Wednesday, August 12, 2015

Book Review : Hidup Sesudah Mati by H. Bey Arifin

No comments
“Kematian itu pasti dan Kiamat itu pasti“


Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Ya, kita semua akan mati. Dan, ternyata setelah kita mati akan ada kehidupan lagi. Seperti apa kehidupan setelah mati itu? Temukan jawabannya dalam buku ini.

Buku yang ditulis oleh Bey Arifin pada 1969 ini diterbitkan lagi setelah beberapa puluh tahun tidak beredar. Ada cerita unik di balik terbitnya kembali buku ini.

Suatu ketika, seorang pimpinan penerbit buku datang ke dokter gigi untuk berobat. Selesai berobat, ia ngobrol dengan sang dokter yang sudah berusia 75 tahun. Dari obrolan itu, dokter tahu kalau pasiennya adalah seorang pimpinan penerbit. Kemudian dokter itu masuk ke ruangan lain mengambil sebuah buku. Dokter serahkan buku itu ke pasiennya. Sambil menyerahkan sebuah buku yang sudah usang, dokter itu berkata, “Buku ini sudah merubah hidup saya, tolong terbitkan lagi supaya bisa merubah hidup banyak orang menjadi lebih baik.”



Identitas Buku
Judul : Hidup Sesudah Mati
Penulis : H. Bey Arifin
Kategori : Islami 
Tebal : xvi + 656 halaman
Ukuran Buku : 23x15 cm
ISBN : 978-602-1139-27-1 
Penerbit : Zahira (PT. Zaytuna Ufuk Abadi)
Softcover, Cetakan Keempat, Februari 2015, Edisi Platinum 

Review
Buku ini terdiri atas 142 bab, diawali dengan bahasan mengenai pentingya mengimani kehidupan akhirat. Dimana tujuan utama dari diutusnya para Nabi dan Rasul yang berjumlah 124 ribu orang itu dan di turunkannya kitab-kitab suci oleh Allah SWT ada 2 perkara, yaitu :

1. Menerangkan kepada manusia siapa Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Yang Tunggal. Tidak ada tuhan selain Allah.

2. Menerangkan kepada manusia bahawa sesudah hidup yang terbatas waktunya didunia sekarang ini, manusia akan dihidupkan kembali menempuh kehidupan yang kedua kalinya, yaitu kehidupan yang kekal dan abadi dimana masing-masing manusia menerima pembalasan dari perbuatan apa saja yang pernah mereka lakukan selama hidup di dunia ini. Perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik dan perbuatan jelek akan dibalas dengan kejelekan yang berupa azab atau siksa yang pedih.

Kemudian penulis mulai membahas tentang adanya kehidupan setelah mati. Bahasan ini dikupas dengan jelas dan logis.

Setelah penulis sukses lebih meyakinkan saya sebagai pembaca akan adanya kehidupan sesudah mati, penulis kemudian membahas bagaimana seharusnya kita menghadapi kematian diri kita sendiri juga kematian orang lain. Karena sejatinya, kematian adalah "gerbang" ke alam yang kekal. Yakni "gerbang" untuk menghadap sang Khalik. Bukti-bukti tentang adanya hari kiamatpun dibahas dengan jelas.

Tidak melulu mengambil dari sisi agama, kehidupan sesudah mati dan kiamatpun dibahas pula dari sisi filsafat. Bahkan merujuk pula pada pendapat-pendapat dari ahli filsafat nonmuslim seperti Socrates, Phythagoras, Plato, Aristotles, Descartes yang kemudian dibandingkan dengan pendapat ulama Islam  seperti Imam al-Ghazali, Ikhwanus Safa, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih. Selain itu, dibahas pula pendapat dari ahli-ahli fikir modern, ajaran berbagai bangsa dan agama. Mengejutkan, karena pada akhirnya menunjukan bahwa Ajaran Agama Islam jauh lebih unggul dalam memahami kehidupan setelah mati ini.

Adapun bahasan mengenai hari Kiamat didahului dengan pengenalan tentang alam kubur, kiamat Qubro (besar) berserta tanda-tandanya seperti Dajjal, turunnya Isa Ibnu Maryam AS, pendapat tentang Imam Mahdi, seterusnya bagaimana terjadinya Kiamat, suasana hari kebangkitan, Perhisaban dan Pembalasan.

Surat-surat di dalam Al-Quran seperti surat Al-Qalam, surat Al-Muzammil, surat Al- Qiamah, surat Al-Waqiah dan banyak lagi surat lainnya yang akan banyak mengingatkan pembaca untuk menjadi seorang hamba yang harus yakin akan datangnya hari Kiamat.

Allah SWT dalam firmannya : "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali-Imran :185)

Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah berlaku baik terhadap tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah menghormati tetamunya. Dan barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah berkata baik atau diam."

Penghidupan di dunia ini adalah hanya merupakan satu permainan saja, sesuatu yang tidak sesungguhnya. Penghidupan di dunia ini hanya berupakan setetes air bila dibanding dengan kehidupan Akhirat yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai satu samudera luas yang tak dikenal pinggir dan dalamnya.

"Perbandingan kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat ialah seperti seorang berjalan dilaut, lalu memasukkan satu jarinya ke laut, lalu mengangkatnya, maka air yang melekat pada jari itulah dunia ini. Sedang air masih tertinggal di lautan luas itulah kehidupan Akhirat." (HR. Muslim)

Begitulah perbandingan kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat. kehidupan Akhirat itu adalah penghidupan yang amat penting jauh lebih penting dari kehidupan di dunia sekarang ini. Bukan saja lebih penting tetapi lebih besar, lebih kekal dan abadi, yang merupakan kehidupan yang lebih baik dalam segala sesuatunya, lebih indah membahagiakan bagi mereka, yakni orang-orang yang senantiasa selalu beriman dan berbuat kebajikan di dunia.

Jadi, alangkah ruginya jika manusia, bila dalam kehidupan yang kecil di dunia ini hidup senang dan bahagia, bergembira ria, tetapi dalam kehidupan di Akhirat yang kekal dan abadi, kita susah dan sengsara, terbakar hangus dalam Neraka untuk selama-lamanya. Naudzubillahimindzalik...

Untuk menghindarkan manusia dari nasib sengsara di akhirat kelak, Allah SWT mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-RasulNya yang berjumlah 124 ribu orang itu tadi. Mereka telah menghabiskan segenap umur mereka, tenaga dan fikiran, harta dan kemampuan mereka, untuk menyerukan segenap umat manusia agar sama-sama beriman dan bertakwa hanya kepada Allah SWT dan mengimani pula akan adanya kehidupan di akhirat, kehidupan sesudah mati yang kekal dan abadi.

Tentang Penulis
Buku karya salah satu ulama Indonesia, H. Bey Arifin ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1969.

K.H. Bey Arifin (lahir di Parak Laweh, Tilatang Kamang, Agam, Sumatera Barat, 29 September 1917 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 30 April 1995 pada umur 77 tahun) adalah seorang ulama, penulis dan pengajar Indonesia. Semasa hidupnya ia pernah dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Sebagai penulis Bey Arifin telah banyak menghasilkan karya, baik berupa artikel di koran dan majalah sejak tahun 1940, maupun dalam bentuk buku sejak tahun 1960. Beberapa buku yang ditulis Bey Arifin, antara lain : Rangkaian Cerita Dalam Al-Quran, Mengenal Tuhan, Hidup Sesudah Mati, Bey Arifin kontra Yusuf Roni, Samudra Al-Fatihah. Beliau juga menerjemahkan buku dari luar, seperti buku karya Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Life of Prophet Muhammad (Kehidupan Rasulullah SAW) dan karya Abul Hasan Ali Al-Hassani An-Nadwi, Biography of Prophet Muhammad (Sejarah Hidup Rasulullah SAW).

Rating Time!!!
Banyak kalangan menilai dan mengakui bahwa buku ini merupakan karya tulis bertema Islami yang terbaik hingga saat ini. Mak, saya persembahkan 5/5 bintang untuk buku ini.

Diantara waktu yang masih saya miliki ini, saya merasa beruntung bisa berkesempatan membaca buku yang banyak mengingatkan bahwa saya hanyalah hamba-Nya yang lemah dan terbatasnya waktu kehidupan di dunia karena yang kekal itu adalah kehidupan di akhirat kelak.

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, bahagia di dunia dan akhirat, Aamiin...

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

No comments :

Post a Comment