Thursday, August 13, 2015

Book Review : 18 Seconds by George D. Shuman

1 comment
Seperti apa 18 detik terakhir yang ada
dalam ingatan seseorang sebelum
meninggal?

18 detik. Sherry Moore, yang buta dan memesona, mampu “melihat”n18 detik terakhir memori orang mati dengan menyentuh mayat tersebut.
Kemampuan tersebut dimanfaatkan Letnan Kelly O’Shaughnessy untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai dengan korban para wanita.
Dua wanita tersebut kemudian bergabung untuk memburu dan mengungkap identitas si pembunuh.
Namun, tanpa disadari, merekalah yang diburu, sampai mereka terperosok lebih dalam ke sarang si pembunuh.



Identitas Buku
Judul : 18 Seconds
Judul Terjemahan : 18 Detik
Penulis : George D. Shuman
Penerjemah : Fahmi Yamani
Kategori : Fiksi, Misteri, Thriller, Suspense
Dimensi Buku : 408 halaman, 20x13.5 cm
ISBN : 978-979-22-7623-7
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Softcover, Cetakan Pertama, Oktober 2011

Review
Dengan setting tempat di Amerika pada tahun 2000-an, cerita dimulai dengan diterimanya banyak laporan kehilangan sanak saudara dari masyarakat setempat. Para korban tersebut adalah wanita-wanita muda.

Letnan Kelly O’Shaughnessy dari pihak kepolisian Pittsburg yang bertugas menangani kasus ini mengalami kesulitan mengungkap kasus-kasus ini, karena kurangnya bukti-bukti. Namun, dari beberapa bukti dan informasi yang ada mengindikasikan bahwa para wanita muda yang hilang tersebut tidak hanya sebagai korban penculikan tetapi juga sebagai korban pembunuhan berantai.

Adalah Sherry Moore, seorang cenayang tuna netra yang cantik dan mempesona. Ia bisa melihat 18 detik memori mayat sebelum orang tersebut meninggal.

"Saat reseptor kulitku menyentuh reseptor kulit orang mati,
sistem elektrisku yang menyala menjalin kontak dengan untaian sistem saraf pusat mendiang. Aku menghubungkan diri melalui sistem saraf pusat mereka ke otak." (halaman 26)

Sherry mendapatkan kemampuan itu setelah ia mengalami sebuah kecelakaan. Saat itu, ia masih berumur 5 tahun dan kecelakaan itu membuatnya buta. Saat ini, ia bekerja sebagai konsultan investigasi, dia sering dimintai bantuan oleh polisi. Sherry membantu seorang Letnan Kelly O’Shaughnessy yang sedang menghadapi tekanan dari publik akibat maraknya penculikan.

Ternyata kasus penculikan terhadap para wanita muda ini ada hubungannya dengan kasus yang sama sekitar 30 tahun yang lalu. Ini artinya, ada sesuatu membuat pelaku ini muncul kembali. Apakah pelaku dari dua era ini merupakan orang yang sama? Lalu, kemana saja ia selama ini? Mengapa baru sekarang ia muncul dan melakukan kejahatan keji ini lagi?

Sekalipun Sherry selalu sukses mengungkap kasus yang selama hanya berakhir buntu. Tentu saja, polisi tidak terang-terangan memberitahu pers dan masyarakat bahwa mereka meminta bantuan Sherry. Semua dilakukan secara diam-diam, karena pihak polisi tidak yakin cara investigasi yang mereka lakukan ini akan diterima oleh hakim, apalagi kalau dihadapkan pada pengacara tersangka yang handal.

Adegan-adegan dalam cerita digambarkan dari sudut pandang beberapa tokoh, berpindah-pindah dari Sherry sebagai tokoh utama, si pembunuh, detektif-detektif kepolisian, saksi-saksi, bahkan para korban.

Sehingga selain Sherry, pada bab berikutnya, Shuman menceritakan kisah awal Earl Sykes, yang selama ini mendekam di penjara. Skyes ditahan selama 30 tahun karena terbukti bersalah : mengemudikan mobil di bawah pengaruh narkoba sehingga terjadi kecelakaan yang menewaskan 17 orang dan membuat satu-satunya korban selamat menjadi cacat. Apakah benar kejahatan Skyes hanya itu saja? Siapakah Skyes sesungguhnya?

Di bab lain, Shuman berkisah tentang Detektif John Payne, lelaki yang menjadi Sahabat Sherry ini diam-diam menyukai Sherry. Bagaimana reaksi Sherry keika mengetahui apa yang dirasakan Detektif Payne kepada dirinya? Benarkah Sherry memiliki hubungan khusus dengan seorang polisi, seperti yang banyak digosipkan selama ini?

Ada pula Tracy Yoland, salah seorang korban. Pada menit-menit terakhir sebelum dia diserang mendadak, lehernya diikat ke tiang pancang di bawah jembatan Strayer's Pier, sehingga akhirnya ia tewas dengan tragis. Siapakah pelaku kejahatan ini?

Ketegangan demi ketegangan seolah enggan untuk enyah dari setiap lembarnya pada buku ini, karena korban terus bertambah, dibantu Sherry, Letnan Kelly O'Shaughnessy dengan gigihnya terus mengungkap dan menelusuri setiap petunjuk dan informasi yang mereka yakini telah membawa mereka semakin dekat pada si pembunuh berdarah dingin nan misterius itu.

Berhasilkah Sherry dan O'Shaughnessy menangkap sang pembunuh? Atau justru mereka akan menjadi korban berikutnya?

Pada beberapa lembar di awal, jujur saja, buku ini membosankan. Deskripsi Shuman pada beberapa bagian diawal-awal buku ini terlalu panjang dan berbelit-belit. Namun, seiring lembar demi lembar saya "lahap", saya merasa alur ceritanya semakin cepat dan membuat saya penasaran. Sedikit demi sedikit, Shuman pun menyuguhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan kebingungan-kebingungan saya di awal. Dengan cerdasnya, Shuman berhasil menggiring saya untuk terus membaca sampai ke halaman paling akhir.

Dan ya... setelah selesai membacanya, saya sependapat dengan The Washington Post, bahwa :

"18 detik adalah novel thriller dengan teknik penulisan dan plot terbaik, serta kisah paling impresif..."

Jadi, 4/5 bintang untuk Sherry More dengan kemampuan 18 Detik-nya,


Menurut saya, adanya typo, deskripsi penulis yang terasa bertele-tele dan desain cover (yang menurut saya) nggak banget menjadi kelemahan untuk buku ini. Namun secara keseluruhan, dengan ide '18 detik'-nya yang menarik, buku ini adalah sebuah buku dengan alur yang mengagumkan, penuh kejutan dengan akhir kisah yang mengesankan.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

1 comment :

  1. wah kayaknya super keren memang ni buku ya kak de

    ReplyDelete