Juni Yang Berbeda

Juni selalu datang dengan pagi yang hangat, langit yang cerah, dan cuaca yang menyenangkan. Mungkin, untuk banyak orang, Juni tahun ini pun ...

Juni selalu datang dengan pagi yang hangat, langit yang cerah, dan cuaca yang menyenangkan. Mungkin, untuk banyak orang, Juni tahun ini pun tetap terasa seperti itu. Namun tidak untukku. Juni kali ini datang membawa hal yang sama sekali berbeda. Ia menghancurkanku. Membantaiku habis-habisan. Meluluhlantakkan harapan-harapan yang selama ini kujaga dengan begitu hati-hati. 


Hari-hari di dalamnya sudah berkali-kali menamparku untuk sadar. Ada begitu banyak jawaban yang sebenarnya sudah terhampar di depan mata. Tetapi keyakinanku lebih besar daripada semua itu.

Aku percaya bahwa Juni kali ini akan membawa kabar baik.

Aku percaya bahwa semua doa yang kupanjatkan dengan sungguh-sungguh akan berakhir dengan cara yang indah.

Lalu Juni memberikan jawabannya. 

Jawaban yang sama sekali tidak sesuai dengan harapanku.

Jawaban yang membuat dadaku terasa kosong, seolah ada lubang besar yang menganga di sana. Perih. Sakit. Dan amat menyesakkan.

Jawaban yang menghancurkan begitu banyak rencana yang bahkan tak pernah sempat terucap.

Aku hancur.

Sehancur-hancurnya.

Aku menangis untuk sesuatu yang memang belum pernah kumiliki, tetapi selalu kusebut dalam doa-doaku. Selalu kutitipkan pada-Nya. Selalu kumohonkan agar berada dalam penjagaan-Nya. Karena aku benar-benar menginginkannya. Aku berduka atas harapan-harapan yang selama ini hidup di dalam kepalaku. Aku meratapi masa depan yang diam-diam pernah kubayangkan. Dan ternyata, kehilangan harapan bisa sama menyakitkannya dengan kehilangan apa pun.

Tetapi waktu terus berjalan.

Hari yang paling kutakuti itu akhirnya datang. Membuatku begitu kesakitan. Aku tidak kuat. Aku tidak sanggup. Terlalu menyakitkan.

Lalu hari itu berlalu.

Datang hari berikutnya.

Dan hari berikutnya lagi.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku masih di sini. Meski air mataku masih kerap berderai tiba-tiba. Meski hatiku masih terasa sangat sakit.

Ternyata aku masih bernapas.

Masih berdiri. Masih mampu menjalani hidupku, walaupun semuanya terasa begitu hampa.

Juni yang sama yang menghancurkanku ternyata juga mengajarkanku sesuatu. Bahwa aku jauh lebih kuat daripada yang selama ini kukira. Bahwa aku mampu menghadapi kenyataan yang selama ini paling kutakuti. Bahwa aku mampu bertahan, bahkan ketika hatiku merasa tidak sanggup.

Aku tidak membenci Juni.

Aku juga tidak ingin berterima kasih kepada Juni.

Aku hanya berharap tidak akan bertemu lagi dengan Juni yang semenyakitkan ini. Dan semoga ketika bulan Juni datang lagi di tahun-tahun berikutnya, membawa kembali ingatan tentang hari itu, aku sudah menjadi seseorang yang lebih kuat. Karena mungkin aku tidak akan pernah melupakannya. Tetapi aku berharap suatu hari nanti aku bisa mengingatnya tanpa derai air mata, tanpa dada yang sesak karena kesakitan, dan tanpa kembali hancur.

— Rabu, 30 Juni 2026. Jam 06.00 pagi. 

You Might Also Like

0 Comments