Sunday, May 3, 2015

Book Review : Malaikat dan Iblis by Dan Brown

2 comments
Assalamualaikum...

Hwahh... lama sekali tidak menulis di blog tercinta ini. Terima kasih buat yang sudah menyempatkan untuk mampir, baca-baca dan menuliskan komentar dan pertanyaan terkait post yang saya published. Maaf ya, komentar-komentarnya belum sempat dibalas, pertanyaan-pertanyaannya juga baru sebagian yang saya jawab. Insyaa Allah, semua komentar dan pertanyaan yang masuk, akan saya balas :))

Ada beberapa buku yang saya baca belakangan ini. Tapi justru, yang akan saya review kali ini adalah buku yang sudah lama saya baca, yaitu salah satu karya dari penulis favorit saya, Dan Brown. Pada buku inilah Dan Brown mulai membentuk dan mengangkat karakter tokoh seorang ahli simbologi dari Universitas Harvard, New York yang tak lain dan tak bukan adalah Prof. Robert Langdon.

Robert Langdon, dikisahkan sebagai seorang ilmuwan berusia 40 tahun (lahir di Exeter, New Hampshire, United States pada tanggal 22 Juni 1964) berpenampilan rapi  dan menarik, dengan cara berpakaian yang khas, ia seolah tak pernah bisa lepas dari jas wolnya. Tak hanya itu, ia juga tak pernah menanggalkan jam tangan Mickey Mouse yang merupakan pemberian dari orangtuanya saat ia berulang tahun ke-10. 

Pada buku ini, petualangan Langdon terjadi di Vatikan, yang merupakan pusat agama Katolik. 



Judul : Malaikat dan Iblis
Judul Asli : Angels and Demons
Penulis : Dan Brown
Kategori : Fiksi, Misteri, Thriller, Suspense, Adventure, 
Penerjemah : Isma B. Koesalamwardi
Jumlah Halaman : 653
Ukuran Buku : 24x16 cm
ISBN : 979-16-0037-6
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama, Edisi Hard Cover : April 2005

Kisahnya diawali ketika Langdon menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Maximilian Kohler, direktur utama CERN. CERN (Conseil European por la Recherse Nucleare) merupakan fasilitas penelitian ilmu pengetahuan terbesar di dunia yang terletak di Swiss. Kohler memberitahu Langdon bahwa salah seorang peneliti CERN bernama Leonardo Vetra, telah dibunuh, dan pembunuhnya meninggalkan cap luka bakar di dada korban bertuliskan : ILLUMINATI


Tulisan simetris Iluminati, yang tetap dapat dibaca sebagai 'Iluminati',
meskipun tulisan tersebut dibalik 180 derajat
(Malaikat dan Iblis, halaman 19)
Langdon dimintai Kohler untuk membantu mengungkap pembunuhan tersebut. Pada awalnya, Langdon menolak dan mengatakan bahwa pembunuhan tersebut tidak mungkin didalangi oleh Illuminati. Karena Langdon yakin bahwa organisasi Illuminati telah punah sejak setengah abad yang lalu. Namun ketika melihat foto cap pada mayat tersebut, melalui sebuah gambar fax yang dikirimkan oleh Kohler, Langdon percaya, bahwa sepertinya memang benar pembunuhan tersebut ada kaitannya dengan Iluminati, sebab cap tersebut sesuai dengan legenda yang ada, bentuknya simetris dan tidak mungkin ditiru oleh komputer canggih manapun saat ini. Apalagi jika dibuat oleh tangan manusia secara langsung. Sangat tidak mungkin. Karena kesimetrisannya benar-benar sempurna.

Tak hanya ada cap ILUMINATI yang yang kini tertera membakar kulit dada korban, korban pun kehilangan salah satu bola matanya. Berkat upaya Langdon dan Vittoria, yang merupakan putri dari korban pembunuhan tersebut, motif pembunuhan pun mulai terkuak. Diyakini bahwa sang pembunuh menginginkan penelitian terbaru yang sedang dilakukan oleh korban. Namun, karena penelitian tersebut dilakukan di sebuah laboratorium pribadi yang dikunci dengan menggunakan sistem penginderaan retina. Maka diambillah salah satu bla mata korban untuk membuka kunci laboratorium pribadi milik korban.

Lalu, apa sesungguhnya yang sedang diteliti oleh korban?
Jawabnya adalah, Antimateri. Inilah yang sebenarnya diinginkan oleh pembunuh tersebut. Fakta bahwa, Antimateri adalah sumber energi terkuat yang pernah dikenal orang. Zat ini bisa menghasilkan energi dengan efisiensi sebesar 100% (Perlu diketahui, bahwa efisiensi pembelahan nuklir saja hanya 1,5%). Antimateri tidak menimbulkan polusi atau radiasi, dan setetes antimateri dapat menghasilkan listrik untuk kota New York sepanjang hari.

Kekurangannya, antimateri merupakan xat yang sangat tidak stabil.  Dia akan langsung terbakar begitu bersentuhan dengan apa saja (materi lain), bahkan dengan udara sekalipun. Padahal, 1 gram antimateri saja mengandung kekuatan setara dengan 20 kiloton bom nuklir atau seukuran dengan bom yang dulu dijatuhkan di Hiroshima.

Dalam kisah ini diceritakan, selama ini, di laboratorium pribadi milik Vetra, zat ‘antimateri’ tersebut tersimpan aman pada sebuah ‘tabung hampa’ yang mengandung 2 kutub magnet yang saling berlawanan untuk menjaga agar zat antimateri tersebut mengapung di tengah-tengah tabung (tidak menempel pada tabung yang merupakan materi). Suplai listrik tabung itu diperoleh dari baterai yang dapat diisi ulang dengan sebuah charger khusus yang hanya ada di laboratorium tersebut. Dalam keadaan terisi penuh, baterai itu mampu menyuplai listrik untuk tabung selama 24 jam. Dan kin, tabung berisi antimateri tersebut telah dicuri oleh pembunuh.

Vittoria Vetra, yang juga seorang ilmuwan muda CERN, putri dari Leonardo Vetra, sang korban, merasa sangat sedih dan terpukul dengan kematian ayahnya yang tragis. Terlebih ketika ia menyadari dan memikirkan efek yang akan terjadi dari akibat telah hilangnya tabung antimateri tersebut. Ia mengatakan kepada Kohler dan Langdon bahwa tabung tersebut harus ditemukan sebelum baterainya habis. Karena jika tidak, tabung itu akan mampu menghancurkan wilayah dalam radius setengah mil. (Catatan : 1 mil = 1,609 km)

Pertanyaannya kini adalah, kemanakah sang pembunuh membawa tabung antimateri tersebut? Lagi, lagi berkat usaha dan kejeniusan Langdon dibantu Vittoria, diketahui bahwa sang pembunuh membawa tabung tersebut ke Vatikan City, dan menyimpannya disuatu tempat disana. Melalui layar pengintai, penjaga keamanan wilayah setempat mengetahui keberadaan tabung tersebut namun tidak bisa melacak lokasi tepat keberadaan tabung antimateri yang berbahaya itu. Mengapa bisa demikian? Ternyata si pembunuh juga cukup jenius dengan memindahkan kamera pengintai, sehingga para penjaga dibuat kesusahan melacak letak tabung tersebut.
Upss... maaf kalau pada bagian ini, saya membuat kalian bingung... sungguh, bagian ini agak sulit untuk dibahasakan, hehehe...

Tentu saja, Langdon, Vittoria dan orang-orang yang mengetahui permasalahan ini, merasa sangat panik, karena waktu itu merupakan malam pemilihan Paus baru, dimana pada malam itu kardinal dari seluruh dunia sedang berkumpul di Vatikan. Kardinal adalah pejabat senior dalam Gereja Katolik Roma. Berada di bawah Paus dan ditunjuk langsung oleh paus sebagai anggota dewan kardinal. Tugas para kardinal adalah untuk menghadiri rapat dalam dewan suci dan siap sedia untuk hadir, baik secara pribadi maupun bersama-sama, kapanpun Sri Paus membutuhkan nasihat mereka.

Nampaknya, si pembunuh belum puas hanya dengan meneror dengan meletakkan tabung antimateri, pembunuh itu juga berhasil menculik 4 orang kardinal utama yang dijagokan sebagai calon paus baru.

Siapakah sebenarnya si pembunuh ini?

Mengapa ia bisa memasuki wilayah Vatikan yang dikenal memiliki sistem kemanan yang super ketat itu?

Benarkah ia seorang anggota iluminati, yang memiliki dendam besar pada gereja?

Mampukah Langdon dan Vittoria menemukan tabung antimateri itu tepat waktu?

Lalu, bagaimana nasib keempat kardinal yang diculik tersebut?

Penasaran? Ayo baca dan temukan jawabannya dalam buku ini ^_^

Dengan alur yang cepat, cerdas dan menegangkan hampir pada setiap halamannya, dalam buku setebal 653 halaman ini, saya disuguhkan petualang Langdon, yang didampingi Vittoria dan Garda Swiss (penjaga keamanan paling terpercaya bagi Vatikan) yang hanya dalam waktu 24 jam saja, diharuskan memecahkan kode-kode iluminati untuk menemukan keempat para kardinal yang diculik dan juga tabung antimateri. Mereka bersama-sama menjelajahi kota Roma, menelusuri kembali situs-situs yang dipercaya merupakan “Jalan Pencerahan” yang konon, dulu telah diciptakan oleh Illuminati. Saya suka pada bagian ini, Brown terasa detail menggambarkan setiap bagian dan sudut tempat yang dijelajahi Langdon dan Vittoria, saya jadi merasa ikut jalan-jalan dan berpetualang dengan mereka.

Sepanjang buku ini, selain disuguhkan petualangan yang seru, komedinya juga ada. Terutama ketika masalah ini tercium media dan diliput oleh wartawan yang yaaa.... belum terlalu profesional >_<

Romantis-romantisnya...? Tentu saja, ada. Saya suka seandainya Vittoria jadian aja sama Langdon, hihihi... sama-sama cerdas. Ahh... suka banget sama mereka, tapi sayang, rupanya mereka lebih memilih memiliki hubungan tanpa status. Nah bagian ini, yang aku gak suka dari cerita ini :(

Ada banyak pemaparan tentang penemuan-penemuan modern dalam buku ini, salah satunya adalah tentang antimateri itu tadi. Dan bahkan diakhir ceritapun, saya dibuat terkagum-kagum dengan aksi Robert Langdon, melalui salah satu hukum Fisika sederhana. Ini seolah mengingatkan kita (saya, khususnya) tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Karena ternyata, sekecil atau sesederhana apapun itu, yang namanya ilmu pengetahuan (suatu saat) pasti akan berguna bagi kita dan mungkin bisa jadi sebagai penyelamat bagi kita pada suatu kondisi tertentu.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini. so interest, so genius. Ketika membacanya, buat saya buku ini juga ibarat sebuah magnet yang sulit dilepaskan sebelum sampai pada halaman terakhirnya a.k.a bikin ketagihan pakai banget. Ilmu pengetahuan, fakta-fakta sejarah dan petualangan fiksi yang luar biasa menegangkan diramu dengan sangat apik sekali. Pokoknya keren dan seru!!!

5 bintang untuk Malaikat dan Iblis karya Dan Brown ini :)

Terima kasih,
Wassalamualaikum... Wr. wb.

2 comments :