aku mengagumi dalam waktu sesingkat ini. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Sadarlah!" Bisikku dalam hati

Periasku menghela napas.
“Kenapa pengantin secantik ini memakai warna hitam?”

Dan sebelum aku sempat menjawab, suara dari depan terdengar.

Lembut. Tidak keras. Tapi jelas.

“Tidak apa-apa.”

Ruangan menjadi hening.

“Ia boleh mengenakan pakaian apa saja sesuai keinginannya di hari pernikahan kami ini. Saya tidak keberatan." Lanjutnya.

Dadaku terasa berhenti sesaat.

Ia tidak memaksaku.
Tidak menegur.

Seolah ia memahami kemarahanku tanpa perlu penjelasan.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa… sedikit tenang.


---

Namun menjelang akad, aku tetap diminta mengganti pakaian.

Periasku menemukan gaun pink putih itu dan memaksaku mencobanya. Gaun itu pas di tubuhku, indah, hampir sempurna.

Aku ingin melihat diriku di cermin.

Namun setiap cermin yang kutemui buram.

Tidak ada bayanganku.

Rumahku terasa membesar, lorongnya panjang dan asing. Aku berjalan mencari pantulan diriku sendiri, tapi tak pernah menemukannya.

Lalu aku sadar.

Gaun itu terlalu pendek, menggantung di atas mata kakiku.

Alasan baru untuk menolaknya.

Saat itulah sepupuku datang kembali. Ia meminta maaf karena harus menghadiri pemakaman neneknya, perempuan sepuh yang tadi meninggal.

Dunia terasa kembali bercampur.

Duka dan pernikahan berjalan bersamaan.

Ia membantuku untuk melepas gaun itu, dan mulai menjahitnya lagi. Memperbaikinya agar bahian bawahnya lebih panjang sesuia denfan tinggi badanku. Kami hanya saling diam, lalu ia berkata bahwa keluargaku lah yang memintanya membuat gaun itu untukku.

Sekali lagi aku menyadari:

Semua orang tahu.

Hanya aku yang tidak.


---

Aku terlalu lelah untuk bertanya.

Aku hanya duduk diam, memperhatikan jarumnya bergerak naik turun menambah panjang gaun itu. 

Di luar ruangan, orang-orang menghampiri dan menyalami laki-laki itu.

Calon suamiku.

Suara tawa pelan terdengar.

Dan tanpa kusadari, rasa penasaran mulai tumbuh di dalam dadaku.

Siapa dia?

Kenapa suaranya terasa begitu menenangkan?

Kenapa… aku mulai ingin mengenalnya?

Sebuah rasa hangat menyelinap pelan, kecil namun nyata, di antara kebingungan dan kesal yang masih tersisa.

Seolah hatiku perlahan belajar percaya pada sesuatu yang belum kupahami.


---

Lalu aku terbangun.

Menghadap jendela.

Cahaya pagi masuk perlahan ke kamarku yang sunyi.

Dan perasaan itu masih tinggal.

Ada kehilangan, bingung, kesal, juga menenangkan. Semua bercampur, sulit untuk aku pahami.

Seperti ada cerita yang berhenti tepat saat aku mulai ingin tahu kelanjutannya, pari ketika semua orang tahu. 
Kecuali aku.
__

You Might Also Like

0 Comments