Wednesday, September 12, 2012

TELESKOP HUBBLE

4 comments
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1e/Sts109-708-038a.jpg/300px-Sts109-708-038a.jpg
Teleskop Luar Angkasa Hubble
dilihat dari Pesawat Ulang-alik Columbia
selama Misi Servis 3B (STS-109)
Teleskop Hubble adalah sebuah teleskop luar angkasa yang berada di orbit bumi. Nama Hubble diambil dari nama ilmuwan terkenal Amerika, Edwin Hubble yang juga merupakan penemu hukum Hubble. Sebagian besar dari benda-benda angkasa yang telah berhasil diidentifikasi, adalah merupakan jasa teleskop Hubble.

Ukuran Teleskop Hubble 
  • Teleskop: Ketebalan mencapai 13,1 meter (43,5 kaki), berdiameter 4,27 meter (14,0 kaki) dan memiliki berat 11.000 kilogram. Ukuran Hubble hampir sama dengan sebuah bus sekolah. Tabung oranye yang ada pada teleskop adalah sumber tenaga Hubble.
  • Lensa: Lensa primer teleskop Hubble, berdiameter 2,4 m (8 kaki), dan beratnya mencapai 826 kilogram. Lensa ini terbuat dari kaca silika yang dilapisi oleh lapisan tipis aluminum murni untuk merefleksikan cahaya. Selain lapisan aluminum, lensanya juga memiliki lapisan magnesium fluorida yang berguna untuk mencegah oksidasi dan sinar ultraviolet (UV) dari matahari agar lensa tidak cepat rusak.
Sejarah Teleskop Hubble
Teleskop adalah alat pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang diamati. Teleskop ini membawa bayangan benda yang terbentuk lebih dekat sehingga benda tampak lebih besar. Ada dua jenis teleskop menurut lensa atau cermin yang digunakan untuk menghasilkan gambar yaitu teleskop reflektor (teleskop pantul) dan teleskop refraktor (teleskop bias) seperti yang terlihat pada Gambar 1. Teleskop reflektor terdiri atas satu cermin cekung besar, satu cermin datar kecil dan satu lensa cembung untuk mengamati benda. Teleskop ini memantulkan cahaya dari cermin utama parabola ke cermin sekunder datar dan kemudian ke lensa mata. Terdapat tiga jenis teleskop reflektor yaitu teleskop Newton, teleskop Gregorian, dan teleskop Cassegrain. Tingkat perbesaran citra ini tergantung pada panjang fokus cermin dan lensa mata. Sedangkan teleskop refraktor menggunakan lensa (biasanya ada dua lensa) untuk menghasilkan citra. Cahaya membelok dan membentuk bayangan pada fokus, lalu citra bayangan diperbesar oleh jajaran lensa okuler.

Teleskop telah digunakan sejak awal abad ke-17. Orang pertama yang menggunakan teleskop dalam pengamatan astronomi adalah Galileo Galilei. Galileo Galilei menemukan bukti dari teori Copernican yaitu penemuan empat bulan yang mengedari Jupiter yang membuktikan bahwa tidak semua benda-benda langit mengelilingi Bumi. Dia juga bisa melihat kawah di permukaan bulan. (Friedman Herbert, 1984: 17). Berikut adalah penemuan teleskop untuk pengamatan astronomi yang dapat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Penemuan Teleskop Untuk Pengamatan Astronomi
No
Penemu
Tahun penemuan
Ukuran Teleskop
Hasil Pengamatan
1 Galileo Galilei Abad ke-17 (1609) Terdiri dari lensa cekung dan cembung 4 bulan yang mengitari Jupiter, fase Venus, Kawah dipermukaan bulan
2 Johannes Kepler 1611 2 lensa cembung Orbit elips planet
3 Christian Huygens dan kakaknya 1655 12 kaki Titan (satelit saturnus)
4 Giovanni Cassini 1672 35 kaki Rhea (satelit kelima Saturnus)
100 kaki
Lebih dari 2  satelit saturnus
5 Isaac Newton 1670-an 1 inchi Mengoreksi aberasi sferis yang diciptakan oleh pembiasan lensa.
6 William Herschel 1781 12 inchi Satelit ke enam dan ke tujuh saturnus, nebula.
18,8 inchi
48 x 40 inchi
7 Joseph Fraunhoefer 1824 9,5 x 14 inchi Spektrum tata surya
8 Observatorium Lick 1888 36 inchi Pusat studi kecepatan radial bintang dan nebula.
9 George Hale 1897 40 inchi Pusat penelitian astronomi

Semakin besar panjang fokus, maka kemampuan teleskop untuk mengumpulkan cahaya juga semakin besar. Kemampuan teleskop mengumpulkan cahaya (LGP) Light Gathering Power sebanding dengan diameter kuadrat teleskop.

Luas penampang teleskop dapat dirumuskan dengan persamaan (2.1) :
LGP (A)=π(D/2)^2
LGP (A)= 1/4 πD^2…………………………… (2.1)
 
Keterangan:
LGP : Kemampuan mengumpulkan cahaya (mm2)
A : Luas penampang teleskop (mm2)
D : diameter teleskop (mm)

Pada tahun 1962, NASA (the National Aeronautics and Space Administration) dan ESA (the European Space Agency) merekomendasikan untuk membangun sebuah teleskop luar angkasa raksasa. Tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1977, kongres mulai mengumpulkan dana untuk proyek tersebut. Pada tahun yang sama pula, pembuatan teleskop segera dimulai. Untuk mendapatkan dukungan kongres, NASA telah meminimalkan biaya dan harus memastikan kinerja teleskop. NASA dan ESA mulai bekerja bersama untuk merancang dan membangun teleskop menjadi teleskop luar angkasa Hubble. Nama Hubble digunakan untuk memberi penghargaan kepada Edwin Powell Hubble.

Edwin Powell Hubble adalah seorang ilmuwan yang menciptakan sebuah sistem klasifikasi untuk berbagai galaksi. Dia mengamati dan mengklasifikasikan galaksi tersebut berdasarkan kandungan, jarak, bentuk, dan kecerahan. Pada tahun 1929 dia merumuskan Hukum Hubble, yang memungkinkan para astronom untuk menentukan umur alam semesta, dan membuktikan bahwa alam semesta mengembang. Dia dikenang sebagai bapak kosmologi observasional. Karena itulah pilihan nama teleskop digunakan untuk mengenang jasanya.

Teleskop luar angkasa Hubble pada dasarnya adalah sebuah teleskop reflektor besar (mirip dengan konsep asli Cassegrain), dimana dua cermin yang bertindak untuk konsentrasi cahaya. Meskipun teleskop Hubble telah dirampingkan sehingga cermin utama menjadi berdiameter 2,4 meter, dari ukuran awal 3 meter, proyek ini mulai menarik perhatian penting dari para astronom. Cerminnya selesai pada tahun 1981 dan perakitan pesawat antariksa seluruhnya selesai pada tahun 1985. Rencana meluncurkan teleskop menggunakan pesawat ulang alik NASA pada tahun 1986 tetapi hanya 1 bulan sebelum peluncuran dijadwalkan, bencana pesawat Challenger menyebabkan penundaan 2 tahun pesawat dari program keseluruhan. Teleskop luar angkasa Hubble akhirnya diluncurkan di Goddard Space Flight Center (GSFC) dengan pesawat ulang-alik Discovery pada tanggal 24 April 1990.

Harapan para astronom yang sedemikian tinggi sempat pupus karena citra-citra yang dikirim ternyata sangat kabur. Ternyata, masalahnya berasal dari cermin utama Hubble yang meleset keluar meski hanya sebesar 2,2 mikrometer. Karena masalah tersebut, cahaya yang jatuh pada permukaannya tidak dapat dipantulkan secara terfokus sehingga gambar benda-benda langit yang didapat cenderung menyebar sehingga nampak kabur atau disebut aberasi sferis. Akibatnya, dibutuhkan waktu yang lama bagi para astronom untuk dapat menganalisis gambar-gambar kiriman Hubble. Masalah lain juga ditemui pada salah satu panel surya dari Hubble yang bergoyang-goyang karena mendapat panas yang berlebih dari sinar matahari. Sementara itu, 3 giroskop rusak serta beberapa peralatan pengukuran juga tidak dapat berfungsi dengan baik. Sudah tentu hal ini mengecewakan para astronom dan anggota tim yang terlibat. Untungnya, teleskop Hubble yang selanjutnya disebut dengan Hubble saja, adalah teleskop luar angkasa pertama yang rancangannya memungkinkan insinyur dan ilmuwan di Space Telescope Institute di Baltimore (AS) untuk datang mengoreksi paket optik yang akan mengembalikan teleskop ke pengamatan sepenuhnya. Mereka yang terlibat dalam proyek ini memiliki solusi untuk mengatasi masalah pada cermin utama Hubble yaitu dengan memasang semacam “lensa kontak”, seperti halnya dengan orang yang mengalami cacat mata miopi (rabun jauh). Pada tahun 1991, NASA menyiapkan program kilat untuk menyiapkan cermin koreksi yang diberi nama COSTAR (Corrective Optics Space Telescope Axial Replacement) yang terdiri atas 10 buah cermin perak seukuran uang logam. Cermin tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga setelah dipasang akan membantu memfokuskan cahaya yang dipantulkan oleh permukaan cermin utama yang bermasalah pada Hubble. Pada tahun 1993 NASA meluncurkan misi perbaikan, orang tidak berharap banyak, namun ternyata pemasangan instrumen dan giroskop baru tersebut menyelamatkan Hubble. Dua tahun kemudian, Hubble mengirim gambar spektakuler berupa pembentukan awal sebuah galaksi yang seperti galaksi bimasakti pada masa satu miliar tahun pasca Big Bang.

Orbit teleskop Hubble kini berada pada 600 km di atas permukaan Bumi yang merupakan lokasi yang baik untuk menghilangkan efek distorsi atmosfer. Teleskop luar angkasa Hubble meneliti sinar inframerah dekat (near infrared), ultraviolet, dan cahaya tampak. Teleskop ini dirancang untuk mengambil gambar dengan resolusi yang tinggi dan spektrum yang akurat dengan memusatkan cahaya ke bentuk gambar yang tajam yang mungkin tidak dapat diperoleh dari Bumi, dimana atmosfer membatasi kecerahan bintang-bintang. Oleh karena itu, teleskop yang mempunyai cermin yang berdiameter 2,4 meter ini tidak kalah dengan teleskop di Bumi yang memiliki diameter lebih besar. Konsep teleskop dapat diupgrade dan diservis secara berkala oleh astronot agar dihasilkan kemampuan dan penemuan ilmiah yang kadang diluar dugaan perancang.

Komponen Teleskop Hubble

Teleskop Hubble mempunyai dua kelompok instrumen yaitu radial dan axial . Instrumen radial berada di sekitar pinggang Hubble, sedangkan axial berada di belakang teleskop. Instrumen yang berbeda digunakan untuk tujuan yang berbeda. Beberapa digunakan untuk membuat gambar dan beberapa dirancang untuk mengidentifikasi cahaya dari bintang dan galaksi oleh penyebaran spektrum seperti pelangi. Uniknya Hubble berada pada suatu tempat di luar angkasa yang membuat kemampuannya menangkap objek menjadi lebih luas dari panjang gelombang yang ditangkap oleh teleskop optik di Bumi. Teleskop dapat juga melihat dengan jelas di bagian spektrum inframerah-dekat (near infrared) dimana jika dilihat melalui teleskop di Bumi, atmosfer Bumi menyebabkan spektrum tersebut terlihat sangat cerah dan sangat tidak kelihatan. Ketebalan Hubble mencapai 13,1 meter (43,5 kaki), berdiameter 4,27 meter (14,0 kaki) dan memiliki berat 11.000 kilogram. Ukuran ini hampir sama dengan sebuah bus sekolah. 

Berikut adalah komponen-komponen dari teleskop Hubble.
a. Cermin:
Cermin pada teleskop Hubble ada dua :
1). Cermin utama atau cermin primer
Cermin utama atau cermin primer Hubble dibuat dari kaca yang dilapisi aluminium untuk merefleksikan cahaya. Selain lapisan aluminum, cerminnya juga memiliki lapisan magnesium fluorida yang berguna untuk mencegah oksidasi dan sinar ultraviolet (UV) dari matahari agar cermin tidak cepat rusak. Cermin utama ini mempunyai diameter 2,4 meter dan beratnya mencapai 826 kilogram yang berfungsi mengumpulkan cahaya dari bintang dan galaksi dan memantulkannya ke cermin sekunder.

2). Cermin sekunder
Cermin sekunder hampir sama seperti cermin primer, cermin sekunder Hubble dibuat dari kaca yang dilapisi dengan aluminium dan campuran khusus yang dapat memantulkan sinar ultraviolet. Diameternya 1/3 dari cermin primer (0,4 meter) yang berfungsi untuk memantulkan cahaya kembali melalui lubang cermin primer ke instrumen.

b. Aperture door ( lubang pintu)
Aperture door merupakan pintu lubang bidik Hubble yang berfungsi sebagai penutup lensa kamera. Selain itu, juga berfungsi seperti diafragma pada kamera foto yaitu membatasi jumlah cahaya yang masuk. Pintu ini menutup jika Hubble tidak beroperasi atau jika dalam keadaan bahaya seperti jika cahaya matahari ke teleskop terlalu banyak sehingga perlu mencegah cahaya tersebut membentur cermin dan instrumen.

c. Kamera:
Teleskop Hubble mempunyai banyak kamera diantaranya: Wide Field Camera 3 (WFC3), The Cosmic Origins Spektrografi (COS), Advanced Camera For Survey (ACS), Space Telescope Imaging Spektrografi (STIS), Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer (NICMOS), Fine Guidance Sensor (FGS), Wide Field and Planetary Camera 2 (WFPC2).

1). Wide Field Camera 3 (WFC3)
WFC3 mengidentifikasi tiga jenis cahaya yang berbeda yaitu ultraviolet dekat (near ultraviolet), cahaya tampak dan inframerah-dekat (near infrared), meskipun tidak secara bersamaan.

2). The Cosmic Origins Spektrografi (COS)
COS adalah spektrograf yang melihat secara eksklusif sinar ultraviolet. Spektrograf bertindak seperti prisma, memisahkan cahaya dari kosmos menjadi komponen warna.

3). Advanced Camera For Survey (ACS)
ACS digunakan untuk melihat cahaya tampak, dan dirancang untuk mempelajari beberapa kegiatan awal di alam semesta.

4). Space Telescope Imaging Spektrografi (STIS)
STIS merupakan kombinasi  kamera dengan spektograf untuk melihat sinar ultraviolet, cahaya tampak dan inframerah-dekat (near infrared).

5). Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer (NICMOS)
NICMOS merupakan sensor panas Hubble. Instrumen ini peka terhadap cahaya inframerah yang memungkinkan mengamati benda tersembunyi oleh debu antar bintang, seperti situs kelahiran bintang.

6). Fine Guidance Sensor (FGS)
Hubble mempunyai 3 Fine Guidance Sensors (FGS), dua diantaranya dibutuhkan untuk menunjuk dan mengunci teleskop agar sesuai sasaran dan yang ketiga digunakan untuk mengukur posisi yang  disebut astrometry.

7). Wide Field and Planetary Camera 2 (WFPC2)
WFPC2 digunakan untuk merekam kualitas gambar yang menutupi jangkauan spektrum dari ultraviolet jauh ke cahaya tampak dan inframerah dekat (near inframerah)

d. Panel surya
Panel Surya berfungsi untuk mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik yang mempunyai daya sebesar 2800 watt.

e. Antena Komunikasi
Teleskop Hubble mempunyai dua antena yang digunakan untuk mengirim dan menerima sinyal dari Bumi. Ketika teleskop Hubble mengamati objek luar angkasa, di komputer Hubble mengubah gambar atau spektrum ke angka-angka. Melalui satu diantara 2 antena, Hubble mengirim data tersebut ke Tracking and Data Relay Satellite System (TDRSS) yang digunakan untuk berkomunikasi dengan satelit.

f. Pelindung Cahaya (Light Shield)
Light shield berfungsi menghalangi cahaya sekitarnya yang berdampak pada sistem optik untuk masuk ke teleskop Hubble.

g. Sistem Kontrol Penunjuk
Sistem ini digunakan untuk menunjuk objek. Teleskop dapat mengunci ke target tanpa menyimpang sekitar lebar rambut manusia jika dilihat pada jarak 1 mil.

h. Sistem pendukung.
Berisi sistem pendukung dasar seperti komputer, baterai, giroskop, roda reaksi dan elektronik.
1). Sistem pendukung komputer
Berisi perangkat dan sistem yang dibutuhkan untuk mengoperasikan Teleskop Hubble. Sistem ini berfungsi sebagai master sistem kontrol untuk komunikasi, navigasi, manajemen daya, dan lain-lain.
2). Baterai
Baterai memiliki 6 nikel-hidrogen (NIH) dengan kapasitas penyimpanan sama dengan 20 baterai mobil. Pada teleskop Hubble, penggunaan power mencapai 2800 watt.
3).  Giroskop
Giroskop adalah alat untuk mengikuti jejak bintang dan mengendalikan reaksi, menjaga teleskop Hubble dalam keadaan tetap dan menunjuk arah yang benar yang tidak terlalu dekat dengan matahari, bulan atau Bumi.
4). Roda Reaksi
Teleskop Hubble memiliki empat roda reaksi yang berfungsi meningkatkan tingkat berputar yang menyebabkan teleskop dapat memutar dalam arah yang berlawanan.
5). Kotak Elektronik
Menempatkan peralatan elektronik seperti peralatan komputer dan baterai isi ulang.

Cara Kerja Teleskop Hubble
Teleskop Hubble mengorbit di atmosfer Bumi pada 600 km dengan kemiringan 28 derajat dari khatulistiwa. Setiap 97 menit, Hubble berputar penuh mengelilingi Bumi, bergerak dengan kecepatan sekitar lima mil per detik (8 km per detik). Keutamaan yang menakjubkan dari teleskop Hubble adalah kemampuannya untuk tetap menunjuk fokus objek yang astronom inginkan (Greg Carras at all, 2006). Pesawat ruang angkasa ulang-alik Discovery membawa Hubble ke luar angkasa pada tanggal 24 April 1990. 

Tabel servis berkala instrumen teleskop Hubble dapat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Servis Berkala Instrumen Teleskop Hubble

Instrumen
Tahun
Instrumen Asli Wide Field/ Plenetary Camera (WF/PC), kamera asli cahaya tampak /cahaya ultraviolet 1990-1993
Faint Object Camera (FOC), kamera resolusi tertinggi Hubble 1990-2002
Faint Object Spectrograph (FOS), untuk menganalisis cahaya dari objek redup 1990-1997
Goddard High Resolution Spectrograph (GHRS), dirancang untuk menampilkan detail analisis spectrum 1990-1997
High Speed Photometer (HSP), untuk mengukur laju variasi kecerahan objek astronomi 1990-1993
Misi servis Instrumen pertama Wide Field Planetary Camera 2 (WFPC2), kamera cahaya tampak/ ultraviolet dengan koreksi optik untuk mengganti kerugian dari kerusakan cermin primer 1993-sekarang
Corrective Optics Space Telescope Axial Replacement (COSTAR), perlengkapan yang ditempatkan untuk mengoreksi optik instrumen Hubble asli untuk  mengganti kerusakan cermin primer 1993-sekarang (tidak dapat digunakan lama, instrumen ini dirancang untuk mengoreksi optik)
Misi sevis instrumen ke dua Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer (NICMOS), kamera primer Hubble untuk pengamatan cahaya inframerah 1997-sekarang (tidak dapat digunakan 1999-2004)
Space Telescope Imaging Spectrograph (STIS), spektrograf yang melihat sinar ultraviolet, cahaya tampak dan inframerah dekat, 1997-sekarang (tidak dapat digunakan sejak 2004)
Misi Servis Instrumen ke empat Advanced Camera for Surveys (ACS), mempelajari beberapa kegiatan awal di alam semesta 2002-sekarang
Perencanaan instrumen Cosmic Origins Spectrograph (COS), spektrograf yang melihat secara eksklusif sinar ultraviolet Menunggu pemasangan
Wide Field Camera 3 (WFC3), mengidentifikasi tiga jenis cahaya yang berbeda: ultraviolet dekat, cahaya tampak dan inframerah dekat, meskipun tidak secara bersamaan. Menunggu pemasangan
(Sumber: Anonim, 2009: 3-4)

Misi perawatan tersebut dilakukan dengan mengirimkan para astronot yang menumpang pesawat ulang-alik (space shuttle) menuju lokasi teleskop Hubble. Lengan robot dari pesawat ulang-alik kemudian akan menangkap teleskop Hubble dan membawanya ke anjungan pesawat ulang-alik. Di situlah para astronot melakukan tugasnya. Mereka memperbaiki kerusakan yang timbul, melakukan penggantian bagian yang rusak, atau bahkan mengganti salah satu instrumen teleskop dengan versi baru yang lebih canggih. Untuk menyelesaikan pekerjaan itu para astronot harus berjalan-jalan di ruang angkasa dengan pakaian khusus.

Teleskop reflektor (pantul) Cassegrain menggunakan cermin cekung sebagai objektif dan cermin cembung sebagai cermin sekunder.

Cermin cekung digunakan untuk memfokuskan dengan teliti semua sinar sejajar di titik fokus utama. Cermin cekung akan mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin. Gambar terlihat melalui celah diantara cermin obyektif. Teleskop ini memperbesar ukuran sudut benda dan membentuk bayangan.
           
Selain perbesaran, teleskop juga dikenal istilah resolving power (resolusi sudut minimum). Resolving power yaitu jarak sudut minimum antara dua objek yang dapat dipisahkan oleh sebuah teleskop. Dua sumber titik akan terlihat terpisah bila pusat pola difraksi benda titik pertama berimpit dengan minimum pertama pola difraksi benda titik ke dua. Makin kecil sudut α, makin kuat daya pisah teleskop yang bersangkutan.

Hubble menggunakan program yang disebut Control Center System (CCS) di mana tim ahli yang bekerja di  Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, Amerika Serikat bekerja memonitor dan mengontrol teleskop tanpa henti. Tim tersebut mengirimkan instruksi detail beberapa kali dalam sehari. Mereka memberikan perintah kepada teleskop, misalnya menentukan objek apa yang harus diamati, dan menerima informasi darinya melalui perantara sebuah satelit. Lebih dari 100.000 perintah dikirimkan ke Hubble pada setiap minggunya. Perintah-perintah ini dikonversikan dalam bentuk kode yang dapat diproses oleh komputer  pada teleskop Hubble. Pada saat teleskop Hubble mengamati suatu target, cahaya dari benda langit mengenai cermin utama atau cermin primer teleskop Hubble. Ketika cahaya dipantulkan cermin primer lalu difokuskan ke cermin sekunder yang kemudian cahaya dipantulkan kembali melalui lubang di cermin primer dimana data dianalisis oleh komputer di dalam teleskop Hubble. Komputer didalamnya akan merubah informasi yang didapat menjadi data digital yang kemudian akan dikirimkan melalui gelombang radio ke satelit komunikasi, Tracking and Data Relay Satellite System (TDRSS) yang selanjutnya akan diterima oleh pengendali misi. Setelah kode digital diterima oleh stasiun di Bumi, kemudian disampaikan ke White Sands, New Mexico, USA. Kode itu akan diubah menjadi foto dan spektrograf (sebuah instrumen yang digunakan untuk mencatat spektrum astronomis). Spektrograf menguraikan sinar itu menjadi spektrum warna-warni pelangi seperti dilakukan prisma kemudian diterjemahkan menjadi informasi dan gambar yang dipelajari oleh ilmuwan di Goddard Space Flight Center di Greenbelt. Dari sini, data dikirimkan ke Space Telescope Science Institute di Baltimore untuk pengolahan lebih lanjut.



Sumber : 
gburk@otterbein.edu, 2011: 2
http://www.tcc.edu/faculty/webpages/kbroun/PowerPoint.htm,2010: 17
Amriawan, 2010: 1
Greg Carras et al, 2006: 62
Teguh Wiryanto, 2006: 10
Sir  Patrick Moore, 2002: 73

4 comments :

  1. nanti saya mau bikin teleskop.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku bantu dengan doa... hihihii...
      Jangan lupa, bikinin aku juga yaa :)

      Delete
  2. Replies
    1. HorEee... bang Andy dapat dukungan dari Herman, hehee...

      Delete