Tuesday, September 1, 2015

Book Review : Cinta Adelia by Ajeng

1 comment
"Karena menyembuhkan luka hati itu tidak semudah menyembuhkan luka fisik. Saking sulitnya, pada kasus tertentu, kadang hanya waktu yang bisa membantu kita menyembuhkannya..."
(Cinta Adelia, halaman 7)

Sinopsis
Adelia dan Andre yang sama-sama single menjadi dekat karena sebuah kejadian. Namun, hubungan mereka terusik saat mantan kekasih mereka kembali hadir. Mitha, mantan kekasih Andre, ingin Andre kembali padanya. Sedangkan Robby, mantan kekasih Adelia, tiba-tiba muncul lagi setelah dua tahun berlalu sejak insiden itu - di mana kehormatan Adelia nyaris terenggut. Beruntung, Adelia memiliki Dody, sepupunya yang sangat perhatian dan sayang padanya.

Di saat Adelia sedang gundah dengan Robby yang menghubunginya lagi dan serba salah dengan sikap Mitha yang terang-terangan memusuhinya, Andre malah menyatakan cinta padanya.

Entah karena tidak peduli atau takut, Adelia masih saja ragu-ragu akan perasaannya sendiri meskipun ia merasa senang dengan pengakuan Andre.

Lalu berapa lama Andre harus menunggu Adelia menjawabnya?

Ia - Adelia ingin berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dulu sebelum memberikan keputusan - apalagi kehadiran Robby menimbulkan tanda tanya baginya; apa yang diinginkan Robby darinya - sekarang.

Akankah perasaan Andre pada Adelia berbalas? Apakah Andre berhasil mendapatkan cinta Adelia?


Identitas Buku
Judul : Cinta Adelia
Penulis : Ajeng
Bahasa : Indonesia
Kategori : Fiksi, Teenlit, Romance
Dimensi Buku : 142 Halaman, 23x12 cm, 0.20 kg
ISBN : 9786027821354 
PenerbitCahaya Atma Pusaka
Softcover, Cetakan Pertama, 28 Mei 2015

Review
Hari itu, Adelia dikejutkan dengan kedatangan Andre ke rumah Del, begitu sapaan akrab Adelia yang memiliki nama lengkap Adelia Safitri Rosalina ini. Tidak hanya dikejutkan dengan kedatangan Andre ke rumahnya, Adelia juga terkejut ketika melihat ada beberapa luka di wajah Andre. Melihat kondisi Andre yang demikian, Adelia segera membawa kotak obat dan mengobati luka-luka di wajah Andre.

Andre adalah teman satu kampus Adelia. Mereka kuliah di jurusan yang sama, hanya saja keduanya berbeda kelas. Selama ini kedekatan mereka hanya sebatas teman satu kampus dan satu jurusan saja. Keduanya hanya saling sapa biasa saja ketika berpapasan di koridor kampus atau saat ada jadwal kuliah gabungan. Beberapa kali keduanya pernah satu kelompok saat mendapat tugas dari kuliah gabungan itu.

Sambil mengobati luka-luka di wajah Andre, Adelia memberanikan diri untuk bertanya tentang penyebab luka-luka itu dan mengapa ia bisa sampai ke rumahnya. Andre yang awalnya hanya diam saja, kemudian tanpa sungkan bercerita bahwa ia memiliki pacar bernama Mitha, Adelia pun sebenarnya mengetahui hal itu, karena kebetulan Mitha juga kuliah dikampus yang sama dengan mereka. Selanjutnya Andre bercerita, dari informasi yang dia ketahui ternyata Mitha telah dekat dengan cowok lain yang bernama Alex. Dan hari itu, Andre memergoki keduanya, bahkan Alex mengaku sebagai kekasih Mitha dan Mitha tidak menyangkalnya. Terjadilah perkelahian itu. Mendapati dirinya terluka, Andre mengaku tidak mungkin pulang kerumah dalam keadaan seperti itu dan kemudian dia tahu bahwa rumah Adelia tidak jauh dari sana. Hingga akhirnya ia memutuskan ke rumah Adelia dan memintanya untuk mengobati luka-lukanya.

Mendengar cerita Andre, Adelia berusaha menghibur temannya itu. Dari situ Andre mengetahui bahwa ternyata Adelia tidaklah sependiam dan tertutup seperti yang ia kira dan ketahui kira selama ini. Sejak saat itu, keduanya menjadi dekat, bahkan karena rumah mereka satu arah, Andre jadi sering menjemput dan mengantar Adelia untuk pergi bersama ke kampus. Dari kedekatan keduanya, muncullah gosip-gosip baru di kampus mereka. Ada yang menyebut mereka sudah jadian, ada pula yang mengatakan bahwa Adelia lah penyebab putusnya hubungan Andre dan Mitha. Gosip-gosip itu semakin menjadi ketika Andre memutuskan untuk pindah ke kelas dimana Adelia berada. Namun, baik Andre maupun Adelia, keduanya tidak menanggapi semua itu dengan serius, hingga akhirnya gosip-gosip itupun hilang dengan sendirinya.

Siang itu, sepulang kuliah, Adelia sangat senang ketika mengetahui Dody, sepupunya dari Bandung ada dirumahnya. Adelia semakin senang ketika mengetahui bahwa sepupunya itu akan tinggal selama beberapa hari disana. Dody adalah sepupu yang selama 16 tahun tumbuh bersamanya, sebelum akhirnya Dody memutuskan untuk kemudian tinggal bersama kedua orangtuanya di Bandung. Keduanya pun saling bertukar cerita. Adelia banyak bercerita tentang kampus dan kuliahnya termasuk tentang Andre. Hingga pada suatu kesempatan, saat Dody menjemput Adelia kekampus, Adelia sempat mengenalkan keduanya, ia senang melihat teman dan sepupunya itu terlihat langsung akrab.

Ketenangan yang Adelia rasakan, tiba-tiba terusik saat ia bersama Dody tengah berada di swalayan, Adelia melihat seseorang yang seketika itu juga membuatnya pucat, dingin, ketakutan dan jantungnya terasa berhenti berdegup. Namun, Adelia tidak bisa mengatakan apa yang baru saja ia lihat dan rasakan kepada Dody. Karena jika Dody tahu siapa yang ia lihat barusan, Adelia tahu, Dody akan sangat marah.

Sepulang dari swalayan itu, Dody tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh sepupunya itu dari dirinya. Dengan sabar, Dody bertanya kepada Adelia tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah ia rasakan. Awalnya dengan berusaha ceria Adelia mengatakan semuanya baik-baik saja, namun kemudian, Adelia merasa tidak bisa lagi berbohong dari Dody. Ia bercerita bahwa saat di swalayan tadi, ia melihat seseorang seperti Robby.

Benar saja, mendengar Adelia menyebutkan nama itu, Dody nampak sangat marah. Ia mengatakan jika itu benar Robby dan berani mendekati Adelia kembali, ia berjanji akan menghajarnya lebih dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Sejak saat itu, Dody yang selama ini sudah cukup protektif, kini semakin lebih protektif lagi terhadap Adelia. Bahkan tanpa sepengetahuan Adelia, Dody meminta Andre untuk selalu menjemput dan mengantar Adelia ke kampus, meskipun kemudian Adelia mengetahuinya juga.

Flashback mengenai masa lalu Adelia dan Robby pun disuguhkan. Dahulu, semasa masih duduk di bangku SMA, keduanya adalah sepasang kekasih. Semuanya terasa indah dan membahagiakan bagi keduanya. Robby adalah sesosok cowok yang baik, namun perceraian orang tuanya ternyata sangat berdampak pada diri Robby. Ia menjadi pribadi yang egois, suka marah-marah, bolos sekolah bahkan mulai mengenal dan menggunakan narkoba. Dengan sabar, selama itu Adelia tidak pernah berubah, ia selalu menyayangi Robby,  ia selalu berusaha untuk mengerti dan mendampinginya di masa-masa sulitnya itu. Namun, melihat Robby yang sepertinya tidak kunjung juga untuk berubah dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya, Adelia mulai merasa tidak nyaman dengan Robby hingga akhirnya ia memutuskan hubungan mereka. Meskipun tahu telah mengecewakan Adelia, Robby marah dan tidak bisa menerima keputusan dari Adelia.

Dan hari itu, usai gladi resik acara perpisahan sekolah, dengan berbagai masalah yang ia alami, Robby merasa sangat putus asa kemudian ia meminta Adelia untuk mengambilkan obat di ruang kesehatan sekolah, ia mengaku perutnya sangat sakit. Adelia yang memang selalu berbaik hati kepada siapapun, tak kuasa menolak permintaan Robby. Ia pergi ke ruang kesehatan, namun ternyata Robby mengikutinya. Dan di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Robby pun segera melancarkan rencananya, ia mulai mendekati Adelia, kemudian memaksanya. Adelia mulai merasakan ada ketidak wajaran dari diri Robby, saat ia berusaha untuk meloloskan diri dari Robby, justru Robby semakin menjadi. Dengan cara paksa, ia nyaris saja merenggut kehormatan Adelia. Beruntung, saat itu Dody yang juga satu sekolah dengan mereka datang dan menyelamatkan Adelia, setelah sebelumnya Dody sempat menghajar Andre hingga pingsan di ruang kesehatan itu.

Sejak peristiwa itulah Dody yang sudah menganggap Adelia sebagai saudara kandungnya itu bersikap protektif terhadap Adelia.

Selama dua tahun terakhir, sejak peristiwa itu terjadi, Adelia menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup dibanding dengan pribadi dirinya yang dahulu. Selama itu pulalah Adelia selalu berusaha untuk berdamai dan keluar dari peristiwa masa lalu yang selalu membuatnya ketakutan. Dan tidak pernah Adelia sangka sebelumnya bahwa dering telepon di sore hari itu adalah telepon dari Robby. Mendengar panggilan sayang dan khas dari Robby untuk dirinya, Adelia segera menutup telepon namun beberapa detik kemudian, Robby menelepon kembali. Kemudian tanpa Adelia minta, Robby mengatakan bahwa selama ini ia berada di Eropa, menemani ibunya berbisnis. Selama itu pula Robby mengaku selalu mengingat dan merindukan Adelia. Saat ini, keberadaannya di Jakarta, untuk mengisi liburan, berkunjung menemui ayahnya, dan ia juga sangat ingin bertemu dengan Adelia untuk mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia katakan saat itu. Adelia menolak dan kemudian menutup telepon.

Tak hanya berani menelepon ke rumahnya, saat tanpa sengaja bertemu Adelia di bengkel mobil ketika Adelia sedang menemani Andre, Robby juga berani mendekati Adelia dan berjanji tidak akan menyakitinya. Namun, melihat Adelia yang nampak sangat ketakutan, Robby memilih untuk pergi dan tidak mengatakan apa yang sebelumnya ingin ia sampaikan kepada Adelia. Ia hanya berkata masih akan terus berusaha untuk menemuinya lagi nanti.

Sementara itu, Andre tengah merasakan kembali kebahagiaannya, setelah ia semakin dekat dengan Adelia. Dan seolah tidak peduli diabaikan oleh Andre, disaat-saat itu pula Mitha terus mengejarnya untuk mengajaknya balikan lagi.

Merasa tak kuasa lagi untuk membendung perasaannya terhadap Adelia, saat berada di kantin kampus, dengan santai Andre mengutarakan perasaannya kepada Adelia. Namun, Adelia tidak langsung memberi jawaban saat itu. Melihat ada keterkejutan di wajah Adelia, Andre setuju Adelia tidak harus memberinya jawaban saat itu dan ia akan setia menunggu jawaban Adelia sekalipun mungkin jawaban itu tidak sesuai dengan harapannya.

Mendapati Adelia yang tak kunjung memberinya jawaban, Andre tidak putus asa. Ia justru semakin menunjukkan dan membuktikan bahwa perasaannya tulus kepada Adelia. Sebenarnya, Adelia tidak berniat untuk tidak segera memberinya jawaban karena sebenarnya ia pun mulai menyukai Andre. Namun ia hanya ragu dengan perasaanya sendiri, terlebih ia masih merasa takut untuk membuka hati, ia takut kecewa dan sakit hati lagi seperti yang pernah ia rasakan ketika ia bersama Robby.

Akankah Adelia menerima cinta Andre? Sementara cinta dari masa lalu nya, yang pernah sangat membuatnya kecewa dan sakit hati itupun datang kembali dan terus mengejarnya... Bagaimana pula dengan Mitha yang selama ini memusuhi Adelia, akankah ia menyerah atau terus berusaha untuk mendapatkan kembali cinta Andre?

Kelebihan dan Kekurangan
Dari segi fisik, baik itu kualitas kertas yang menggunakan jenis kertas HVS, ukuran, spasi dan jenis huruf. Menurut saya semuanya itu : OK! :)

Sayangnya, setelah mengetahui isi dan jalan cerita dari buku ini, kok ya desain covernya yang manis ini sama sekali gak nyambung dengan ceritanya. Kalau aku boleh kasih saran, kalau nanti buku ini cetak ulang (Aamiin.... semoga yaa, aku doaian banget lho, mba Ajeng, hehe) terus ada rencana ganti desain cover, sepertinya ya desain cover dengan gambar gelang yang terdiri dari 21 batu itu lho... gelangnya Adelia yang pemberian Andre, akan lebih manis dan nyambung. Eh, tapi ini cuma saran aja lho yaa :D 

Aku salut, gak ada typo!!! Two thumb up.
Cuma ada beberapa kesalahan penggunaan tanda baca saja. Salah satunya begini, saat mama Adelia mengatakan akan pergi, "Mama pergi dulu ya?". Yang aku tahu, kalimat seperti itu tidak menggunakan tanda tanya, karena itu bukan kalimat pertanyaan melainkan kalimat pernyataan bahwa mama nya mau pergi.

Satu hal lagi yang membuat saya salut kepada mbak Ajeng dengan bukunya ini adalah, beliau menggunakan kata ganti, sapaan dan percakapakan dalam kata-kata/kalimat yang menggunakan EYD dengan benar, sehingga buku ini benar-benar enak dibaca. Tapi pada beberapa bagian, kata-kata/kalimatnya terasa berat, seperti contohnya : "Menjalin kasih", mengingat buku ini berkisah tentang remaja masa kini, mungkin akan lebih pas jika kalimat seperti itu diganti dengan "pacaran" saja.

Lalu, dari segi cerita, sebenarnya tema cerita nya bisa dibilang biasa-biasa saja. Tentang kehidupan remaja dengan segala permasalahannya, tentang bagaimana usaha mereka untuk keluar dari permasalahan/traumanya untuk kemudian bangkit dan mendapatkan cinta dan kebahagiannya lagi. Tapi yang menarik dan beda dari buku-buku bertema sejenis yang pernah saya baca adalah bagaimana cara mbak Ajeng sebagai penulis menuturkan kisahnya itu, sangat lembut dan manis meskipun didalamnya juga saya merasakan ada ketegangannya juga. Penasaran? Silahkan baca bukunya yaa, tersedia di toko-toko buku dan toko-toko buku online juga.

Meskipun terkesan berlebihan, aku suka banget karakter Dody yang begitu penyayang dan protektif terhadap Adelia, sepupunya. Iyaa, soalnya aku sama sepupuku seringnya ribut, ahaha... tapi kami juga saling sayang kok ^_^

Andre... iih, kok jadi cowok romantis banget sih *ketjupjauh*
Selain romantis, baik dan sabar, dia ini juga sosok yang unik lho. Gimana gak unik coba, : "Karena aku memang terbiasa memberikan hadiah di hari ulang tahunku kepada orang-orang yang aku sayangi." (Andre, Cinta Adelia - halaman 91)

Dan tentang karakter Adelia yang baik, lembut, penyayang, penyabar, selalu berpikir positip meskipun kadang, pada suatu titik ia bisa menjadi sesosok yang begitu rapuh dan mudah menangis. Ini kok aku serasa baca tentang diri aku sendiri ya ^_^

Melalui karakter tokoh utamanya pula, saya menangkap penulis ingin menyampaikan pesan bahwa, sekalipun mungkin, ada diantara kita yang memiliki pengalaman buruk dimasa lalu, ingatlah bahwa setiap orang itu berhak untuk merasa bahagia. Bahkan tidak hanya itu, kita juga berkewajiban untuk membahagiakan mereka yang tulus menyayangi dan selalu ada untuk kita. Jadi, jangan takut untuk move on dan moving forward :)  

Kutipan-Kutipan Favorit
1. "Kalau luka hatimu, hanya kamu sendiri yang bisa mengobatinya. Ada juga sih yang bilang kalau waktu yang akan menyembuhkannya." (halaman 7)

2. "Kita berdua ini ibarat sepasang mata, bila yang satu sakit maka yang satunya akan ikut sakit." (halaman 29)

3."Aku hanya jujur tentang perasaankumeskipun kalau kamu bertanya sejak kapan aku menyukaimu lebih dari teman, jujur saja aku tidak tahu. Perasaan itu datang begitu saja. Terdengar aneh memang, tapi bukankah cinta memang demikian? Kapan ia datang dan bagaimana caranya datang, tidak ada yang tahu pasti." (halaman 66)

4. "... orang yang benar-benar menyayangimu, tidak sepatutnya menyakitimu, apapun alasannya." (halaman 132)

Rating Time!!!
Pastinya, 4 dari 5 bintang!

Terlepas dari sedikiiit kekurangan yang ada pada buku ini, dan bukan karena saya mendapatkan buku ini secara gratis dari penulisnya, lantas saya memberi rate yang nyaris sempurna ini, tapi karena saya memang menyukai buku ini. Sayang... kok mba Ajeng gak ngasih tanda tangan juga ya di bukunya, hikss...

Eh? Di kasih langsung sama penulisnya? Iyaa *flipshair*
Jadi, beberapa hari yang lalu, saya mendapat email dari mba Ajeng. Awalnya saya agak ragu, karena jujur yaa... saya lupa pernah memberikan alamat email saya sama mbak Ajeng, hehehe.... Tapi, tapi, tapi... sekarang saya seneeeng banget bisa berkesempatan mendapatkan buku ini dari mba Ajeng,  kemudian membacanya dan menulis review ini. Suatu kehormatan dan kebanggaan, hehe... Semoga ini bisa bermanfaat buat mba Ajeng dan siapapun sedang mencari informasi terkait novel manis dan romantis ini. #Recommended!

Kalau diibaratkan, buku ini seperti sepotong kecil kue yang manis dan lezat. Karena rasanya yang lezat namun ukurannya kecil, pastinya, memakannya pun dikit-dikit banget, takut keburu abis padahal ingin menikmatinya lebih lama. Nah begitulah yang saya rasakan saat membaca buku ini, bacanya dikit-dikit, takut ceritanya keburu abis, hehe...

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

1 comment :

  1. Kalau berbicara tentang CINTA ga bakal ada habisnya. Buku bisa jadi bacaan ringan, pun bisa jadi bacaan yang rumit kalau sudah membahas tentang yang satu ini.

    Selamat mencari CINTA!!!

    ReplyDelete