Friday, September 25, 2015

Book Review : The Devil Who Tamed Her (Reid Family Series #2) by Johanna Lindsey

1 comment
Raphael Locke tak punya alasan untuk menyukai Ophelia Reid. Terlepas dari kecantikannya yang tersohor di seluruh Inggris, Lady Ophelia juga dikenal karena sikap egois dan kesenangannya bergosip. Tapi ketika Ophelia memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Duncan, sahabatnya, Raphael tak bisa menahan amanahnya. Dia memutuskan untuk memberi pelajaran sendiri kepada lady tak berperasaan itu. Setelah berhasil mengajak Duncan bertaruh atas kemampuan dirinya 'menjinakkan' Ophelia, Raphael lalu mulai menjalankan rencananya. Dia berhasil menculik lady itu dan mengasingkannya ke rumah milik keluarganya di sudut terasing di Northumberland. Bersama bibinya, Esmeralda, Raphael mengajarkan Ophelia tentang nilai-nilai penting yang seharusnya dimiliki seorang lady.

Tapi bukan hanya Ophelia yang belajar selama berada di Northumberland. Raphael, yang biasanya selalu berhasil menghindar dari jerat pernikahan gadis-gadis cantik di Inggris, ternyata tak cukup kebal terhadap pesona lady itu. Dia menikmati setiap pertengkaran remeh dengan Ophelia-malah, mendapati dirinya mulai menantikan saat-saat itu.

Apa ini cinta? Entahlah, Raphael sendiri tak ingin berpikir sejauh itu. Tapi, kenapa sebagian dari dirinya merasa tak rela ketika Ophelia Reid, yang sekarang santun dan anggun, kembali lagi ke pasar perjodohan dan menerima banyak sekali lamaran dari para bangsawan lajang yang jatuh cinta pada lady itu?


Identitas Buku
Judul : The Devil Who Tamed Her (Reid Family Series #2)
Penulis : Johanna Lindsey
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Bahasa : Indonesia
Kategori : Fiksi, Dewasa, Historical, Romance
Dimensi Buku : vi+538 Halaman, 14x20 cm
Penerbit : GagasMedia
ISBN : 979-780-366-X
Paperback, Cetakan Ketiga, 2009
Rate : 3/5 Bintang

Review
Buku kedua dari seri Reid Family karya Johanna Lindsey ini bercerita tentang Raphael yang melakukan taruhan dengan Duncan. Mereka bertaruh karena yakin bahwa Ophelia, si cantik yang selalu menebar amarah dan kedengkian terhadap orang-orang ini bisa berubah menjadi wanita yang baik hati.

Ophelia adalah gadis pendengki yang suka menyebarkan gosip tentang orang lain. Seperti yang dilakukannya pada mantan tunangannya, Ophelia menjelek-jelekkan Ducan, dia mengatakan Ducan adalah pria bar-bar karena pria itu berasal dari Skotlandia. Orang tua Ophelia juga ambil andil terhadap perilaku anak gadis mereka ini, meskipun pada akhirnya mereka sendiripun sudah tidak tahu lagi bagaimana memperbaiki perilaku anak gadisnya itu.

Sejak kecil Ophelia tidak mengenal kata sahabat yang tulus, baginya semua orang mendekatinya karena kecantikannya.

Kecantikan Ophelia memang tidak ada bandingannya, tapi justru kecantikannya itu juga yang turut andil pula yang merubahnya menjadi seorang pendengki. Hal itu memang terbukti benar, karena walaupun dia seorang pendengki masih saja banyak orang yang mau menjadi temannya. Mendekatinya dan menggodanya. Tidak hanya itu, kecantikan parasnya juga membuatnya banyak dibenci oleh perempuan-perempuan London. Mereka sebenarnya iri terhadap kecantikan dan kesempurnaan hidup Ophelia, yang meskipun sebenarnya, tidaklah demikian, Ophelia justru merasa hidupnya jauh dari kata bahagia dan sempurna. Selain itu, Ophelia banyak dibenci oleh perempuan-perempuan London karena selaly begitu mudahnya menjadi pusat perhatian para lelaki saat berada di pesta-pesta yang digelar kalangan bangsawan London. Dan salah satu tokoh  yang begitu cemburu akan kecantikan Ophelia adalah Amanda, adik Raphael. 

Dari sejak usia beranjak remaja, sebenarnya, Ophelia mulai merasa risih dengan banyaknya para pria yang mengagumi kecantikan dan selu berusaha mendekatinya itu. Namun, seiring waktu ia justru mulai menikmati rasa dikagumi dan dipuja-puja oleh lawan jenisnya. Selain pemarah, suka menebar kebencian dengan menjelek-jelekan orang lain, Ophelia juga terkenal dengan sifat sombongnya. Sifat dengki Ophelia benar-benar diluar batas kemakluman orang biasa. Bahkan sahabatnya sendiri sampai dikhianati olehnya. Bukan hanya Ducan dan sahabat baiknya dari kecil saja yang ia sering ia jelek-jelekkan di hadapan banyak orang, saudara jauhnya sendiripun selalu dia jelek-jelekkan karena masa lalu keluarganya. Selain itu, Ophelia juga cemburu pada kedekatan Sabrina dan Raphael, juga karena beberapa pengagumnya mulai tertarik pada Sabrina.

Raphael awalnya juga sangat membenci sifat Ophelia. Terlepas dari taruhannya dengan Ducan, Raphael merasa benar-benar tertantang dan punya tanggung jawab untuk bisa membantu mempeerbaiki sifat-sifat tercela yang dimilki Ophelia. Sampai akhirnya, ia menculik Ophelia dan kemudian memenjarakannya di sebuah tempat yang berada jauh dari kota dan hingar bingar pesta.

Namun ternyata, justru "penjara" itulah yang membuat keduanya menjadi dekat dan kemudian saling tertarik dan saling terjerat cinta yang penuh hasrat. uhhh....

Raphael mengajarkan kepada Ophelia cara untuk mengendalikan emosinya dan mencarikan Ophelia cara pelepasan emosi yang baik. Hmmm..... ^_^

Melalui "cara"-nya, mampukah Raphael mengubah Ophelia yang berwatak keras dengan sifat-sifat jeleknya menjadi perempuan berhati baik? Bagaimana dengan "rasa" yang selama akhir-akhir ini dirasakan Ophelia dan Raphael terhadap satu sama lainnya, benarkah itu adalah cinta yang tulus? Bagaimana pula reaksi Ophelia ketika mengetahui taruhan Raphael dan Ducan?

=================

Ini adalah untuk pertama kalinya saya membaca karya Johanna Lindsey. Lebih tepatnya sih baca ulang yang kedua kalinya untuk buku ini. Duluuu... pertama kali baca ini, diawal-awal buku suka banget. Iyaa, itu lho, Raphael sama Ophelia, sweet bangat meskipun suka saling marah-marahan... Tapi, uhh makin lama kok mereka so hot juga banget ya ternyata. Wow banget, ahahaa... Saya tidak merekomendasikan buku ini untuk yang masih berusia di bawah umur, hehe... :P

Namun, terlepas dari "anu-anu"-annya saya justru menyukai karakter dari Opheli, terutama perkembangan karakternya :)

Dan Konon katanya, dari hasil googling, berbeda dengan kisah pada buku pertamanya seri ini, pada buku keduanya ini, Johanna Lindsey menempatkan tokoh antagonis di buku pertamanya menjadi tokoh utama di buku ini. Jadi penasaran pengen baca seberapa hot buku pertamanya juga, hihihi....

1 comment :