Sunday, August 9, 2015

Book Review : Lucian by Isabel Abedi

7 comments
Bagaimana kalau kita dilahirkan ke dunia tidak sendirian?
Bagaimana kalau manusia dilahirkan ke dunia bersama malaikat yang akan menyertai sedari lahir sampai ajalnya?
Dan bagaimana kalau... si malaikat jatuh cinta?

Sinopsis
Lucian, pemuda penuh misteri, yang tidak memiliki masa lalu dan kenangan. dia selalu muncul di dekat Rebecca, gadis yang hadir dalam mimpinya setiap malam. Gadis itulah yang menjadi satu-satunya alasan Lucian mampu bertahan.

Sejak mereka dipertemukan, Rebecca juga merasakan sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan dan dipahami. Sekuat tenaga mereka berusaha untuk bersatu. Tetapi pada akhirnya mereka terpaksa haris berpisah. Akankah mereka mampu bertahan, sebab apa yang mempersatuka mereka lebih dari sekedar cinta?

Identitas Buku
Judul : Lucian
Penulis : Isabel Abedi
Kategori : Fantasi, Roman, Remaja, Paranormal, Sastra Jerman 
Penerjemah : Eleonora Bergita, Husni Pratama
Tebal : 560 halaman
Ukuran Buku : 20x13,5 cm
ISBN978-602-020-577-9
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Softcover, Cetakan Pertama Tahun 2012

Review
Rebecca Wolff, seorang gadis berusia 16 tahun adalah putri tunggal dari sepasang suami istri yang kini telah bercerai. Mom dan Dad, begitu Rebecca memanggil kedua orang tuanya, yang kini telah memiliki kehidupan masing-masing. Dad telah berbahagia dengan istri barunya dan menetap di Amerika. Sementara, Mom, yang kemudian Rebecca memanggilnya dengan sebutan Mama Jane, telah berbahagia pula hidup bersama dengan "teman" wanitanya, Spatz. Perceraian itu terjadi saat Rebecca masih kecil. Sehingga ia hidup dan dibesarkan oleh Mama Jane dan Spatz di Jerman.

Perceraian orang tuanya, kehidupan Mama Jane sebagai seorang penyuka sesama jenis, serta bentuk tubuhnya yang tidak selangsing siswi-siwi popular disekolahnya, kadang menjadi bahan olok-olokan beberapa teman disekolahnya. Rebecca hanya menanggapi semua itu dengan santai, ia menyebut teman-teman yang sering mengolok-oloknya itu sebagai sedikit teman-teman yang tidak penting dari banyaknya teman-teman yang sayang dan begitu baik padanya.

Semuanya berjalan normal. Kehidupan bersama keluarga, termasuk akurnya antara Dad dan istri barunya denganMama Janne dan Spatz serta teman-temannya di Hamburg cukup menyenangkan bagi Rebecca.

Tepat menjelang ulang tahunnya ke-16, muncul sosok pria yang sama sekali asing baginya. Namun anehnya, sekalipun merasa tidak mengenal dan merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu, Rebecca merasa tidak asing dengannya. Semenjak itu pula, sosok Lucian selalu memenuhi benaknya. Begitu pula dengan Lucian, ia merasa tidak pernah mengenal Rebecca, namun ia merasakan hasrat untuk senantiasa berada di dekat Rebecca, ia bahkan bisa merasakan gejolak hati, kegembiraan hingga kepedihan yang dirasakan oleh Rebecca. Bahkan Lucian jarang bisa tertidur lelap, karena acapkali mimpi-mimpi yang tak bisa ia pahami muncul, dan sebagian besar tentang Rebecca, di masa lalu dan masa yang akan datang.

Tidak sampai disitu, sejak Rebecca mengenal Lucian ada banyak peristiwa terjadi yang kemudian selalu mempertemukan mereka. Lucian dan Rebecca pun menjadi dekat. Namun, Rebecca tidak pernah mendapat jawaban saat ia bertanya tentang darimana asal Lucian dan dimana keluarganya berada.

Kini, meskipun keduanya telah semakin dekat, bukan berarti Rebecca bisa tahu lebih banyak tentang Lucian. Kecuali satu hal, yakni namanya, ia tetap menjadi pria misterius. Ternyata, Lucian memang tidak memiliki kenangan dan masa lalu.

Seiring kedekatannya dengan Lucian, kian hari Rebecca kian tertutup baik itu kepada Mama Janne, Spatz maupun teman-teman terdekatnya. Dan kini ia menghilang. Kemanakah Rebecca? Ia hanya ingin ingin menemani dan menghabiskan waktu bersama Lucian. Hal ini kemudian membuat teman-teman terdekatnya, Mama Jane dan Spatz mencari-carinya. Ia pun ditemukan, dan kemudian ia dianggap mengalami "gangguan kejiwaan". Dengan alasan itu pulalah setelah sebelumnya berdiskusi, Mama Janne dan Spatz mengizinkan Dad dan istrinya membawa Rebecca ke Amerika dengan alasan untuk kesembuhan Rebecca.

Mama Jane yang mengetahui siapa Lucian dan juga mengetahui kedekatan putrinya dengan Lucian, berharap selama Rebecca di Amerika ia bisa melupakan Lucian. Namun kenyataan berkata lain, kepindahannya ke Amerika justru telah memberikan penderitaan tiada henti terhadap Rebecca, secara fisik maupun mental.

"Saat kau di dekatku, aku merasa nyaman" (Halaman 118)

Saling terpisah satu sama lain, ternyata bukan hanya Rebecca yang menderita, demikian pula yang dirasakan Lucian. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menemui Rebecca sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya.

Siapakah Lucian sesungguhnya? Bagaimana bisa ia selalu memimpikan dan tahu banyak tentang Rebecca? Apa sesungguhnya kaitan Rebecca dengan Lucian? Apa yang diketahui Mama Janne tentang Lucian yang kemudian ia rahasiakan selama ini? Berhasilkah Lucian menemui Rebecca ditengah tentangan dari orang tua dan teman-teman yang melindunginya? Apakah benar keduanya tidak bisa terpisahkan, atau justru salah satu di antara mereka harus dilenyapkan?



Ketika membaca sinopsisnya, bahkan beberapa bab diawal saya mengira buku ini akan bercerita tentang keluarga beserta aturan-aturannya yang ditentang gadis remaja berusia 16 tahun karena merasa cintanya kepada pria "tidak jelas" itu tak direstui... *halahh... Namun, ternyata setelah semakin banyak lembar demi lembar saya baca, kejutan-kejutan bermunculan. Dengan  dibumbui tema supranatural, cerita semakin menegangkan saat mulai diungkap siapa sebenar Lucian, si pria misterius yang tidak memiliki ingatan sedikit pun tentang masa lalunya, kecuali nama panggilannya.

Ini adalah karya pertama Isabel Abedi yang pernah saya baca, dan saya menyukai cara penuturannya. Terjemahannya pun sangat enak dibaca, sehingga tidak membosankan sekalipun bukunya tebal.

Oh iya, sepertinya akan lebih seru lagi, seandainya saja unsur misteri dan suasana-suasana menegangkannya disajikan lebih banyak lagi. Tapi ini juga sudah cukup sih, hehe... Dan ternyata ya, usut punya usut, novel terjemahan dari Jerman ini merupakan buku keempat karya Isabel.


Saya tidak tahu persis, apakah keempat tersebut merupakan sebuah seri atau bukan. Tapi yang pasti saya sangat menyukai buku ini, Lucian. Berharap bisa memiliki juga buku-buku karya Isabel Abedi lainnya, dan segera melahapnya.

Ini adalah sebuah kisah romansa yang sangat menyentuh. Sehingga rasanya, tidak berlebihan jika saya menyematkan 5/5 bintang untuk Lucian.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2



7 comments :

  1. Salam Malam Mbak Dee..woow keren nih Revie Book Lucian nya.. Masih usia 16 tahun Isabel Abedi sudah jadi penulis buku yang bagus ya Mabk apalagi nanti kalau sudah Dewasa bener.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang berusia 16 tahun itu, tokoh utama dalam bukunya, bukan penulisnya :)

      Delete
  2. Gak di expose sekalian isi Buku Lucian nya Mbak biar saya bisa baca potongan tulisan buku tersebut.

    ReplyDelete
  3. Saya takjub dengan penerjemahnya sehingga bukunya enak dibaca, makasih ulasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, jika rekan-rekan menyukai penerjemahannya. Terus terang perlu waktu bagi saya untuk meresapi isi cerita ketika proses penerjemahannya, juga saat translation editing. Bahkan sempat beberapa minggu pada proses penerjemahan saya mencoba menjelma menjadi Rebecca dan Lucian secara bergantian untuk mendapatkan alam berfikir kedua tokoh. Alur cerita dan temanya sangat khas, fantastis, dan imajinatif. Terima kasih.

      Salam,
      Husni Pratama

      Delete