Sunday, July 24, 2016

Book Review : Merpati Tak Pernah Ingkar Janji by Mira W.

No comments
"Selamat, Maria!" seru Guntur, susah payah mendekati gadis itu. "Mainmu bagus sekali! Benar nggak sih kakimu dari kayu?".

"Dia cewek pilihan Tuhan!" bentak Rena kepada Guntur. "Kamu jangan kurang ajar!". "Satemu kutambah dua porsi lagi kalau kamu berhasil mengajak dia, Ren!". "Huu, sate sih apaan! Kalau Maria yang kamu mau, upahnya mesti bistik ayam!". "Bistik gajah pun boleh, Ren! Kamu tinggal pilih aja di Bonbin Ragunan, mau yang mana! Besok binatang itu udah jadi bistik di piringmu!". "Mendingan kamu lekas-lekas menggelinding pergi, Tur! Teman-temanku sudah siap mengeroyokmu!". "Masa ngajak dia pergi aja nggak boleh? Ini sekolah apa biara?". "Surat kelakuan baikmu meragukan!". "Kalau begitu kamu yang harus kasih aku rekomendasi, Ren!". "Wah, aku sendiri tidak percaya kok sama kamu!". "Jadi aku mesti berusaha sendiri nih? Oke, Neng! Lihat saja nanti!".

Dan Guntur benar-benar melaksanakan ancamannya. Dikejarnya Maria ke mana pun dia pergi, di mana pun dia bersembunyi. Bahkan ketika gadis kuper yang misterius itu terkapar di rumah sakit, Guntur masih sanggup menggunakan akal bulusnya untuk melarikan Maria! Namun janji tak dapat diingkari...

Di ujung tragedi yang membalikkan kehidupan remaja mereka yang memerah jambu, akhirnya Maria menemukan dirinya sendiri...



Identitas Buku
Judul : Merpati Tak Pernah Ingkar Janji
Penulis : Mira W.
Kategori : Romance, Fiksi, Drama
Tebal : 183 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1984
Rate : 4/5 Bintang

Review (((Spoiler Alert)))
Maria selama ini dipingit sama ayahnya. Pokoknya dia itu dijaga banget supaya gak kena pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Nah, kenapa Maria dipingit itu karena ayahnya, Pak Handoyo sudah berjanji akan menjadikan Maria sebagai seorang biarawati. Setelah sebelumnya Maria sekolah di rumah, home schooling gitu... Nah, sebelum masuk biara, karena masih terlalu muda untuk menjadi seorang biarawati, Maria dimasukkan ke SMA khusus putri.

Karena sebelumnya Maria gak pernah punya teman, sehari-hari dirumah tinggal bersama ayahnya. Ketika memasuki lingkungan sekolah bertemu guru, teman-teman sebayanya, itu jadi sesuatu yang baru dan bikin Maria canggung banget.

Dengan keadaan yang gak bisa bergaul, dandanan yang norak, pemalu dan gampang nangis karena gak tau harus gimana meghadapi mereka yang bernama "teman-teman" itu, Maria jadi bahan ejekan. Tapi sekalipun mendapat perlakuan tidak enak dari temen-temennya, dia seneng banget pas aktivitas belajar di kelas...dia sadar, ternyata banyak hal yang belum ia pahami dan belum ia ketahui. Bahkan, dia gak tahu tentang menstruasi

Suatu ketika, saat pelajaran olahraga, tanpa ada yang menyangka, tanpa dia sadari sendiri, Maria bermain voli dengan sangat baik. Mulailah teman-temannya respect sama dia. Merasa di akui, Maria mulai bisa dan percaya diri buat beradaptasi dengan teman-temannya.

Lalu, muncullah sosok cowok, yang dikenal berandalan, playboy daaan... tampan. Dari SMA mana gk ceritan jelas, hehe...mereka ketemu pas ada pertandingan voli antar sekolah. Tapi Guntur udah terkenal juga di SMA putri. Saat pertama kali melihat Maria, dia langsung tertarik. Bukan rasa tertarik yang suka gitu... Tapi tertarik karena dia merasa aneh, kok ada sih cewek kyk gitu, yg selalu pakai rok, celana olahraga panjang, rambut dikepang dua, norak dan kampungan banget di matanya

Guntur yang awalnya cuma mau mainin Maria, jadi beneran suka dan jatuh cinta, banget... sama Maria.

Tapi ya tentu saja... Sekalipun dihati kecil juga Maria suka sama Guntur, itu gak mungkin... Ayahnya gak akan menyetujui Maria dekat dengan cowok. Menurut ayahnya, cowok itu salah satu makhluk yang harus dia jauhi. Laki-laki yg boleh ia tahu hanya ayahnya dan Yesus

Karena rasa cintanya kepada Maria itu, Guntur sampai agak-agak lupa dengan taruhan yg ia lakukan dengan teman-temannya. Taruhannya, kyk biasa gitu deh... Kl Guntur berhasil jadian atau paling nggak berhasil ngajak Maria ke pesta mereka, berarti Guntur tu cowok yg paling keren deh diantara mereka. Dan tercium jugalah kedekatan Maria dengan Guntur. Dan disaat-saat ini pula, Maria mulai agak berontak dan bertanya-tanya "Kenapa sih ayahnya, berlaku seperti ini sama dirinya, anaknya yang hanya satu-satunya? Dan kenapa, apa sebenarnya alasan ayahnya begitu berambisi agar Maria menjadi seorang biarawati?"

Dari suster Cecillia, kepala sekolahnya... Maria diberitahu tentang sejarah keluarganya.
Pak Handoyo, ayahnya Maria... Dulu adalah seorang Romo, tidak ada yang mengetahui bagaimana awalnya atau apa alasannya, dia tiba-tiba saja mengundurkan diri. Dan setelah itu, seorang, yang saat itu teman dari suster Cecillia (aku lupa udah jadi biarawati atau masih calon), juga mengundurkan diri. Dan akhirya semua terjawab, mereka menikah, lahirlah Maria. Dan ibunya meninggal saat melahirkan Maria. Sejak saat itu, pak Handoyo "menyerahkan" putrinya, untuk Tuhan. Jadi maksudnya itu, karena dulu ibunya seorang biarawati, menikah dengan dirinya, lalu neninggal saat melahirkan, maka ia berjanji akan menjadikan Maria juga sebagai biarawati, mengabdikan hidupnya kepada Tuhan

Maria yang saat itu, tengah pergi dari rumah, dan setelah mendengar kisah keluarganya dari Suster Cecillia, akhirnya mengambil keputusan untuk mau menjadi seorang biarawati untuk memenuhi janji ayahnya kepada Tuhan

Disinilah aku nemu kaitan hubungan antara judul dan jalan cerita, putri pak Handoyo yang sebelumnya penurut banget, tanpa bertanya-tanya, berjanji mau menjadi biarawati...lalu kemudian memberontak, menolak, kabur, tapi akhirnya ia kembali dan memenuhi janjinya. Ya, ibarat Merpati yang jinak...pergi dan selalu kembali. Eh iya gitu ya? Gak pernah punya burung Merpati :D

Bertahun-tahun kemudian, setelah insiden penembakan yang tadinya ditujukan teman Guntur ke pak Handoyo, tapi tembakannya mengenai Guntur, sampai Guntur hampir kehilangan nyawanya, pak Handoyo dipenjara karena memang awalnya dia yang ngamuk-ngamuk dirumah Guntur menuduhnya menculik Maria. Padahal saat itu Maria kabur ke rumah Elita, teman baiknya di sekolah. Maria yang kini sudah menjadi seorang, itu namanya apa ya... Pokoknya dia jadi disebut Suster Maria. Udah jadi biarawati berarti ya? Ia mengurus sebuah rumah sakit sederhana.
Pada suatu hari, rumah sakitnya harus menampung para korban kecelakaan yang terjadi di sebuah jembatan yang tak jauh dari rumah sakit

Salah satu korban adalaaah....pak Handoyo!

Disaat Maria bersedih, setelah lama gak ketemu ayahnya, pas ketemu dalam keadaan seperti itu, ayahnya meninggal di pangkuannya... dan masih harus mengurus para korban kecelakaan, insinyur yang membangun jembatan itu, ingin bertemu dengan Maria, ingin bertanya apa saja yang bisa dia lakukan untuk membantu para korban.

Bisa ditebak banget sih yaaa.... Sang Insinyur adalah....bener banget, Guntur.

=================================================

"Dia akan mendampingi Maria seumur hidupnya dalam menunaikan tugasnya. Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh seorang insinyur di tempat yang terpencil ini, kata Maria tadi"

Dan Guntur percaya pada kata-katanya. Dia juga percaya, tidak semua cinta harus diakhiri oleh sebuah perkawinan. Kadang-kadang ada tujuan yang lebih luhur lagi. (halaman 301)

=================================================

Nah, kaaan... endingnya sedih banget. Aku gak tahu, harus bilang suka apa gak suka, sama endingnya ini :'(

Tapi secara keseluruhan aku suka sama ide dan jalan ceritanya, cuma gak suka beberapa bagian dialog antar tokohnya aja yang menggunakan kata-kata yang menurut aku, iya mungkin menurut aku aja... gak enak untuk dibaca.

No comments :

Post a Comment