Sunday, October 18, 2015

Book Review : Jodo Pakokolot by Memed Sastrahadiprawira

No comments
Lalakon Radén Suria Sungkawa sareng Endén Ratna Wulan anu didongéngkeun ku Méméd Sas­tra­hadiprawira (1897-1932) dina Jodo Pako­kolot téh. Lalakon panglipur, minangka raéhan tina Il Decameron, salah sahiji karya utama Abad Per­tengahan, yasana Giovanni Boccaccio anu ka­wentar. Ku tiasa Méméd nyundakeunana, mindah­keun kasang ti Éropah ka lembur urang, nepi ka karasana merenah, luyu jeung acining batin ba­laréa Sunda.


Identitas Buku
Judul : Jodo Pakokolot
Penulis : Memed Sastrahadiprawira
Bahasa : Sunda
Tebal : 60 Halaman
Kategori : Fiksi, Roman Sunda, Sastra Sunda
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Cetakan ke-3, Desember 2007
Diterbitkan Pertama Kali Tahun 1932 oleh Balai Pustaka
Rate : 3/5 Bintang

Review
Bercerita tentang Enden Ratna Wulan dan Raden Suria Sungkawa yang begitu saling mencintai. Namun, niat keduanya untuk segera hidup berumah tangga belum bisa terlaksana, dikarenakan Raden Suria yang juga putra seorang bangsawan itu, belum memiliki pekerjaan.

Selama ini pula, Enden Ratna Wulan tidak berani untuk memberitahu kedua orangtuanya tentang hubungannya dengan Raden Suria Sungkawa. Sedangkan Juragan Rangga Banjaransari, ayah dari Enden Ratna Wulan mulai merasa khawatir karena sepengetahuannya, belum ada seorang lelakipun yang berhasil menarik perhatian putrinya tersebut.

Enden Ratna Wulan digambarkan sebagai sesosok perempuan muda yang sempurna. Selain putri dari seorang bangsawan dan berpendidikan, ia memiliki paras sangat cantik, dikenal baik hati dan cerdas. Ia sangat mahir bahasa Belanda, padahal sangat jarang pada kala itu ada gadis seusianya yang bisa dengan sangat lancar berbicara dalam bahasa Belanda. Maka, tidak heran jika selama tinggal di Karang Kalangenan, tempat tinggalnya kini, Juragan Rangga Banjaransari telah banyak kedatangan para bangsawan dan orang-orang berpangkat tinggi lainnya yang hendak meminang putrinya tersebut. Namun, sang ayah merasa dari sekian yang datang itu, menurutnya masih belum ada yang benar-benar pantas untuk menjadi suami dari anak gadisnya itu. Adapun yang menurutnya pantas, Enden Ratna Wulan selalu saja menolaknya. 

Sampailah pada suatu waktu, ada seorang bangsawan muda berpangkat tinggi yang datang dan melamar Enden Ratna Wulan untuk menjadi istrinya. Dan kali ini, Juragan Rangga, merasa telah benar-benar menemukan lelaki yang menurutnya sangat pantas untuk menjadi suami putrinya. Ia sangat bahagia dengan kedatangan bangsawan muda tersebut karena ia yakin kegelisahannya akan segera berakhir. Kebahagiaan Juragan Rangga semakin bertambah ketika diberitahukan tentang pinangan dan sosok lelaki yang meminangnya itu, sang putri tidak menolak. Ia langsung menerimanya dan kemudian  menikah dengan dengan bangsawan berpangkat tinggi tersebut. Ia seolah begitu terpikat dengan bangsawan muda itu. Dengan sekejap, ia telah lupa kepada kekasih yang begitu mencintainya, Raden Suria.

Tentu saja, mendengar bahwa kekasih hati yang sangat ia cintai itu telah menikah dengan lelaki lain, Raden Suria Sungkawa merasa sangat marah dan sakit hati. Tanpa berpikir panjang, ia mendatangi seorang dukun yang, Raden Suria dengar, keahlian dukun tersebut sangat manjur dalam hal memikat seseorang untuk tunduk dan hanya tergila-gila mencintai orang yang dibantu oleh dukun tersebut. Betapa senang saat sang dukun dengan nampak sangat meyakinkan itu menyanggupi permintaannya agar Enden Ratna Wulan mau meninggalkan suaminya dan kembali kepada dirinya. Adapun salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh Raden Suria demi terkabul niatnya itu adalah menyerahkan kepada sang dukun sesuatu berupa barang yang selamanya selalu dipakai oleh Enden Ratna Wulan. Merasa kebingungan dengan apa yang harus ia ambil dari yang selalu dipakai Enden Ratna Wulan, sang dukun kemudian menyarankan agar Raden Sura mengambil sobrah milik Enden Ratna Wulan. Sobrah adalah rambut yang berbentuk panjang sebagai penyambung rambut waktu membuat sanggul. Lagi-lagi, tanpa berpikir panjang, Raden Suria langsung melaksanakan apa yang disarankan oleh dukun nya itu. Bahkan ia nekad mengambilnya sendiri karena jika menyuruh orang lain, ia khawatir niatnya itu akan diketahui oleh orang lain. Terutama, ia juga khawatir, niatnya ini akan merusak nama baik diri dan keluarga besarnya.

Malam itu, sekitar pukul 9, Raden Suria sudah berada dalam lingkungan keraton Karang Kalangenan. Raden Sura yakin, sobrah itu ada di kamar Enden Ratna Wulan, kamar pengantin. Ia begitu ingin segera masuk kedalam keraton, mengambil sobrah dan kemudian segera pergi dari tempat itu. Namun, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sambil memperhatikan keadaan dan lalu lalang orang-orang di keraton, karena pesta pernikahan baru saja usai, ia hanya bisa berdiri di dekat pohon yang tidak jauh dari pintu masuk keraton. Tengah malam pun tiba, Raden Suria masih belum melakukan apapun. Dan di waktu yang sama, tiba-tiba ia melihat Enden Ratna Wulan dan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu tengah berjalan sambil bergandengan mesra. Mereka duduk, di teras keraton, tertawa-tawa dan bermesraan sambil menikmati pemandangan bulan malam itu.

Dibawah sinar bulan yang sama, Raden Suria merasa seluruh tubuhnya lemas, ia jatuh ambruk tak kuat menahan rasa sakit hati nya yang kini ia rasa semakin hancur. Namun seolah ada yang membantunya untuk bangkit, ia berdiri dan kemudian berjalan mengendap-endap memasuki keraton, bahkan ia berhasil melewati para penjaga yang tengah tertidur pulas dan memasuki kamar pengantin. Ia berhasil mengambil sobrah milik Enden Ratna Wulan.

Saking senang bisa mendapatkan apa yang ia cari. Raden Suria, hanya berdiri mematung memegangi sobrah itu. Ia tersenyum. Ia merasa sangat yakin, sobrah itu akan membantunya untuk membuat Enden Ratna Wulan kepada dirinya. Hingga ia dikagetkan oleh suara teriakan seorang perempuan yang sudah sangat ia kenal yang kemudian disusul teriakan seorang lelaki. Kaget, malu dan takut, begitulah yang dirasakan Raden Suria ketika ia melihat Enden Ratna Wulan dan suaminya tengah berdiri kaget di ambang pintu kamar. Yang ada dipikiran Raden Suria saat itu, adalah cepat-cepat pergi dari sana sebelum para penjaga bangun dan menangkap dirinya. Ia menubruk suami Enden Ratna Wulan hingga terjungkal dan tak sadarkan diri. Enden Ratna Wulan semakin berteriak-teriak histeris, ia mengenali betul, sosok yang baru saja berada di dalam kamarnya. Ia juga kemudian berteriak memanggil penjaga untuk memberikan pertolongan kepada suaminya.

Mendengar teriakan sang putri, para penjaga dengan sigapnya mengepung lingkungan keraton, sehingga Raden Suria tertangkap dan dipukuli para penjaga keraton dan kemudian mendapat hukum kurungan untuk selama beberapa waktu.

Selama menjalani masa hukuman itu, Raden Suria selalu dihinggapi rasa malu yang begitu besar serta rasa bersalah kepada keluarga besarnya. Ketika hukuman berakhir, ia segera menemui saudara-saudara kandungnya yang ternyata begitu merasa sangat dipermalukan oleh dirinya. Ia diusir oleh saudara-saudaranya. Dengan rasa malu dan bersalah yang ia rasakan, ia memberanikan meminta sebagian harta yang diwariskan orangtua mereka untuk bekal kehidupannya. Ia berjanji setelah itu tidak akan pernah lagi menemui saudara-saudaranya. Setelah mendapatkan apa yang dia minta kepada saudara-saudaranya, Raden Suria pergi menuju sebuah pedesaan yang berada didekat hutan dan gunung.

Sembilan tahun telah berlalu. Raden Sura yang telah memutuskan untuk hidup di pedesaan itu juga telah lama memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Sura, serta penampilannya agar sesuai dengan penduduk disana. Karena bagaimanapun, ia adalah seorang bangsawan yang memang terkadang ada saja yang masih mengenalinya. Namun, lama kelamaan, sosok Raden Suria seolah menghilang sedikit-demi sedikit berganti rupa dan nama menjadi pak Sura, seseorang yang gemar memelihara burung. Dari sekian banyak burung yang ia miliki, ada satu yang menjadi burung kesayangannya, yakni burung Titiran. Burung yang ia jadikan sebagai burung pemikat ini juga sekaligus menjadi mata pencahariannya. Karena berkat burung Titiran pemikat ini, ia sering mendapatkan banyak burung bagus lainnya dari hutan, yang kemudian kadang ia rawat sendiri, atau kadang ia menjualnya.

Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, Enden Ratna Wulan telah memiliki seorang putra yang berusia 9 tahun. Suaminya telah meninggal sejak putranya masih berusia 4 tahuan. Sepeninggal suaminya, Enden Ratna Wulan sering menhabiskan waktu untuk sekedar berjalan-jalan ke sebuah pedesaan yang asri. Dimana pedesaan itu digambarkan sebagai sebuah tempat yang masih sangat asri, ada sawah yang terhampar hijau di sejauh mata memandang, air pegunungan yang bersih mengalir dengan sangat deras. Serta udara yang begitu menyegarkan. Hingga kemudian, bersama dengan putranya, ia memutuskan untuk menetap di desa itu. Di desa yang ternyata adalah desa yang sama yang ditinggali oleh Raden Suria.

Tanpa mengetahui siapa sebenarnya bangsawan wanita yang baru pindah ke desa itu, Raden Suria hanya merasa senang setiap kali putra bangsawan itu datang ke rumah nya yang sangat sederhana. Tanpa sungkan, anak lelaki itu selalu bermain di rumah Raden Suria. Hingga suatu hari, anak lelaki itu meminta burung pemikat Raden Suria. Karena burung itu bukan sekedar burung pemikat namun juga sebagai alat pencahariannya, dengan lembut, Raden Sura menolak memberikan burungnya. Semenjak itu, anak lelaki tersebut tidak pernah lagi main kerumahnya, tanpa diketahui Raden suria, ternyata anak itu sakit keras, berawal dari keinginannya yang tak terpenuhi tentang burung yang sangat dinnginkannya. Mengetahui cerita anak lelakinya yang menginginkan burung pemikat Pak Sura, demikian Raden Suria dikenal di desa itu. Enden Ratna Wulan mendatangi rumah pak Sura, berharap ia akan memberikan burung pemikatnya untuk anaknya.

Raden Suria, alias Pak Sura yang berpenampilan tak terurus itu sangat kaget ketika hari itu kedatangan seseorang yang saat itu juga membuat perasaannya sangat campur aduk. Namun, tentu saja, Enden Ratna Wulan tidak tahu siapa sebenarnya Pak Sura.

Setelah berusaha untuk menutupi kegugupannya, dan berkalikali meminta maaf tentang keadaan rumahnya, Pak Sura mempersilahkan Enden Ratna Wulan untuk masuk dan langsung saja, dengan ramah, Enden Ratna Wulan mengajak berkenalan dan mengobrol tentang lingkungan desa tersebut yang telah membuatnya jatuh hati hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal disana. Namun, ia masih belum mengutarakan niat yang sebenarnya. Karena ketika ia bermaksud untuk mulai bicara tentang burung yang dimaksud, Pak Sura meminta izin untuk menyiapkan makan siang. Meskipun sudah menolaknya, dengan dalih merasa sangat terhormat kedatangan tamu bangsawan, tetap ingin menyiapkan makan siang alakadarnya.

Karena hanya tersedia,nasi, sambal dan lalapan, seperti biasa, tanpa berpikir panjang, Pak Sura alias Raden Suria ini memotong burung pemikat kesayangannya dan kemudian memasaknya untuk dijadikan lauk.

Usai makan, barulah Enden Ratna Wulan mulai bercerita tentang niatnya mengunjungi pak Sura. Mendengar tentang apa yang disampaikan Enden Ratna Wulan, tentang sakit putranya karena menginginkan burung pemikat yang dimilikinya ia sangat menyesal, karena burung tersebut kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan Enden Ratna Wulan yang sangat kaget dan sedih ketika mengetahui bahwa burung yang sangat diinginkan oleh putranya itu, baru saja ia santap. Enden Ratna Wulan, merasa sangat bersalah. Ia merasa bersalah terutama kepada putranya. Ia tidak bisa memberikan apa yang putranya inginkan. Ia juga merasa bersalah, karena burung pemikat sebagai alat pencaharian pak Sura kini juga telah tiada.

Rasa bersalah Enden Ratna Wulan semakin bertambah, ketika akhirnya, putranya juga meninggal dunia.

Sepeninggal, putranya, sekalipun sudah dibujuk dengan berbagai cara oleh Juragan Rangga, Enden Ratna Wulan tetap tidak ingin kembali ke keraton Karang Kalangenan. Ungkapnya, ia ingin tinggal disana agar bisa sering mengunjungi makam putranya.

Semenjak itu, Enden Ratna Wulan dan Pak Sura kadang sering menghabiskan waktu bersama bercerita tentang banyak hal. Terutama, Enden Ratna Wulan lah yang paling sering bercerita bahkan tentang masa mudanya, termasuk kisah pilu asmaranya dengan seorang bangsawan bernama Raden Suria Sungkawa. Enden Ratna Wulan, bahwa apa-apa yang menimpa dirinya selama ini adalah karma karena ia telah menyia-nyiakan orang yang begitu mencintainya. Bahkan secara tidak langsung, ia telah membuat Raden Suria menjadi orang terhina, mengalami hukuman dan kini menghilang tidak diketahui keberadaannya. Satu keinginannya kini, Enden Ratna Wulan begitu ingin bertemu dan meminta maaf kepada Raden Suria. Pak Sura tertegun, ia tidak pernah menyangka, ternyata, begitulah yang dirasakan oleh Enden Ratna Wulan. Selama ini, Pak Sura menanggap Enden Ratna telah benar-benar melupakannya sejak ia menerima pinangan itu. Ia juga tidak pernah menyangka ada penyesalan yang begitu dalam di hati Enden Ratna Wulan.

Akankah Pak Sura mengakui bahwa dirinya yang sebenarnya adalah Raden Suria Sungkawa? Ataukah ia tetap menutupi jati dirinya sebagai bentuk balas dendam agar Enden Ratna terus merasa bersalah?

==================

Dari segi cerita saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang menyukai bacaan bertema percintaan yang juga sarat akan pesan-pesan kehidupan. Tapi mungkin kalau untuk dibaca hanya direkomendasikan buat yang mengerti bahasa Sunda, karena teks nya menggunakan bahasa Sunda. Pesan-pesan seperti apa? Dari review cerita yang saya tulis diatas, rasanya sudah ada beberapa pesan kehidupan yang bisa dipetik. Dan saya tidak ingin bercerita lebih banyak mengenai plot cerita pada buku ini, biar pembaca bisa bisa menggali dan kemudian merenungi, hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Setelah selesai membaca buku karya dari Raden Memed Sastrahadiprawira (1897-1932), yang berkisah tentang Raden Suria dan Enden Ratna Wulan ini juga mengingatkan tentang kisahnya Federigo dan Monna Giovanna di The Decameron karya Giovani Boccacio. Ternyata hal itu juga yang disayangkan oleh Ajip Rosidi, yang jadi pengantar di buku ini, (dan tulisan pengantar ini terlewat tidak saya baca, padahal di awal buku >_<) jika memang "Jodo Pakokolot" ini sebuah cerita yang merupakan inspired dari salah satu cerita pendek yang tertulis di The Decameron, sayang sekali, Raden Memed ini tidak mencantumkan informasi tersebut, padahal pasti sudah banyak juga yang membaca karya Boccacio, selain itu, Raden Memed juga sastrawan ternama dan dan cerita ini pun jadi salah satu termasyhur di kalangan sastrawan Sunda.

Namun terlepas dari itu, saya cukup salut dengan kemampuan Raden Memed yang, seperti yang tertulis di blurb buku ini, dengan kemahirannya ia bertutur Raden Méméd bisa "memindahkan" sebuah cerita yang asalnya berlatar belakang Eropa ke latar belakang Sunda yang begitu kental.

No comments :

Post a Comment