Resensi Buku, City of Ashes

The Mortal Instruments #2: City of Ashes. Cover depan City of Ashes Buku ini merupakan buku kedua dari serial mortal instrumen, yang ma...

The Mortal Instruments #2: City of Ashes.

Cover depan City of Ashes
Buku ini merupakan buku kedua dari serial mortal instrumen, yang mana pada buku pertama saya benar-benar dibawa kedunia fantasy baru yang tidak kalah indah dari Hogwarts ataupun Forks. 

Dunia baru yang digambarkan Clare dengan apik, tidak melupakan detail dan tentu saja menegangkan. 

Konflik antara tokoh bisa dibilang tidak biasa untuk buku bergenre seperti ini (yang tentu saja membuat saya berteriak Tidaaaaaaaakkkkk!!!!!..... segera setelah saya selesai membaca buku pertama :)..) 

Yang saya rasakan setelah membaca buku ini Sedih dan Kasihan.... saya langsung merasa sangat,sangat kasihan dengan Jace.... Di buku kedua ini, penggambaran emosi para tokoh menjadi lebih dalam dan tentu saja lebih gelap.... 

Keputusasaan Clary dan Jace untuk mengingkari (mencoba) perasaan mereka, Simon yang menjadi korban dari pengingkaran tersebut, tentu saja (tapi rupanya simon punya hal lain yang perlu di khawatirkan selain Clary), Alex yang bimbang untuk mengakui kebenaran... Seru..... 

Tema yang seharusnya biasa saja, semua tertutupi oleh dalamnya (ruwetnya) konflik yang timbul diantara para tokoh, Kesinisan Jace tentu saja selalu menjadi "angin segar" dalam setiap percakapan,sehingga kita tidak akan bosan membacanya, ketajaman Clare dalam meramu konflik juga patut diacungi jempol karena pembaca disuguhi alur yang cepat sehingga walaupun buku ini memiliki 600 halaman lebih, pada akhir buku ini kita akan tetap merasa bahwa jumlah halaman nya terlalu sedikit :) 

Saya telah membuktikannya, saya membaca habis buku ini hanya dalam waktu 2 hari, pada hari kerja, yang mana pada hari kedua saya harus tidur pada jam 2 malam karena tidak bisa berhenti membaca) Penasaran...... 

Di buku kedua ini Clare tidak menyajikan kejutan, seperti buku pertama, di buku ini Clare lebih banyak mengungkap tentang apa dan bagaimana kekuatan sebenarnya dari Clary dan Jace, yang rupanya bukan hanya sekedar Pemburu Bayangan biasa. Konflik batin antara Jace dan Valentine yang akhirnya mencapai puncak kejelasan. 

Perjuangan Clary untuk menyembuhkan Ibunya, perjuangan Simon untuk menerima jati diri barunya, seperti biasa tetap di jabarkan dengan alur yang cepat. 

Di akhir buku ini, saya masih tidak bisa menerka bagaimana Clare akan mengurai kekusutan yang terbentuk di buku ke tiganya Tidak sabar.... Ingin membeli buku ketiganya...... 

Bagi Penggemar Mortal Instrument mustahil untuk melewatkan buku ini karena Misteri, Teka-teki,dan kisah cinta akan terus berlanjut. Penggemar buku bergenre fantasy (yang telah sembuh dari pengaruh mantra dasyatnya Harry Potter ataupun yang telah lepas dari cengkraman Edward Cullen) bersiaplah untuk kembali terpesona oleh jaring-jaring rune yang ditebarkan oleh Jace... percayalah anda tidak akan menyesal karena telah terperangkap.. :).

You Might Also Like

0 Comments