Wednesday, August 12, 2015

Book Review : Bintang dan Cahayanya by Pretty Angelia

No comments
"Suatu saat kita akan menjadi bintang paling terang dijagat raya.
Kamu bintangnya, Kakak cahayanya."

Sinopsis
Alina Lovita Wahab, seorang cewek berusia 17 tahun harus memikul beban paling berat di hidupnya. Memiliki seorang adik yang punya Gangguan Spektrum Autisme ternyata nggak semudah yang ia bayangkan. Banyak yang harus Alin korbankan di masa remaja. 

Mengikuti emosi, Alin bertindak nekat. Hingga orang yang paling ia sayang di jagat raya harus menanggung akibat—kecelakaan yang membuat Bunda hampir menuju cahaya yang menuntunnya ke surga. Apa yang paling kau takuti di dunia ini? Mimpi buruk bernama kesendirian… 

Sanggupkah Alin bertahan menghadapi masa remaja yang seharusnya berwarna? Bisakah ia menjadi bintang yang bercahaya di tengah gelapnya langit bernama kenyataan dan rahasia? Bagaimana Mikael hadir dan menjadi malaikat penjaganya? Suatu saat kita akan menjadi bintang paling terang dijagat raya. Kamu bintangnya, Kakak cahayanya.

Identitas Buku
Judul : Bintang dan Cahayanya
Penulis : Pretty Angelia
Editor : Pradita Seti Rahayu
Kategori : Fiksi 
Tebal : viii + 336 halaman
Ukuran Buku : 19,5x13,5 cm
ISBN : 978-602-025-474-6 
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Softcover, Cetakan Pertama Tahun 2014

Review
Novel ini berkisah tentang kehidupan Alin. Gadis berusia 16 tahun yang memiliki nama lengkap Alina Lovita Wahab ini cenderung memiliki sikap yang labil. Bisa dimaklumi sebenarnya, mengingat usianya yang juga masih sangat muda. Di keluarganya, Alin adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja teknisi kapal. Ia jarang pulang, sehingga jarang pula bercengkrama dengan dua putrinya di rumah. Sedangkan Bundanya, full time di rumah, menjaga, menemani dan selalu ada untuk Alin dan adiknya, Aster.



Astera Rizkiani Wahab, biasa disapa Aster baru berusia 4 tahun. Ia mengidap autis hiperaktif. Ini membuat Aster, tidak seperti anak-anak lain yang seusianya. Ia juga sulit diajak berkomunikasi. Bahkan para tetangga yang tidak tahu apa-apa mengenai apa itu Autis, menyebutnya dengan sebutan anak cacat mental, gila dan idiot. Kondisi Aster tersebut tidak hanya hanya menyedihkan bagi Ayah dan Bundanya tapi juga bagi Alin yang kemudian berimbas pada kehidupan masa remajanya.

Ditengah kesibukannya sebagai seorang pelajar, saat di rumah, Alin juga dihadapkan pada keharusannya untuk selalu membantu Bundanya untuk menjaga dan merawat Aster. Meskipun sebenarnya, Bundanya tidak pernah mengharuskan Alin untuk melakukannya. Tidak hanya itu, Alin juga ketakutan jika kondisi adiknya yang demikian, diketahui oleh teman-temannya. Ya, selama ini Alin selalu berusaha untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia memiliki adik yang menderita autis dari semua teman-temannya. Terlebih ketika pacarnya yang bernama Yovie, memutuskan hubungan mereka setelah ia mengetahui bahwa Alin memiliki adik yang tidak normal.

Seolah tidak cukup sampai disitu, Alin yang menjadi satu-satunya teman Bunda untuk berbagi perasaan, merasa sedih harus menerima berbagai kenyataan dalam keluarganya ini yang menurutnya tidak adil. Ia pun mulai berpikir dan merasa bahwa Ayahnya tidak peduli pada kondisi keluarganya sendiri.

Berbeda dengan Yovie, Mikael yang sederhana dengan sikap humorisnya, mampu menjadi pelipur lara bagi Alin. Bahkan, Mikael menampakkan bahwa bisa menerima dirinya, keluarga dan adiknya  secara apa adanya. Cowok yang kini menjabat sebagai ketua OSIS di SMA Manunggal tempat mereka bersekolah ini, sebenarnya bukanlah sosok yang asing bagi Alin. Mikael adalah cowok yang sejak dulu, tanpa mengenal kata menyerah, ia selalu mengejar-ngejar cinta Alin.

Alin yang saat ini sering kali hilang kesabaran menghadapi Aster yang berkebutuhan khusus ini, sebenarnya sangat menyayangi adiknya. Namun pada suatu ketika, Alin tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan tentang adiknya itu dari teman-temannya. Bahkan, rasa marah dan kesal Alin pada adiknya itu kini memuncak. Ia pun memberontak pada Bundanya.

Satu demi satu masalahpun bermunculan. Hingga akhirnya tanpa dia sengaja, Alin membuat Bundanya mengalami kecelakaan.

Lalu, bagaimanakah akhirnya sikap Alin? Mampukah ia menerima kenyataan bahwa adiknya memang berbeda dan itu sudah merupakan ketetapan dari Tuhan yang harus ia jaga? Benarkah semua teman-temannya akan menjauhi Alin setelah mengetahui Alin memiliki adik yang mengidap autis? Bagaimana dengan Mikael, apakah benar ia bisa menerima Alin apa adanya, setelah ia mengetahui tentang berbagai kenyataan dalam hidup Alin?  Bagaimana selanjutnya hubungan Alin dengan Ayahnya? Selamatkah Bundanya dari kecelakaan itu?


Setelah beberapa kali terendapkan, akhirnya selesai juga membaca buku yang memiliki desain cover dan judul yang cantik karya si cantik mbak Pretty Angelia ini.

Pertama kali tahu tentang buku ini dari Twitter. Saat itu ada teman yang berbagi info giveaway disana. Bagi saya, dari judulnya saja buku ini sudah membuat saya tertarik. Terlebih setelah membaca sinopsis dan melihat tampilan bukunya, cantik dan semakin membuat saya tertarik dan ingin membacanya. Saya pun mengikuti giveaway tersebut, namun sayang... saat itu saya gak menang. Beberapa waktu kemudian, saya membuka akun Goodreads saya, ternyata mbak Pretty juga mengadakan giveaway disana. Dan yeayy!!. Di giveaway kali itu saya menang. Senangnya. Bahkan dapat tanda tangan mbak Pretty nya juga lhoo... ^_^

Kelebihan dan Kekurangan
Secara fisik, saya sangat menyukai buku ini. Baik itu dari segi desain cover dan isi, kualitas kertas maupun penggunaan spasi, bentuk dan ukuran font, semuanya Oke!!

Dari segi cerita, sebenarnya ide ceritanya sangatlah menarik, yakni tentang Autis. Namun sayang, ide dasar ceritanya ini sendiri tidak terjelaskan dengan baik. Padahal awalnya saya mengira, selain akan bisa menikmati kisahnya, saya juga akan mendapatkan wawasan baru terkait bahasan mengenai Autis. Sebaliknya, pada beberapa bagian, penulis justru menjelaskan hal-hal yang saya rasa tidak begitu penting untuk diceritakan.

Konflik cerita yang melebar dan agak bertele-tele, agak sedikit membosankan ketika membacanya. Namun, sebenarnya ini bisa disiasati jika saja penulis mampu memilah point of view yang ditampilkan. Sehingga misalnya pembaca sesekali bisa menjadi Alin, bisa menjadi Ayah, Bunda ataupun Aster.

Saya merasa bahwa Alin, sebagai tokoh utama dalam cerita ini pun karakternya kurang kuat. Kadang ia bisa menjadi sesosok gadis baik yang manis, namun kadang ia bisa menjadi sesosok gadis remaja labil yang suka marah-marah hanya karena tidak bisa menerima adiknya yang memiliki kekurangan dan iri kepada perlakuan Bundanya yang menurutnya terkesan meng-anak tiri-kan dirinya.

Beberapa bagian cerita mengandung informasi-informasi singkat yang sebenarnya sangat bermanfaat, namun cara penulis menjelaskan informasi singkat tersebut membuat cerita jadi terkesan ngelantur alias gak fokus. Sebagian memang ada yang dibuat dalam bentuk footnote, namun sebagian lagi tidak. Mungkin alangkah baiknya, informasi-informasi tersebut dijelaskan secara terpisah saja diakhir cerita.

Ada beberapa typo, tapi secara keseluruhan tidak terlalu mengganggu saat membacanya.

Saya tidak menyukai adanya penggunaan kata ganti "Gue" dan "Lo". Meskipun sebenarnya itu standar banget ya dalam percakapan langsung sehari-hari. Menurut saya akan lebih manis jika menggunakan kata ganti "Aku" dan "Kamu".

Kelebihan dan kekurangan yang saya tulis diatashanya menurut versi saya saja lho ya. Semoga saja bisa ada manfaatnya untuk penulis :) 

Kutipan-Kutipan Favorit
1. Apa yang paling kau takuti di dunia ini? Mimpi buruk bernama kesendirian... (Halaman. 284)

2. Semua orang selalu beranggapan orang lain lebih bahagia darinya. Padahal dia nggak mengetahui bahwa orang yang terlihat bahagia itu telah merasakan penderitaan yang paling pahit selama hidupnya. (Halaman 307)

Rating Time!!!
Sebuah kisah yang menyentuh. Jadi, 4/5 bintang untuk sang Bintang dan Cahayanya.
Terima kasih untuk bukunya, mbak Pretty. Saya suka. Sukses terus ya untuk kedepannya. Ditunggu karya-karya cantik lainnya dari dirimu yang pretty.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

No comments :

Post a Comment