Tuesday, September 22, 2015

Book Review : Flipped by Wendelin Van Draanen

No comments
You Never Forget Your First Love

Juli: Pertama kali bertemu Bryce Loski, aku jungkir balik. Sungguh, seperti orang gila. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. 

Bryce: Apa ya cara yang tepat mengusir Juli? Bagaimana cara terbaik mengatakan padanya, “Juli, kamu tuh bukan tipeku?” 

***

Juli Baker sangat yakin akan tiga hal: keajaiban pohon—terutama pohon sikamor kesayangannya, kebaikan telur ayam, dan suatu saat ia dapat mencuri hati Bryce Loski. Sayangnya, Bryce tidak memiliki perasaan yang sama. Baginya, Juli adalah gadis yang aneh. Kalau bukan aneh, gadis macam apakah yang sangat gemar memelihara ayam dan duduk berlama-lama di atas pohon? 

Namun, keadaan terbalik saat mereka menapak remaja. Bryce mulai melihat keanehan dan kebanggaan Juli terhadap keluarganya sebagai hal yang hebat. Sebaliknya, Juli berpikir mata Bryce yang dikaguminya itu kosong dan tak berarti apapun lagi. 

Flipped bukan sekadar kisah cinta yang manis, tapi juga kisah tentang memandang orang dari sisi siapa mereka sesungguhnya, bukan dari sisi bagaimana penampilan mereka.


Identitas Buku
Judul : Flipped
Penulis : Wendelin Van Draanen
Kategori : Fiksi, Remaja, Romance
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Sylvia L'Namira
Tebal : 272 Halaman
Penerbit : Orange Books
ISBN13: 9786028851800
Paperback, Cetakan Pertama, Agustus 2011
Rate : 4/5 Bintang

Review
Pada awal cerita, kita diajak penulis untuk ikut pindahan dengan keluarga Bryce Loski ke tempat tinggal barunya. Dimana salah satu tetangga Bryce adalah keluarga Baker yang memiliki anak perempuan seusia dengan Bryce, bernama Juliana Baker yang biasa disapa Juli.

Saat Bryce dan Juli pertama kali bertemu, keduanya berumur 7 tahun. Dari pertemuan pertama itu pula, Juli langsung merasa "jungkir balik". Ia terpesona dengan Bryce. Terutama mata biru Bryce yang menurut Juli, itu adalah mata terindah yang pernah ia lihat dan ia yakin, tidak ada lagi yang memiliki mata seindah itu, selain Bryce seorang. Sehingga dengan berbagai cara, Juli berusaha mendekati Bryce. Namun, sebaliknya dengan apa yang dirasakan oleh Juli, di mata Bryce, Juli adalah gadis aneh, dekil karena Juli memang senang melakukan banyak hal dan hal-hal baru di luar rumahnya. Bagi Bryce, Juli juga termasuk perempuan yang terlalu banyak bicara, sehingga dari pertemuan pertama saja, Bryce sudah merasa "males" banget untuk bertemu dan mengobrol ataupun sekadar menyapa Juli.

Jadi, sementara Juli melakukan berbagai cara untuk bisa dekat dengan Bryce, Bryce justru sebaliknya, ia melakukan berbagai cara untuk menghindari Juli. Dan hal tersebut terus berlanjut sampai mereka duduk di kelas 7.

Sebelumnya, saat keduanya masih sama-sama duduk di bangku kelas 6 dan di kelas yang sama pula, Bryce selalu berharap kelas 6 nya itu bisa cepat selesai, karena ia berharap dan yakin, di kelas 7 nanti ia bisa terbebas dari Juli. Namun ternyata, setelah mereka duduk di kelas 7, Bryce tetap tidak bisa terbebas dari Juli, karena ternyata, di kelas 7 pun ia satu kelas kembali dengan Juli dan setiap harinya ia harus naik bus sekolah yang sama dengan Juli. Itu artinya, setiap hari ia masih akan bertemu dengan Juli. Sesuatu yang sangat tidak ia inginkan.

Halte bus tempat biasa mereka menunggu bus skolah, berdekatan dengan sebuah pohon, pohon Sikamor yang sering dipanjat oleh Juli. Hal ini pula yang membuat Bryce memandang Juli sebagai seorang gadis yang aneh dan kampungan karena suka memanjat dan kemudian duduk-duduk menghabiskan waktu di pohon Sikamor itu hingga berjam-jam lamanya.

Juli yang memiliki kebiasaan aneh memanjat pohon tersebut, ternyata ia memiliki alasan sendiri. Dari atas pohon itu, ia bisa melihat dan menikmati pemandangan yang menurutnya selalu bisa menenangkan hati dan jiwanya itu.

Dari atas pohon  itu pula, Juli mengerti apa yang dimaksud ayahnya dengan "Keseluruhan lebih baik daripada satu bagian". Sama seperti ketika ayahnya bertanya kepada Juli, tentang apa yang Juli sukai dari Bryce. Ketika Juli menjawab bahwa ia menyukai Bryce karena rambut dan matanya yang indah, ayahnya lalu berkata bahwa sebaiknya, Juli harus melihat sesuatu itu secara keseluruhan, bukan hanya dari satu atau dua bagian saja.

Sayangnya, suatu hari pohon Sikamor kesayangan Juli ditebang oleh pemilik tanah dimana pohon tersebut tumbuh. Hingga dengan segala cara, Juli berusaha mempertahankan pohon kesayangannya. Ia juga meminta bantuan Bryce untuk ikut dengannya memanjat pohon itu agar tidak jadi ditebang. Bryce, tentu saja tidak mempedulikan permintaan tolong Juli.

Tanpa Bryce, Juli tetap memanjat pohon itu dan diam disana. Ia tidak mau turun saat para tukang yang akan menebang pohon itu terus membujuknya untuk segera turun agar pekerjaan mereka juga bisa cepat selesai. Namun Juli tetap diam diatas pohon sampai kemudian ia baru mau turun ketika ayahnya datang dan memohon kepadanya untuk turun.

Kegigihannya mempertahankan pohon Sikamor agar tidak ditebang bahkan sampai masuk headlines sebuah surat kabar lokal di kotanya. Sehingga banyak orang yang membaca berita tersebut dan kemudian mengagumi Juli, termasuk kakek Bryce yang menyebut Juli sebagai gadis yang memiliki tekad yang kuat. Ia sangat bangga dan kagum kepada Juli.

Merasa sedih dengan ditebang pohon Sikamor kesayangannya itu, Juli memutuskan untuk tidak lagi menunggu bis di halte yang dulu letaknya dekat dengan pohon itu. Bahkan, ia tidak pernah lagi melewati jalan tersebut. Sejak saat penebangan pohon itu Juli mulai melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda.

Bryce, sebenarnya bukan benar-benar tidak peduli saat Juli meminta bantuannya untuk mempertahankan pohon tersebut agar tidak jadi ditebang. Bryce merasa yakin tanpa bantuannyapun, Juli akan berhasil mempertahankan pohon itu. Tapi ternyata tidak... Bryce merasa menyesal dan tiba-tiba bisa merasakan kesedihan Juli ketika ia mengetahui pohon itu tetap ditebang dan kemudian menyaksikannya dipotong-potong ditempat itu juga.

Bryce juga mulai merasa kehilangan Juli, karena sejak penenebangan itu Juli tidak lagi naik bus sekolah bersamanya baik itu saat berangkat ataupun pulang sekolah.

Cerita berlanjut pada proyek sains yang dikerjakan Juli, yaitu menetaskan telur. Proyek sains tersebut sukses dan anak-anak ayam yang dirawat Juli tumbuh bahkan kemudian ayam-ayam itu menghasilkan telur kembali. Merasa sangat senang dengan telur-telur yang dihasilkan oleh ayam-ayamnya, Juli berbagi telur-telur tersebut dengan tetangganya, termasuk keluarga Loski. Tanpa sepengetahuan Juli dan keluarganya, Bryce selalu membuang telur-telur pemberian Juli. Saat keluarganya mengetahui Bryce membuang telur-teluar pemberian Juli, Bryce membela diri dengan mengatakan bahwa ia hanya khawatir keluarganya akan terkena virus Salmonela dari telur-telur yang dikirimkan Juli, sambil menunjukkan keadaan halaman rumah dan kandang ayam Juli yang memang tidak terurus dan banyak kotoran ayam dimana-mana. Akhirnya, keluarga Bryce pun bisa menerima alasan mengapa Bryce suka membuang telur-telur pemberian Juli.

Namun, hari itu, secara tidak sengaja Juli memergoki Bryce yang sedang membuang telur-telur yang baru saja ia berikan kepada Bryce untuknya dan keluarganya. Merasa kaget karena ketahuan Juli sedang membuang telur pemberiannya, Bryce membela diri dengan mengatakan yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya kepada keluarganya. Sambil mendengar apa yang dikatakan Bryce, Juli menangis dan berlari pulang. Namun sesaat setelah itu, Bryce kemudian merasa telah menjadi cowok paling jahat sedunia.

Pagi harinya, Bryce melihat Juli tengah susah payah berusaha membersihkan halaman rumahnya. Bryce semakin merasa bersalah. Tapi betapa tidak disangka Bryce, kakeknya ada disitu dan ikut membantu Juli membersihkan halaman rumah dan kandan ayamnya.

Saat Bryce bertanya mengapa kakeknya ikut membantu Juli, kakek Bryce berkata bahwa Juli mengingatkannya akan almarhum istrinya (nenek Bryce), Renee. Dari kakeknya juga Bryce mengetahui mengapa selama ini pekarangan rumah keluarga Baker tidak pernah terurus dan mereka hampir tidak mempunyai apa-apa, ternyata karena ayah Juli harus menanggung dan mengurus saudara laki-lakinya yang mengalami cacat mental. Sedangkan rumah itupun hanya rumah sewaan dimana kewajiban membersihkannya menjadi tanggung jawab penghuninya, karena sibuk merawat saudara laki-lakinya dan mencari nafkah, kegiatan bersih-bersih rumah jarang dilakukan ayah Juli. Mendengar saudara laki-laki ayah Juli yang mengalami cacat mental, ayah Bryce berkomentar sinis yang kemudian membuat Bryce mulai melihat ayahnya dengan cara yang berbeda. Bahkan, ia jadi sempat tidak begitu mengagumi ayahnya seperti sebelumnya.

Kepada Bryce, kakeknya juga mengatakan bahwa Juli adalah orang yang mengeluarkan aura yang jarang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, yaitu aura warna warni dan sulit dilupakan karena tidak ada tandingannya. Mendengar itu, Bryce hanya tertawa saja menanggapinya, berusaha untuk tidak peduli. Namun kemudian, diam-diam, dia jadi sering memperhatikan foto Juli yang ada di surat kabar lokal saat Juli sedang berkeras tidak mau turun dari pohon Sikamor yang sedang ia pertahankan agar tidak ditebang.

Setelah itu Bryce minta maaf kepada Juli. Tentang sikapnya selama ini, tentang telur-telur yang ia buang dan terutama tentang pohon Sikamor yang kini sudah tidak ada lagi.

Saat dikelas, Bryce juga jadi sering memandangi Juli. Hingga suatu ketika, ia kepergok Garret, temannya, ketika sedang memandangi Juli. Yang menurut Garret, tatapan Bryce kepada Juli saat itu begitu tulus dan dalam. Tidak hanya itu, Garret juga memergoki Bryce yang membawa-bawa potongan foto Juli dari surat kabar di dalam tasnya. Bryce yang merasa malu terhadap Garret, kemudian bercerita tentang telur-telur pembeian Juli yang ia buang, tentang keadaan rumah Juli yang kotor juga tentang pamannya Juli yang cacat mental. Mendengar semua itu, Garret kemudian berkomentar kasar tentang paman Juli yang cacat mental itu. Bryce merasa sangat menyesal telah menceritakan tentang keluarga Juli kepada Garret, ia marah kepada Garret dan saat itu pula, ternyata Juli ada di dekat mereka dan tengah menangis karena ia mendengar semua apa yang baru saja Bryce dan Garret bicarakan.

Semenjak itu, Juli bertekad akan menghapus semua rasa suka dan sayangnya kepada Bryce. Ia bertekad tidak akan lagi menyukai Bryce. Kini, Juli benar-benar merasa sangat marah kepada Bryce.

Esok harinya, saat Juli beberapa kali berpapasan dengan Bryce, Bryce mulai merasa ada yang berubah dari diri Juli. Bryce semakin yakin dan sadar bahwa kini Juli telah habis-habisan mengacuhkan dirinya. Ia tahu, Juli sangat marah kepadanya. Bryce tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia pun sedih, ia hanya ingin Juli kembali seperti dahulu, tidak memperlakukannya seperti orang asing, seperti saat ini.

Hari itu, disekolah diadakan acara cowok keranjang untuk penggalangan dana. Awalnya, Bryce sempat merasa percaya diri, acara tersebut akan memperbaiki hubungannya dengan Juli. Juli pasti akan menawar dirinya, karena ia tahu dulu Juli sangat menyukai dirinya, Bryce berharap saat inipun rasa itu masih tetap ada di hati Juli untuknya. Hanya untuknya. Namun ternyata, Juli bahkan tidak berusaha menawar Bryce, Juli menganggap seolah tidak ada Bryce disitu.

Betapa kecewa Bryce, ketika Juli malah menawar teman sekelas mereka yang bernama Jon Trulock dan kemudian mereka asyik mengobrol sambil sesekali tertawa. Bryce merasa sangat panas hati melihat itu. Ia cemburu.

Bryce yang terjual dengan harga paling tinggi pada 2 orang cewek paling populer di sekolah, justru tidak peduli, ia sibuk memperhatikan Juli. Bahkan, saat dua orang cewek populer itu sibuk memperebutkan Bryce, Bryce menarik Juli dan berusaha mencium Juli di tengah-tengah teman-teman, guru dan para orangtua yang hadir saat itu. Juli yg terkejut, ia marah dan menghindari Bryce.

Bryce mulai sadar kalau ternyata dia sangat menyukai Juli.

Sekarang keadaan berubah terbalik, kini Bryce lah yang mengejar-ngejar Juli. Sedangkan Juli, kini mati-matian melakukan berbagai cara untuk menghindari Bryce.

Nah, berhasilkan Bryce meluluhkan hati Juli?

==========

Flipped, sebuah buku dengan ide cerita yang menurut saya, sangat menarik. Cuma sekitar 3 jam-an aja baca buku ini. Dari baca sinopsisnya, aja udah tertarik banget. Dan ternyata, begitu mulai membacanya, langsung suka. Semakin banyak halaman yang saya baca, semakin jatuh cinta pula sama ceritanya. Dan sudah difilmkan juga??? Ahh, jadi penasaran pengen nontooon...

Dengan terjemahan yang bagus, dan dengan pont of view dari dua tokoh utamanya, Bryce dan Juli, secara bergantian, menjadikan buku ini sebagai sebuah bacaan yang enak dibaca dan tidak membosankan.

Selain itu, sekalipun buku ini bercerita tentang remaja, mungkin lebih tepatnya... anak-anak yang baruuu saja beranjak remaja, tapi buku ini saya rekomendasikan bagi semua umur, terutama yang menginginkan atau menyukai bacaan yang romantis dan ringan, namun tetap sarat akan pesan-pesan kehidupan yang bisa kita petik.

No comments :

Post a Comment