August 29, 2026
BOOK REVIEW: THE GIRL WHO LIVED TWICE BY DAVID LAGERCRANTZ
August 29, 2026⚠️ Review Ini Mengandung Spoiler ⚠️ IDENTITAS BUKU Judul: The Girl Who Lived Twice Penulis: David Lagercrantz Bahasa: Inggris Diterjem...
⚠️ Review Ini Mengandung Spoiler ⚠️
IDENTITAS BUKU
Judul: The Girl Who Lived Twice
Penulis: David Lagercrantz
Bahasa: Inggris
Diterjemahkan dari bahasa Swedia oleh: George Goulding
Tebal: 424 halaman
Penerbit: MacLehose Press
Tahun terbit: 2019
ISBN: 978-1-52940-688-7
Seri: Millennium #6 / lanjutan Millennium #3
Genre: Crime thriller, mystery, espionage
THE GIRL WHO LIVED TWICE adalah buku ketiga sekaligus penutup dari trilogi lanjutan Millennium karya David Lagercrantz setelah The Girl in the Spider’s Web dan The Girl Who Takes an Eye for an Eye.
Jika dua buku sebelumnya masih terasa seperti upaya Lagercrantz memasuki kembali dunia yang ditinggalkan Stieg Larsson, buku ini terasa lebih ambisius. Ceritanya tidak hanya berkutat pada Lisbeth Salander dan masa lalunya, tetapi menggabungkan beberapa lapisan cerita: kematian misterius seorang gelandangan asal Nepal, ekspedisi Everest tahun 2008, operasi intelijen internasional, mafia Rusia, korupsi politik, disinformasi, serta tentu saja perang panjang antara Lisbeth dan saudara kembarnya, Camilla.
Dan seperti judulnya, buku ini pada akhirnya adalah cerita tentang seseorang yang mencoba hidup kembali setelah bertahun-tahun hanya bertahan hidup.
SESOSOK MAYAT TANPA IDENTITAS. Cerita dibuka dengan penemuan sesosok mayat misterius di bawah pohon, di Stockholm. Dugaan awal, ia seorang gelandangan tidak dikenal. Ia tidak memiliki identitas, sidik jarinya tidak menghasilkan kecocokan, begitu pula pemeriksaan giginya. Tubuhnya menunjukkan bahwa ia telah menjalani kehidupan yang sangat keras: kehilangan sebagian besar jari tangan dan kakinya, mengalami frostbite, kerusakan organ, dan berbagai tanda penderitaan fisik yang ekstrem. Namun di sakunya ditemukan nomor telepon Mikael Blomkvist. Dan medical examiner Fredrika Nyman merasa bahwa tubuh lelaki ini seolah-olah mempunyai cerita yang belum selesai. Dari sinilah misteri pada buku ini dimulai.
Dari hasil penyelidikan Blomkvist, kemudian diketahui bahwa lelaki itu kemungkinan besar adalah seorang Sherpa dari kawasan Himalaya. DNA dan ciri-ciri fisiknya membawa penyelidikan menuju keluarga Sherpa dan akhirnya ke ekspedisi Everest pada Mei 2008.
Menariknya, Lagercrantz tidak menjadikan misteri identitas mayat sebagai sekadar whodunit. Identitas korban justru menjadi pintu masuk menuju sebuah rahasia yang telah terkubur selama lebih dari satu dekade.
Catatan:
Sherpa adalah sebutan untuk kelompok etnis yang berasal dari daerah pegunungan Himalaya, terutama Nepal. Mereka terkenal karena kehidupan dan keahlian mereka di lingkungan pegunungan tinggi. Dalam konteks pendakian Everest, Sherpa bukan nama profesi, meskipun kata ini sering digunakan untuk menyebut orang yang bekerja membantu ekspedisi pendakian.
Sherpa yang bekerja dalam ekspedisi biasanya memiliki tugas seperti:
- membawa perlengkapan dan logistik,
- memasang tali dan membantu menyiapkan jalur,
- membawa oksigen dan perlengkapan pendakian,
- membantu pendaki melewati medan berbahaya, dan
- melakukan operasi penyelamatan.
SEMENTARA ITU, LISBETH SEDANG MEMBURU CAMILLA. Di sisi lain, Lisbeth Salander berada di Moskow. Ia sedang memburu saudari kembarnya, Camilla—atau Kira—yang selama ini menjadi salah satu bayangan paling gelap dalam hidupnya.
Hubungan Lisbeth dan Camilla bukan sekadar perseteruan antara dua saudari kandung. Akar permusuhan mereka berasal dari masa kecil yang sama-sama traumatis.
Keduanya tumbuh di bawah bayang-bayang ayah mereka, Alexander Zalachenko, yang keras melakukan kekerasan brutal terhadap ibu mereka, Agneta Salander. Pada awalnya hubungan Lisbeth dan Camilla selayaknya dua saudari yang saling memiliki satu sama lain, saling menguatkan, sama-sama hidup dalam ketakutan dan sama-sama bertahan, karena keduanya sama-sama korban kekerasan ayah mereka. Namun kemudian mereka memilih sisi yang berbeda. Lisbeth membenci ayahnya dan berusaha melindungi ibunya. Camilla justru semakin dekat dengan Zalachenko.
Setelah Agneta mengalami kerusakan otak permanen akibat kekerasan Zalachenko dan Lisbeth membakar ayahnya hidup-hidup di dalam mobil, hubungan kedua saudari itu berubah menjadi perang seumur hidup. Menurutku, dari sinilah kekuatan terbesar buku ini berada:
Camilla bukan sekadar "villain perempuan". Ia adalah kemungkinan lain dari Lisbeth. Mereka berasal dari keluarga yang sama, orangtua yang sama, menyaksikan kekerasan yang sama, tetapi mengambil jalan yang berbeda.
Lisbeth membangun dirinya melalui perlawanan.
Camilla membangun dirinya melalui manipulasi.
Keduanya sama-sama terluka, tetapi luka tersebut menghasilkan pribadi yang sangat berbeda.
PERTEMUAN DUA SAUDARI. Salah satu adegan paling menegangkan terjadi di sebuah pesta mewah di Moskow. Lisbeth datang dengan niat membunuh Camilla. Ia sudah menentukan posisi, jalur tembakan, bahkan rute pelarian. Tetapi ketika tiba waktunya menarik pelatuk, ia hanya menatap Camilla, trauma masa lalu membuat Lisbeth ragu dan tidak mampu menembak. Bagian ini menarik, karena Lagercrantz memperlihatkan sesuatu yang jarang terlihat dari Lisbeth, selama ini kita mengenalnya sebagai sosok yang tidak sepenuhnya mampu mengendalikan dirinya sendiri. Lisbeth sering digambarkan sebagai perempuan yang hampir mustahil ditaklukkan. Ia jenius, sangat tangguh, mampu merencanakan sesuatu dengan presisi, dan terbiasa menghadapi kekerasan.
Dan Camilla adalah salah satu orang yang mampu menembus pertahanan tersebut. Bahkan ketika Lisbeth akhirnya berada dalam posisi terdesak, Camilla justru menikmati situasi itu. Ia ingin melihat saudari kembarnya mati. Namun konflik tersebut tidak berakhir dengan Lisbeth membunuh Camilla. Camilla yang saat itu menyadari keberadaan Lisbeth, berhasil melarikan diri dengan perlindungan para bodyguard-nya
Menurutku keputusan Lagercrant menulis plot pada bagian ini jauh lebih menarik daripada menjadikan Lisbeth sebagai pembunuh saudari kembarnya sendiri. Padahal bisa saja, ia membuat Lisbeth mengakhiri semuanya dengan cara yang sama brutalnya dengan kekerasan yang pernah membentuk hidupnya. Aku suka bagaimana Lagercrant "menjaga" Lisbeth.
Setelah itu, Camilla masih hidup dan merencanakan penculikan Blomkvist untuk untuk membuat Lisbeth datang dan membunuhnya.
MISTERI EVEREST DAN PENEMUAN MAYAT TANPA IDENTITAS. Sementara itu, Blomkvist menyelidiki penemuan sesosok mayat yang ternyata memiliki keterkaitan dengan ekspedisi Everest tahun 2008. Nama-nama penting dalam cerita masa lalu ini adalah:
1. Nima Rita, Sherpa yang kemudian ditemukan tewas di Stockholm.
2. Johannes Forsell, tokoh politik Swedia yang menjadi Menteri Pertahanan. Ia juga sahabat lama Svante Lindberg.
3. Klara Engelman, peserta ekspedisi, istri Stan Engelman. Meninggal dalam ekspedisi.
4. Viktor Grankin, pemandu ekspedisi yang juga memiliki hubungan dengan intelijen Rusia.
5. Svante Lindberg, sosok yang ternyata memainkan peran jauh lebih gelap daripada yang diketahui sebelumnya.
6. Stan Engelman, suami Klara Engelman dan figur yang terhubung dengan jaringan kriminal Rusia.
Investigasi Blomkvist kemudian mengungkap bahwa ekspedisi Everest tersebut sebenarnya bukan sekadar ekspedisi pendakian, melainkan sebuah operasi intelijen.
Johannes Forsell dikirim untuk mendapatkan informasi mengenai kepentingan Rusia, dan Svante Lindberg direkrut sebagai pendamping karena pengalaman serta pengetahuannya mengenai Rusia. Namun mereka tidak mengetahui seluruh permainan yang sedang berlangsung.
Hampir semua orang dalam cerita memiliki loyalitas ganda. Ada agen yang bekerja untuk negara tetapi memiliki kepentingan lain. Ada orang yang bekerja untuk pemerintah tetapi berhubungan dengan organisasi kriminal. Ada orang yang terlihat sebagai korban tetapi menyimpan rahasia. Bahkan beberapa karakter sendiri tidak sepenuhnya memahami pihak mana yang sebenarnya mereka layani.
NIMA RITA: KORBAN YANG PALING TRAGIS. Menurutku, Nima Rita merupakan salah satu karakter paling menyedihkan dalam buku ini. Ia bukan tokoh utama. Ia bahkan meninggal sebelum cerita benar-benar dimulai. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa kematiannya merupakan pusat moral cerita.
Nima adalah Sherpa yang berulang kali mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang lain di Everest. Dalam kekacauan ekspedisi 2008, ia menyelamatkan Johannes Forsell ketika keadaan sudah sangat buruk. Tetapi ada harga yang harus dibayar: Klara Engelman tidak berhasil diselamatkan. Dan Nima kemudian hidup dengan rasa bersalah.
Bertahun-tahun kemudian ia berada di fasilitas kesehatan dalam kondisi sangat buruk. Forsell sendiri mengakui bahwa ia tahu keadaan Nima, tetapi pada akhirnya memilih untuk menjauh. Ia tidak mampu menghadapi rasa bersalahnya sendiri.
Menurutku, adegan pengakuan Forsell kepada Catrin Lindås (seorang jurnalis yang juga mengenal Nima Rita) adalah salah satu bagian emosional terkuat dalam buku ini. Ia menyadari bahwa Nima merupakan "harga" dari keselamatannya dan bahwa rasa bersalah justru berubah menjadi kemarahan. Ada ironi yang sangat pahit di sini: Nima menyelamatkan hidup Forsell, tetapi Forsell tidak mampu menyelamatkan kehidupan Nima setelahnya.
Itulah yang membuat misteri mayat tanpa nama di awal cerita terasa jauh lebih penting pada akhirnya.
POLITIK, INTELIJEN, DAN “DUA TUAN”/"TWO MASTER". Lagercrantz kemudian memperluas cerita ke jaringan kriminal Rusia, Zvezda Bratva (sindikat kriminal Rusia yang didirikan oleh Alexander Zalachenko bersama Ivan Galinov), intelijen Rusia, operasi Barat, serta politik Swedia. Salah satu twist penting adalah bahwa Svante Lindberg, sahabat Johannes Forsell, ternyata telah direkrut oleh Zvezda Bratva sejak awal 2000-an. Ia bukan hanya korup. Ia juga terlibat dalam usaha membungkam orang-orang yang bisa membahayakan jaringan tersebut. Dan inilah yang membuat kematian Klara Engelman menjadi jauh lebih gelap daripada kecelakaan pendakian biasa. Lindberg mempunyai alasan untuk membiarkan Klara mati karena Klara mengetahui terlalu banyak. Dengan demikian, cerita Everest berubah dari:
"sebuah kecelakaan tragis di gunung"
menjadi:
"sebuah operasi intelijen yang berujung pada pengkhianatan, manipulasi, pembunuhan, dan kehancuran banyak kehidupan."
BLOMKVIST SEBAGAI WARTAWAN. Salah satu hal yang kusukai dari buku ini adalah bagaimana Lagercrantz tetap mempertahankan fungsi Blomkvist sebagai wartawan.
Ia bukan sekadar "partner Lisbeth".
Ia menyelidiki.
Ia menghubungkan informasi.
Ia bertanya kepada saksi.
Ia mengejar dokumen.
Ia menemukan celah dalam versi resmi sebuah peristiwa.
Dan yang menarik, investigasi jurnalistik Blomkvist pada akhirnya berhubungan dengan persoalan yang jauh lebih besar, tentang bagaimana kekuasaan mampu menciptakan narasi untuk menutupi kenyataan.
Hal tersebut juga muncul dalam subplot mengenai troll factories dan disinformasi Rusia. Blomkvist ternyata sedang menyelidiki Vladimir Kuznetsov, figur yang secara publik dikenal sebagai koki dan pengusaha, tetapi sebenarnya berada di balik jaringan troll factory, disinformasi, dan kampanye kebencian. Bahkan setelah Blomkvist terluka parah, Lisbeth masih diam-diam meninggalkan informasi yang memungkinkan Erika Berger menemukan bukti tentang Kuznetsov. Ini salah satu bagian yang memperlihatkan bahwa hubungan Lisbeth dan Mikael sebenarnya lebih dalam daripada sekadar hubungan romantis, mereka saling melengkapi.
ADEGAN PENYIKSAAN BLOMKVIST. Bagian paling brutal dalam buku ini adalah ketika Blomkvist diculik dan disiksa. Camilla yang mengatur rencana dan Galinov bersama beberapa anak buahnya sebagai eksekutor. Ia dibawa ke sebuah bangunan industri tua dan ditempatkan di dekat tungku besar. Kakinya kemudian dibakar. Ivan Galinov dan Camilla memanfaatkan penderitaan Blomkvist untuk memancing kedatangan Lisbeth. Camilla sengaja menggunakan Blomkvist sebagai alat untuk menyerang Lisbeth secara emosional. Ia meyakinkan Blomkvist bahwa Lisbeth tidak peduli kepadanya dan bahwa Lisbeth bersedia mengorbankannya. Namun Blomkvist justru memahami sesuatu yang tidak dipahami Camilla:
Lisbeth memang buruk dalam menunjukkan perasaan, tetapi itu tidak berarti ia tidak memiliki perasaan.
Ketika akhirnya Lisbeth datang, klimaksnya menjadi kekacauan brutal yang menimbulkan penembakan, ledakan, dan kebakaran. Camilla mencoba mendorong Lisbeth ke dalam furnace. Lisbeth menghindar, sehingga Camilla jatuh ke dalam api dan tubuhnya terbakar. Camilla masih hidup setelah keluar dari tungku. Ia mengambil pistol Galinov dan mengarahkannya kepada Lisbeth. Saat Lisbeth bersiap melindungi dirinya dengan menyiapkan tembakan pada Camilla, tembakan terjadi, tetapi bukan dari pistol Lisbeth. Camilla menembak dirinya sendiri di kepala.
Lisbeth berhasil menyelamatkan Blomkvist, tetapi keduanya dalam kondisi terluka parah. Blomkvist bahkan harus menjalani serangkaian operasi dan mengalami trauma psikologis yang sangat berat.
LISBETH YANG AKHIRNYA BERHADAPAN DENGAN DIRINYA SENDIRI. Kalau dibaca sekadar sebagai thriller, buku ini berisi banyak hal:
hacker → mafia Rusia → agen rahasia → pembunuhan → Everest → penyiksaan → politik → disinformasi → balas dendam.
Tapi di balik semua itu ada satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
Apakah Lisbeth bisa berhenti hidup sebagai orang yang terus-menerus dikejar masa lalu?
Pada lima buku sebelumnya, Lisbeth selalu berada dalam mode bertahan hidup.
Ada seseorang yang harus ia lawan.
Ada seseorang yang harus ia bongkar.
Ada seseorang yang harus ia hukum.
Ada seseorang yang harus ia selamatkan.
Dalam buku ini, ia akhirnya sampai pada titik ketika musuh terbesarnya adalah saudari kembarnya sendiri, seseorang yang merupakan bagian dari masa lalu yang sama. Dan setelah Camilla meninggal, perang itu sebenarnya selesai. Tetapi apakah Lisbeth tahu bagaimana hidup setelah "perang" selesai?
AKHIR CERITA. Aku suka akhir cerita pada buku keenam ini. Setelah semua kekacauan selesai, Lisbeth pergi. Ia meninggalkan Stockholm dan mendarat di Munich. Sementara Blomkvist masih berada dalam masa pemulihan. Ia mengalami trauma, harus menggunakan kruk, dan hari-harinya penuh kekhawatiran karena Lisbeth kembali menghilang. Ia berkali-kali mencoba menghubunginya.
Akhirnya Lisbeth membalas.
"I've put a full stop."
Blomkvist bertanya:
"Full stop?"
Dan Lisbeth menjawab:
"Time to begin again."
Kemudian keduanya tersenyum.
Buatku, ini adalah penutup yang tepat, khususnya untuk Lisbeth.
Full stop.
Bukan koma, bukan titik tiga, dan bukan pula "sampai jumpa dengan musuh berikutnya", seperti akhir pada buku-buku sebelumnya.
Tapi...
Titik.
Pada akhirnya, dan mungkin untuk pertama kalinya (?), Lisbeth memiliki kemungkinan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya.
MEMAKNAI JUDUL “THE GIRL WHO LIVED TWICE”. Menurutku judulnya dapat dibaca secara simbolis. "Lived twice" bukan sekadar berarti seseorang mati lalu hidup kembali secara literal. Lisbeth seperti mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai dua orang yang berbeda.
Lisbeth yang pertama adalah anak yang tumbuh di bawah kekerasan, perempuan yang belajar bahwa dunia adalah tempat berbahaya dan satu-satunya cara bertahan adalah menyerang lebih dulu.
Lisbeth yang kedua adalah perempuan yang mulai menyadari bahwa bertahan hidup saja tidak cukup. Ia harus belajar hidup.
Itulah sebabnya kalimat terakhir tentang "full stop" dan "begin again" terasa sangat penting. Ia bukan lagi sekadar gadis yang bertahan dari masa lalu. Ia akhirnya bisa mulai membangun hidupnya sendiri dan masa depannya.
KEKUATAN CERITA
1. Konflik Lisbeth–Camilla sangat kuat
Ini menurutku inti emosional dari cerita di buku ini. Dua saudari kembar dengan trauma yang sama tetapi jalan hidup yang berbeda memberikan dimensi psikologis yang menarik. Camilla juga berfungsi sebagai semacam "dark mirror" bagi Lisbeth. Ia menunjukkan apa yang mungkin terjadi jika luka yang sama diarahkan sepenuhnya kepada manipulasi, narsisme, dan kekuasaan.
2. Misteri Nima Rita sangat efektif
Cara cerita dimulai dengan seorang mayat tanpa identitas lalu perlahan menghubungkannya dengan Everest, Forsell, Klara, intelijen Rusia, dan akhirnya Lisbeth adalah struktur misteri yang cukup memuaskan.
3. Ada tema yang lebih besar daripada sekadar kriminalitas. Buku ini berbicara tentang:
- rasa bersalah;
- trauma;
- balas dendam;
- penyalahgunaan kekuasaan;
- loyalitas;
- manipulasi politik;
- disinformasi;
- pengkhianatan;
- eksploitasi manusia;
- dan konsekuensi dari "menyelamatkan" seseorang.
4. Ending-nya terasa sebagai penutupan karakter
Bukan hanya kasus yang selesai. Ada juga rasa bahwa perjalanan Lisbeth, akhirnya sampai pada satu titik. Menurutku, ini penting karena Millennium pada dasarnya selalu merupakan cerita tentang Lisbeth, bukan sekadar tentang kasus kriminal yang sedang ia hadapi.
KEKURANGAN CERITA
Dengan kekuatan atau kelebihan cerita yang aku tuliskan di atas, aku juga menemukan beberapa hal yang menurutku sedikit mengganggu saat membaca buku ini, diantaranya:
1. Plotnya sangat ramai
Menurutku, ini mungkin kelemahan terbesar. Ada terlalu banyak elemen yang berjalan bersamaan:
Lisbeth–Camilla, Blomkvist, Nima Rita, Everest, Forsell, Lindberg, Galinov, Zvezda Bratva, intelijen Rusia, troll factories, disinformasi, politik Swedia, Catrin LindÃ¥s, dan masih banyak lagi.
Memang pada akhirnya semua saling terhubung, tetapi proses menuju titik tersebut kadang terasa seperti sedang membaca beberapa novel yang dipaksa bertemu.
2. Bagian konspirasi terasa lebih "thriller" daripada "misteri"
Begitu rahasia Everest mulai terbuka, cerita berubah dari investigasi misteri menjadi thriller konspirasi dan espionage. Jika mengingat alur cerita seri Millenium pada buku-buku sebelumnya, perubahan ini menarik tapi terasa sedikit kurang memuaskan. Jujur, aku lebih menyukai nuansa The Girl with the Dragon Tattoo yang investigatif dan atmosferik.
3. Lagercrantz terlalu banyak menjelaskan
Beberapa twist sebenarnya sudah bisa dipahami pembaca dari petunjuk yang diberikan, tetapi narasi kadang masih menjelaskan ulang apa arti twist tersebut. Akibatnya, beberapa bagian kehilangan sedikit ambiguitas yang sebenarnya bisa membuat cerita lebih menarik.
4. Karakter sampingan yang terlalu banyak
Ada cukup banyak nama muncul kemudian menghilang, terutama pada jaringan intelijen dan kriminal.
BAGAIMANA LAGERCRANTZ SEBAGAI “PENERUS” LARSSON?. Buatku, ini pertanyaan yang sulit karena Stieg Larsson dan David Lagercrantz memiliki gaya yang cukup berbeda. Lagercrantz jelas memahami bahwa Lisbeth tidak boleh dibuat menjadi karakter lain. Ia tetap menjaga dan mempertahankan beberapa elemen pentingnya: masa lalu yang traumatis, genius hacker, sangat mandiri, sulit mempercayai orang, impulsif, sulit untuk berkomunikasi, brutal terhadap orang yang dianggap jahat, tetapi diam-diam memiliki kemampuan besar untuk melindungi orang lain, serta dorongan terhadap keadilan dan balas dendam.
Di sisi lain, atmosfer Lagercrantz dalam bercerita terasa lebih bersih dan lebih terstruktur daripada Larsson. Larsson sering terasa lebih sosial dan politis dalam kritiknya terhadap masyarakat Swedia. Lagercrantz cenderung lebih tertarik pada mekanisme thriller: bagaimana satu informasi mengarah ke informasi lain sampai semuanya bertemu pada menjelang akhir cerita.
Jadi menurutku:
Lagercrantz tidak berusaha menjadi Larsson, apalagi menjadi Larsson.
Dan mungkin justru itu sesuatu yang tepat. Ia mengambil karakter-karakter yang diciptakan Larsson, kemudian membawanya ke dalam gaya thriller versinya sendiri.
KESIMPULAN
Sampai sejauh ini, menurutku, The Girl Who Lived Twice bukan yang paling sempurna secara plot. Namun sebagai penutup perjalanan Lisbeth Salander versi David Lagercrantz, buku ini cukup memuaskan.
Aku juga suka bagian tentang, pada akhirnya konflik terbesar bukanlah soal siapa yang lebih kuat antara Lisbeth dan Camilla. Melainkan:
• Apakah Lisbeth akan terus hidup sebagai korban masa lalu, atau akhirnya memberi dirinya sendiri izin untuk hidup sebagai seseorang yang baru?
• Kematian Camilla mengakhiri satu lingkaran kekerasan.
• Kebenaran tentang Nima Rita yang sangat menarik. Ia tokoh baru di lingkaran Lisbeth-Blomkvist yang sebelumnya terasa sebagai tokoh figuran, tapi kemudian menjadi tokoh yang sangat penting.
• Blomkvist selamat, meskipun membawa trauma yang berat.
• Forsell harus menghadapi konsekuensi moral dari masa lalunya.
• Dan Lisbeth akhirnya berkata bahwa ia telah memberikan "full stop" pada semuanya. Kemudian: “time to begin again.”
Dan menurutku, itulah alasan ending-nya terasa lebih emosional daripada sekadar: kasus yang ia hadapi selesai. Karena setelah enam buku ini, tentu yang akhirnya ingin kita lihat bukan lagi Lisbeth memenangkan pertarungan. Tapi, kita ingin melihat Lisbeth berhenti bertarung (untuk sesaat?) dan memulai hidup yang baru.
Terima kasih sudah membaca sampai pada bagian ini. See you!